Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

artikel

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Pertumbuhan Perbankan Syariah Jabar Baru 4,97 Persen

    http://jabarprov.go.id/assets/images/artikel/gambar_art388.jpg

    Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KpW) Jawa Barat, Wiwiek Sisto Widayat mengungkapkan, pertumbuhan perbankan syariah dibandingkan dengan perbankan konvensional di Jawa Barat hanya 4,97 persen, meskipun pernah naik 5,01 persen tapi di dalam waktu singkat kembali mengalami penurunan. 

    "Pernah tumbuh 5,01 persen tetapi kemarin turun lagi. Ini artinya perbankan syariah kurang progresif,"kata Wiwiek usai menemui Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di gedung Sate Bandung, Selasa (5/9/2017)

    Pertumbuhan perbankan syariah secara nasional  hanya 10 persen bila dibandingkan dengan perbankan konvensional. Bahkan sistem keuangan syariah baru mencapai 4,5-5 persen dibandinkan dengan sistem keuangan konvensional.

    "Jika dibandingkan antara perbankan syariah dengan konvensional dalam perekonomian nasional, jumlah perbankan syariah baru 10 persen bila dibandingkan perbankan konvensional,"kata  Wiwiek kepada wartawan di Bandung, Senin (4/9) kemarin.

    Wiwiek menilai, meski loan to financing rationya  sudah di atas 101 persen  tetapi lebih banyak kredit konsumsi sedangkan untuk kredit investasi dan modal kerjanya  masih negatif. 

    "Ini yang saya khawatirkan ketika bertemu dengan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), kenapa kondisi perbankan syariah ini dari waktu ke waktu bukanya tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan konvensional tetapi malah melambat,"jelas Wiwiek 

    Dia megaku mendapat keluhan dari  Asbisindo yang mendapatkan dana lebih mahal dibandingkan dana yang didapatkan oleh perbankan konvensional sehingga mereka menggulirkan kepada nasabah menjadi lebih mahal. 

    Faktor lainya, perbankan syariah sulit mendapatkan nasabah yang sifatnya investasi. Oleh karena itu, mereka lebih banyak kepada konsumsi terutama kepada nasabah yang umumnya mereka kenal. 

    "Itu yang menyebabkan prestasi perbankan syariah menurun,"ujarnya

    Selain itu, kredit untuk pembiayaan investasi mengalami penurunan sejalan dengan pembiayaan untuk modal kerja yang mengalami trend negatif. Jika kondisi ini terus terjadi, maka dipastikan keinginan untuk menaikan pangsa perbankam syariah tidak akan tercapai terlebih kondisi perekonomian di tanah air tidak semakin membaik sehingga dikhawatirkankan akan semakin berkurang pangsa terhadap perbankan maupun ekonomi syariah. 

    "Kalau kondisi ini terus terjadi maka yang kita inginkan bahwa pangsa perbankan syariah semakin naik itu mustahil bisa tercapai,"tegasnya

    Bank Indonesia sudah melakukan berbagai upaya umtuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah. Salah satunya mengembangkan instrumen perbankan syariah. Bahkan, Bank Indonesia pusat di Jakarta telah dibentuk divisi khusus yang menangani perekonomian syariah termasuk perbankan syariah. 

    "Perhatian BI terhadap perbankan syariah cukup besar sampai membentuk divisi khusus untuk menangani perbankan dan perekonomian syariah,"tegasnya. 

    Sementara dari sektor perusahaan yang meminta ada pengecualian namun Wiwiek menuturkan pihaknya kesulitan menentukan pengecualian dalam mendapatkan dana khusus bagi perbankan syariah.

    Dia mencontohkan seperti dana haji yang tidak bisa dilarang jika disatukan ke perbankan konvensional
    Dari sisi regulasi akan menemui kendala. 

    "Misalnya dana khusus untuk perbankan syariah kan enggak bisa kita, kawan-kawan perbankan syariah  harus  berkompetisi dengan perbankan untuk mendapatkan dana lainya,"tuturnya

    Lebih jauh Wiwiek menambahkan, BI akan terus mengembangkan beberapa instrumen produk perbankan syariah terutama instrumen di pasar uang karena perkembangannya masih di bawah perkembangan pasar uang konvensional. Jika di perbankan konvesional sudah maju dan memiliki banyak repo dan penjualan langsug antar bank .

    "Sedangkan di syariah hanya instrumen yang disampaikan kepada BI seperti sertifikat Bank Indonesia,"pungkasnya. (MAT)

           
           

    Artikel Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus