Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Perpustakaan Desa Winduraja Mengejar Pembaca

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_12689.jpg

    BANDUNG- Perpustakaan Desa (Perpusdes) Winduraja Membaca, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis memiliki sejumlah kegiatan yang patut dicontoh oleh perpustakaan-perpustakaan desa lainnya di Jawa Barat. Salah satunya mengejar pembaca di pusat keramaian dan wilayah terpencil.

    “Setiap hari Minggu kami melakukan kegiatan kejar membaca di area Car Free Day (CFD) Kecamatan Kawali. Di area CFD itu kami menyediakan buku-buku bacaan untuk semua kelompok usia. Tujuannya agar masyarakat dapat meningkatkan budaya bacanya dengan tidak terbatas pada ruang dan waktu, karena membaca adalah cara pintar untuk pintar,” kata Rapdi Almas Atsalist, Ketua Harian Perpustakaan Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, dalam suatu kegiatan Workshop di Gedung Perpustakaan Deposit Bapusipda Provinsi Jawa Barat, Jalan Soekarno Hatta Nomor 629, Kota Bandung, belum lama ini kepada jabarprov.go.id.

    Rapdi menjelaskan, Perpustakaan Desa Winduraja Membaca selama ini menempati sebuah madrasah yang berlokasi di Jalan Raya Kawali-Cirebon RT 02 RW 03,Dusun Margajaya, Desa Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Meski sarana dan prasarananya masih, terbatas, namun para pengelolanya sangat bersemangat untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

    “Kami tidak hanya memberikan pelayanan membaca bagi masyarakat. Akan tetapi melakukan kegiatan-kegiatan lainnya yang bermanfaat yang mencapai 13 jenis,” kata Rapdi.

    Kegiatan-kegiatan tersebut yaitu menyelenggarakan kelas melukis, menulis dan dongeng, pelestarian budaya dan permainan tradisional, beternak aneka ikan, ayam ketawa, ayam pelung dan ayam kampong, berkebun sayur mayor dan tanaman obat, keterampilan membuat aneka makanan ringan khas parahyangan, keterampilan membuat cenderamata berbahan dasar alam, keterampilan asah batu akik, kelas music dan perkusi barang bekas, pengenalan teknologi informasi dan komunikasi, club baca dan club olah raga serta menggelar berbagai lomba.

    Rapdi menjelaskan, Perpustakaan Desa Winduraja Membaca didirikan sekitar Februari 2015 oleh masyarakat Desa Winduraja yang peduli terhadap perpustakaan melalui musyawarah yang dihadiri kepala Desa, Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD), kepala dusun, ketua RW dan tokoh masyarakat.

    “Semangat mendirikan perpusdes Winduraja Membaca dengan melibatkan banyak pihak agar kehadirannya dapat memberikan manfaat untuk masyarakat melalui beragam kegiatan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpsutakaan,” katanya.

    Saat ini, Perpusdes Winduraja Membaca baru memiliki 1500 buah buku, satu buah computer, rak buku, tenda baca dan karpet bersumber dari bantuan masyarakat.

    “Bangunan madrasah yang diperuntukkan bagi Perpusdes Winduraja Membaca kondisinya saat ini, harus diperbaiki,” katanya.

    Agus Munawar, fasilitator program Perpuseru Coca Cola Foundation Indonesia menilai kegiatan kejar pembaca di pusat keramaian dan wilayah terpencil yang dilakukan oleh Perpusdes Winduraja Membaca patut dicontoh oleh perpustakaan-perpustakaan desa lainnya. Kegiatan tersebut merupakan solusi nyata mendekatkan buku dengan masyarakat untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

    “Berdasarkan penelitian, minat baca masyarakat kita itu rendah. Kita harus melakukan aksi nyata, harus memberikan solusi dengan berbagai hal yang paling mudah dan paling mungkin dilakukan.  Yang paling sederhana yang kita lakukan adalah agar buku dekat dengan masyarakat, kemudian masyarakat jadi melek baca,” kata Agus Munawar kepada jabarprov.go.id.

    Anggota BPD Winduraja, Yoga Nurwanliyana mengatakan, kehadiran Perpusdes Winduraja sangat bermanfaat bagi masyarakat. Semangat membaca masyarakat kian hari kian meningkat. Hal tersebut terbukti dengan semakin banyaknya masyarakat yang membaca di Perpusdes Winduraja.

    “Ilmu-ilmu pengetahuan hasil membaca di Perpustakaan diterapkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Misalnya ilmu berkebun sayur mayur dan ilmu-ilmu tentang cara memproduksi makanan khas parahyangan. Hasil produksinya itu kemudian dijual,” katanya. (enal)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus