Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Penyaluran Kredit UMKM 2011 Ditarget Tumbuh 30%

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/logo_bank_indonesia3.jpg

    Bandung – Kantor Bank Indonesia (KBI) Bandung menargetkan penyaluran kredit bagi kalangan usaha mikro kecil menengah (UMKM) oleh pelaku perbankan di Jabar pada 2011 tumbuh hingga 30%. Pertumbuhan yang ditargetkan lumayan besar karena tahun 2010 lalu dianggap penyalurannya masih kecil.

    Pemimpin Kantor Bank Indonesia Bandung Lucky Fathul Aziz mengatakan komposisi kredit UMKM perbankan di Jabar per November 2010 baru berkisar 30% atau nominalnya Rp38,9 triliun dibandingkan dengan total pinjaman Rp127,71 triliun.

    “Komposisi kredit UMKM di Jabar masih terlalu kecil, bahkan masih di bawah nasional yang sudah di atas 56%,” katanya, saat jamuan makan malam dengan pelaku perbankan di KBI Bandung, Rabu malam kemarin.

    Dia mengatakan realisasi pinjaman untuk pelaku usaha di Jabar masih terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah UMKM yang ada. Terlebih lagi
    data outstanding penyaluran kredit UMKM yang ada selama ini masih tercampur antara pinjaman untuk kredit produktif dan konsumtif.

    “Harus dipilah lagi dari Rp38,9 triliun itu, berapa yang benar-benar tersalurkan untuk pinjaman produktif dan konsumtif,” katanya.

    Dia mengatakan masih tercampurnya antara pinjaman konsumtif dan produktif membuat rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) UMKM tinggi.

    Data bank sentral mencatat NPL kredit UMKM di Jabar per November 2010 mencapai 6,22%, atau lebih tinggi dibandingkan dengan NPL pinjaman secara keseluruhan sebesar 3,69%.

    “Tingginya NPL kredit UMKM bisa menjadi alasan bank sedikit menahan penyaluran pinjaman tersebut,” katanya.

    Berdasarkan analisa BI Bandung beberapa hal yang menyebabkan NPL kredit UMKM tinggi antara lain lemahnya pemasaran produk, ketergantungan bahan baku impor dan iklim usaha yang tidak kondusif.

    Dia mencontohkan bisnis pedagang pasar tradisional di Bandung menjadi terganggu karena banyak pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di depan pasar. Hal ini pada akhirnya akan mengganggu usaha pedagang yang berjualan di dalam pasar.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus