Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Eksplorasi SDA Untuk Meningkatkan Pembangunan

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_20804.jpg

    BANDUNG-Pada paradigma eksplorasi untuk konservatif, eksplorasi sumber daya alam (SDA) lebih ditekankan pada pengoptimalisasian sumber daya tersebut untuk meningkatkan keuntungan demi pembangunan berkelanjutan yang berpilar pada pertumbuhan (pro-growth), mengurangi kemiskinan (pro-poor), memberikan lapangan kerja (pro-job), dan memperhatikan keseimbangan lingkungan (pro-environment).

    Hal itu disampaikan oleh Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc, Ph.D saat membacakan Orasi Ilmiah berjudul “Eksplorasi Sumber Daya Geologi: Eksploitasi dan Konservasi untuk Pembangunan yang Berkelanjutan” di Unpad Bandung, Selasa (10/1).

    “Sehingga, sumber daya alam tersebut juga dilihat fungsinya sebagai warisan alam yang bernilai, jadi perlu dilindungi,” ujar Prof. Mega.

    Prof. Mega pun mengungkapkan bahwa salah satu upaya konservasi SDA yang saat ini sedang mulai digiatkan di berbagai belahan dunia adalah melalui penetapan kawasan “Taman Bumi” atau Geopark yang diakui oleh PBB melalui International Geoscience and Geoparks Programme (IGP) di bawah UNESCO.

    Geopark adalah sebuah model pengelolaan keragaman geologi, hayati, dan budaya secara holistik untuk kepentingan konservasi, edukasi, dan pertumbuhan perekonomian yang berkelanjutan dengan menyertakan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.

    Menurut Prof. Mega, peranan seorang ahli geologi eksplorasi dalam penetapan kawasan geopark menjadi hal penting, dimana hasil eksplorasi SDA tersebut perlu dilakukan identifikasi, karakterisasi, klarifikasi, dan evaluasi, serta menetapkan urutan (ranking) sumber daya geologi untuk kepentingan utilisasi, konservasi, dan proteksi.

    “Ciletuh Palabuhan Ratu Geopark adalah contoh pengelolaan kawasan yang memiliki potensi keragaman geologi yang sangat terkemuka dan keragaman hayati yang ada di atasnya, serta keragaman budaya masyarakat yang tinggal di dalam kawasan tersebut,” ujar Prof. Mega.

    Kawasan Ciletuh Palabuhan Ratu yang dahulu hanya dikenal oleh para calon dan ahli geologi, secara berangsur telah berubah menjadi kawasan geowisata yang berbasis konservasi, edukasi, dan pendidikan berkelanjutan, yang melibatkan regulasi dari pemerintah daerah dan pusat, pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat. Jo

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus