Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Posisi Tawar Sawit Indonesia Perlu Diperkuat

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_19524.jpg

    BANDUNG-Sustainable Palm Oil Program Manager di WWF Indonesia, Putra Agung, dalam rilis yang diterima jabarprov.go.id, Selasa (11/10) mengungkapkan bahwa proses penguatan ISPO harus dipandang sebagai kesempatan meningkatkan posisi tawar sawit Indonesia ketimbang produksi negara lain.

    "Indonesia harus jeli melihat komponen penting yang harus ada untuk memastikan ISPO menjadi sertifikasi yang diakui di Indonesia maupun di pasar global,” ungkapnya. 

    Salah satu komponen penting yang diidentifikasi oleh SPKS adalah adanya pemantauan independen, baik dari masyarakat sipil maupun pemantau pasar. Pemantauan Independen akan menjaga akuntabilitas dari ISPO sehingga pada akhirnya akan meningkatkan keberterimaan kepada ISPO.

    Indonesia sendiri punya contoh Sistem Verifiikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang dilengkapi instrumen pemantau independen. Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) menjadi kelompok masyarakat sipil yang diakui oleh pemerintah dan memantau pelaksanaan dari system SVLK tersebut. Hal ini dipandang berhasil dan efisien demi menjamin transparansi dalam proses sertifikasi.

    “Kami tidak sepakat dengan anggapan bahwa pemerintah perlu berhati-hati dalam memasukkan pemantau independen dalam struktur kelembagaan ISPO. Sudah banyak contoh sertifikasi lain yang lebih dipercaya karena adanya pemantau independen,” kata Putra.

    Demi memastikan kesiapan para anggotanya untuk sertifikasi dan melaksanakan praktik berkelanjutan, SPKS telah memimpin dan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan dengan fokus mengenal petani lebih baik lewat pengumpulan data sosial & ekonomi dan pemetaan partisipatif. Salah satunya adalah upaya penyeragaman mekanisme pengumpulan data terkait petani melalui konsorsium ‘Sahabat Petani Sawit’ yang melibatkan lebih dari sepuluh organisasi yang mendukung terwujudnya petani sawit secara berkelanjutan.

    Hingga akhir September 2016, SPKS telah berhasil mengumpulkan data sosial & ekonomi serta peta area kebun (polygon) untuk lebih dari 2000 petani melalui metode partisipatif. Dari data tersebut, SPKS sedang menganalisa dan menyimpulkan masalah kunci yang dihadapi petani di area tersebut serta merangkumnya dalam bentuk rekomendasi kebijakan.

    Penguatan ISPO kedepannya dapat memanfaatkan upaya-upaya yang telah berjalan di lapangan untuk merancang sertifikasi dengan posisi tawar dan keberterimaan yang tinggi oleh berbagai multipihak dengan tidak mengesampingkan aspek-aspek keberlanjutan.

    Putra Agung, dalam bagian lain keterangannya memaparkan, Indonesia merupakan negara penyedia 52% dari pasokan sawit dunia dengan luas areal sebesar 11,4 juta ha. Sawit merupakan komoditas yang penting bagi Indonesia. Sekitar 40% dari produksi sawit di Indonesia dihasilkan dari perkebunan kecil rakyat yang dikelola oleh petani sawit, dengan rata-rata produksi antara 12-14 ton /ha/tahun.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus