Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Tenggang Rasa Menghadapi Kemungkinan Beda Hari Lebaran

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_13219.jpg

    CIMAHI- Sejumlah masyarakat di Kota Cimahi menyatakan, tidak ada masalah bila terjadi kemungkinan adanya perbedaan dalam penetapan Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriyah.

    “Bagi saya tidak ada masalah, karena pada tahun-tahun sebelumnya juga pernah terjadi perbedaan penetapan hari lebaran Idul Fitri,” kata Ustadz Ahmad Dadang, DKM Al-Iklas, Kelurahan Melong, Kecataman Cimahi Selatan, Kota Cimahi ketika dimintai pendapatnya oleh jabarprov.go.id, Kamis (16/7).

    Karena sudah terbiasa, menurut Ustadz Ahmad, maka masyarakat di lingkungannya, saling menghargai satu sama lainnya apabila ada perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri.

    Ahmad menjelaskan, Ormas Islam Muhammadiyah telah menetapkan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriyah jatuh pada Hari Jum’at tanggal 17 Juli 2015. Sedangkan Pemerintah baru akan melakukan sidang isbath penetapan Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriyah pada Kamis (16/7) sore.

    “Dalam penetapan 1 Syawal atau Idul Fitri, ada dua metode, yaitu metode Hisab atau menghitung dan Ru’yat atau melihat. Kita ikuti saja yang sesuai dengan keyakinan kita,” katanya.

    Hal senada juga dikatakan oleh Haji Dadang Ruhiyat, salah seorang jamaah Masjid Sindangsari, Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan. Haji Dadang pun mengatakan bahwa masyarakat kita sudah bisa memahami apabila terjadi perbedaan dalam penetapan 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri.

    “Tapi, lebih baik memang ada kesamaan dalam penetapan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1436 Hijriyah ini,” katanya.

    Menurut  Haji Dadang, kemungkinan terjadinya perbedaan dalam penetapan Hari Raya Idul Fitri, karena adanya perbedaan dalam menafsirkan kata Ru’yat dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Satu pihak menafsirkannya atau memaknainya dengan ru’yat bil aeni, melihat dengan indrawi atau melihat dengan mata kepala kita langsung dalam melihat hilal. Pihak lain menafsirkannya atau memaknaiknya dengan Ru’yat bil aqli, melihat dengan akal pikiran.

    “Kalau terjadi perbedaan, inilah wilayah toleransi, wilayah tenggang rasa. Bagi yang ber Idul Fitri besok (Jum'at 17/7) tidak perlu menghina yang belum ber Idul Fitri, misalnya mengatakan haram berpuasa. Bagi yang belum ber Idul Futri besok dan menambah satu hari, tidak usah bilang kepada yang ber Idul Fitri, wah puasa kamu kurang,” katanya. (enal)

     

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus