Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Heryawan Minta Masalah Gizi Buruk Segera Diatasi

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/GUBERNUR-ONFACE.jpg

     

    BANDUNG-Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan pihaknya menaruh perhatian khusus terhadap masalah gizi pada anak-anak. Apalagi saat ini sekitar 11,5 persen bayi yang lahir di Jawa Barat memiliki berat badan kurang dari 2.500 gram. Atau setidaknya ada sekitar 7.000 bayi yang memiliki berat badan rendah. Kondisi bobot yang kurang itu sangat rentan terhadap gizi buruk. Untuk itu upaya terus dilakukan guna meningkatkan kualitas bayi yang lahir dengan cara mengoptimalkan program pemberdayaan perempuan dan keluarga berencana. Melalui pendekatan keluarga diharapkan tumbuh kesadaran pentingnya asupan gizi bagi ibu dan anak. Tidak hanya itu, sekitar 5000 bidan akan disebar ke daerah rawan gizi di Jawa Barat.

    “Akibat bobot lahir bayi yang kurang berakibat pada kualitas hidup dimasa mendatang.Untuk itu peran perempuan dalam membangun kualitas keluarga sangat penting. Sehingga menjadi sangat penting melibatkan perempuan dalam pembangunan manusia Jawa Barat yang berkualitas. Peran dan dukungan semua pihak juga diperlukan demi kemajuan Jawa Barat di masa mendatang,” tegas Heryawan di Gedung Negara Pakuan Bandung, Minggu (20/3). Menurutnya dukungan semua pihak juga diperlukan sehingga ke depan masalah tersebut dapat diatasi secara komprehensif dan terintegrasi dalam kebijakan lintas sektoral.

     Lebih lanjut Heryawan berharap perhitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2010 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan kenaikan angka Indeks Kesehatan Jawa Barat. Harapan itu harus diwujudkan dengan kerja keras semua pihak. Diantaranya keseriusan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mengalokasikan anggaran kesehatan tahun 2011 sebesar 7,56 persen dari APBD atau setara dengan Rp 743,75 miliar lebih. “Jumlah tersebut meningkat  Rp 414,51 miliar lebih atau 125,9 persen dari alokasi tahun 2010 yang hanya Rp 329,24 miliar,” tuturnya. Dan diharapkan pada tahun 2012 alokasinya mencapai 10 persen dari total APBD sesuai amanat UU No.36/2009 tentang Kesehatan.

    Senada dengan itu, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat Netty Prasetiyani Heryawan menyatakan masalah kesehatan ibu dan anak, tidak hanya menjadi peran sentral kaum perempuan, tapi juga kaum laki-laki. Menurutnya keberadaan keluarga yang sehat dan kuat adalah perpaduan peran perempuan dan laki-laki. Mereka harus bisa menjalankan fungsi dan tugasnya dengan baik dan bertanggungjawab. “Sehingga pada akhirnya, kualitas kesehatan anak merupakan wujud dari keterpaduan tanggungjawab keluarga yang dilaksanakan kaum perempuan dan laki-laki,” ujarnya pada acara Workshop Penguatan Peran dan Fungsi Kelembagaan Keluarga Berencana di Daerah belum lama ini di Kantor Bappeda Jawa Barat.

    Sementara Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Alma Lucyati menyatakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah melakukan langkah terobosan guna meningkatkan kualitas kesehatan bayi yang lahir. Menghadapi masalah tersebut, pemprov telah nmelaksanakan program pemberdayaan perempuan dan keluarga berencana. Menurunya, program tersebut dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan sumberdaya manusia yang sehat dan berkualitas. “Jumlah balita yang mengalami gizi buruk pada 2010 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2009,” jelasnya.

    Menurut Alma pada 2009 jumlah balita yang mengalami gizi buruk sekitar 0,96 persen dari jumlah balita yang lahir, yakni sekitar 1 juta balita. Sedangkan, di 2010 jumlah balita yang mengalami gizi buruk turun menjadi 0,93 persen. Dia menambahkan, ada beberapa daerah di Jabar yang rawan kasus balita gizi buruk. Yaitu Karawang, Sukabumi, Cianjur, Garut, Sumedang, Majalengka, Kuningan, dan Cirebon. Dinkes Jawa Barat sendiri, menargetkan pada 2015 angka masalah kurang gizi di Jabar bisa ditekan menjadi 15 persen dan kondisi saat ini sekitar 23,3 persen. “Butuh dukungan partisipasi warga dengan segera melaporkan masalah tersebut ke puskesmas terdekat,” ujarnya.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus