Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Tegakkan Hukum Lingkungan, Berjuanglah Dengan Gembira

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_18578.jpg

    KARAWANG-Lingkungan hidup, kini bisa menjadi sumber bencana, namun sekaligus bisa juga jadi sumber kebarokahan. Berbagai kerusakan, ataupun gangguan ekosistem semakin sering kita rasakan. Penambangan tidak teratur, alih fungsi lahan tidak terkendali, pabrik yang tidak mengendalikan limbahnya, semuanya menyumbang kerusakan pada alam.

    "Berbicara sungai misalnya, berarti berbicara juga mengenai wajah peradaban kita. Jadi kalau sungai kita hancur, itulah wajah peradaban kita, itulah wajah kita," kata Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar pada kegiatan Kongres Sungai Jawa Barat Ke-1, di Kampung Budaya Karawang, Teluk Jambe, Kabupaten Karawang, Sabtu (06/08/16).

    Untuk itu, berjuang demi 'menyelamatkan wajah' generasi kedepan perlu terus diupayakan. Membangun komunikasi yang baik antar stakeholder, dan mengupayakan penegakan hukum lingkungan yang seadil- adilnya merupakan upaya yang tidak semudah membalikan telapak tangan. Kekecewaan kerap datang ditengah-tengah perjuangan tersebut.

    "Kita berjuang untuk menyelamatkan generasi yang akan datang, bukan untuk menunjukan siapa yang jadi pahlawan. Mari kita berjuang dengan riang gembira," kata Deddy memotivasi para pegiat lingkungan.

    "Banyak kekecewaan kita dalam proses penegakan hukum lingkungan, tapi kita tidak boleh berhenti, perjuangkan terus!" serunya.

    Menurut Deddy, kerusakan lingkungan di Jawa barat sudah cukup kritis. Di berbagai tempat telah terjadi kerusakan, seperti Garut yang rusak karena galian pasir ilegal di kawasan Gunung Guntur, tanah longsor yang kerap terjadi di Jawa Barat bagian selatan, pertambangan ilegal batu kapur di Kecamatan Pangkalan Karawang, merupakan sejumlah contoh kerusakan alam akibat ulah manusia.

    "Kita boleh membangun peradaban. Membangun peradaban bukan berarti merusak alam," katanya.

    Selain itu kata Deddy, pembangunan infrastruktur dan pembangunan industri yang masif, juga mempengaruhi kerusakan lingkungan. Salah satu indikator kerusakan alam menurut dia diantaranya, ketika musim kemarau, sejumlah daerah mengalami kekeringan. Sementara saat musim penghujan, sejumlah daerah menjadi daerah rawan banjir dan longsor.

    Dari bidang perkebunan, sejumlah wilayah hutan yang asalnya ditanam pohon tegakan, banyak yang beralih fungsi menjadi lahan sayur. Beberapa kawasan karst pun yang merupakan daerah resapan air juga ikut dieksploitasi. Sehingga penegakan RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) di Kabupaten/ Kota pun perlu distimulus untuk ditegakkan agar juga 'pro alam'.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus