Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Aher Paparkan Manajemen “Water Value Chain”

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_20135.jpg

    BANDUNG–Bertindak sebagai keynote speaker atau pembicara utama pada 1st International Conference on Interdisciplinary Academic Research and Inovation atau IARI 2016, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) memaparkan mengenai pentingnya pemeliharaan kualitas atau nilai air berdasarkan pendekatan rantai nilai air dari hulu hingga hilir atau Water Value Chain di hadapan para akademisi dari 11 negara.

    Seminar ini digelar oleh Universitas Komputer Indonesia (Unikom) bekerjasama dengan Global Illuminators (GI) di Auditorium Kampus Unikom, Jl. Dipatiukur No. 112 – 116, Kota Bandung, Rabu (23/11/16). GI merupakan jaringan internasional yang memfasilitasi pengembangan penelitian dan pengembangan inovasi melalui pendekatan penelitian akademik.

    Menurut Aher, pemeliharaan kualitas air harus dilakukan mulai dari sumber (hulu) – tengah – hingga ke hilirnya. Untuk itu, manajemen kualitas air tidak hanya dilakukan seperti apa yang diterapkan saat ini, yaitu manajemen pemeliharaan hanya dilakukan di tempat pengelolaan air.

    “Air itu kan ultraessential, barang yang paling amat sangat berharga. Hidup hampa, akan rusak tanpa air. Oleh karena itu, rantai nilai air harus dijaga dan kita harus komitmen soal itu. Jangan sampai air banyak tapi nilai airnya rusak, akibatnya kita tidak bisa menggunakan air dengan banyak,” ungkap Aher usai dirinya menjadi pembicara.

    “Oleh karena itu, pendekatanya tidak lagi water management. Seperti, air lalu diproses atau dibersihkan, tapi kita harus lebih dari itu. Jadi pendekatannya menggunakan water value chain-nya harus mulai dari hulu – tengah – hilir perlu diurus dengan baik, sehingga air mulai dari hulu hingga hilir sama baiknya, sama nilainya, sama bersihnya, dan sama kualitasnya,” lanjutnya.

    Lebih lanjut, Aher menjelaskan melalui pendekatan ini akan berdampak pada murahnya air untuk konsumsi masyarakat maupun industri. Karena menurutnya, pemeliharaan sudah dilakukan secara alamiah. Hal ini pun menjadi upaya dari Pemprov Jawa Barat melalui sosialiasi kepada masyarakat dan industri di sekitar Sungai Citarum melalui gerakan 5 (lima) Tidak, yaitu: Tidak menebang pohon, Tidak membuang limbah ternak, Tidak membuang limbah rumah tangga, Tidak membuang sampah, dan Tidak membuang limbah industri.

    “Air akan melimpah kalau dipelihara semenjak dari hulu hingga hilirnya. Ketika tidak dipelihara air menjadi sangat mahal, biaya pemeliharaannya, pengolahannya akan menjadi sangat mahal,” tutur Aher.

    “Kita sudah mulai melakukan pendekatan ini melalui Citarum Bestari (Bersih, Sehat, Indah, dan Lestari). Yaitu mengkampanyekan kepada masyarakat untuk tidak membuang apapun ke sungai. Tidak membuang limbah rumah tangga, ternak, industri, atau sampah apapun ke sungai. Kalau itu kita lakukan air akan tetap bersih,” paparnya.

    Melalui seminar internasional ini, Aher pun berharap ada kontribusi dari para ilmuwan bagaimana manajamen water value chain ini bisa diterapkan oleh masyarakat. Untuk itu, perlu ada edukasi dan sosialiasi yang diberikan oleh para ilmuwan kepada masyarakat.

    “Ilmuwan harus berperan untuk mengedukasi masyarakat melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya air. Air itu barang ultraessential, bukan sekadar essential. Tapi amat sangat sangat sangat penting. Kehidupan ini tidak ada tanpa adanya air, sekarang banyak penyakit gara-gara air kan,” pungkas Aher.

    Semenatara itu, International Conference on Interdisciplinary Academic Research and Inovation atau IARI ini digelar sebagai proses pembelajaran bagi para akademisi atau dosen, agar penelitian yang telah dilakukan tidak hanya sebagai laporan, namun dapat dibaca oleh orang lain dalam skala internasional.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus