Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Katarak Picu Gangguan Penglihatan dan Kebutaan di Dunia

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_21176.jpg

    BANDUNG-Katarak ditengarai menjadi penyebab sebagian besar gangguan penglihatan dan kebutaan di dunia, termasuk di Indonesia. 

    Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) mengatakan berdasarkan hasil survey kebutaan di Indonesia yang dikembangkan oleh International Center of Eye Health (ICEH) dan direkomendasikan oleh WHO melalui metode Rapid Assasment of Avoidable Cataract (RAAB), memberikan gambaran situasi aktual dan data akurat prevalensi kebutaan serta gangguan penglihatan. 

    Survei yang dilakukan di 15 Propinsi Indonesia pada populasi usia ≥ 50 tahun, mendapatkan angka prevalensi kebutaan tertinggi sebesar 4,4, persen di Jawa Timur dan terendah sebesar 1,4 persen Sumatera Barat, yang mana sebanyak 64 hingga 95 persen disebabkan oleh katarak. 

    "Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara tropis yang mendapatkan pancaran sinar ultraviolet (UV) lebih banyak, sehingga mempengaruhi daya tangkap mata," katanya kepada wartawan di Bandung, Minggu (5/2/2017)

    Diperkirakan, lanjut Menkes, setiap tahun kasus baru buta katarak akan selalu bertambah sebesar 0,1 persen dari jumlah penduduk atau kira-kira 250.000 orang/tahun. Oleh sebab itu, operasi adalah tindakan yang paling tepat dan cepat untuk menanggulangi buta akibat katarak. Caranya yaitu dengan mengangkat lensa yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan sehingga penglihatan dapat kembali normal. Operasi ini tidak memakan biaya yang terlalu mahal dan telah masuk ke dalam skema jaminan kesehatan nasional (JKN) yang dijalankan oleh BPJS Kesehatan.

    Nila mengungkapkan kebutuhan operasi katarak di Indonesia lebih kurang 240 ribu orang setiap tahunnya. Sementara itu, kemampuan untuk melakukan operasi katarak diperkirakan baru mencapai 180 ribu/tahun sehingga setiap tahun selalu bertambah backlog. 

    Menurutnya, besarnya backlog katarak disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah karena akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan mata masih terbatas terutama di  daerah-daerah tertinggal, perbatasan dan  kepulauan yang belum memiliki fasilitas pelayanan kesehatan dan SDM kesehatan yang memadai, salah satunya keberadaan dokter spesialis mata. 

    "Jika kita tidak segera mengatasi backlog katarak ini maka angka kebutaan di Indonesia semakin lama akan semakin tinggi,"ujarnya.

    Nila menambahkan salah satu upaya yang dilakukan oleh Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung untuk mengurangi backlog katarak adalah dengan menambah kamar bedah yang pada hari ini diresmikan. 

    "Dengan bertambahnya kamar bedah, PMN RS Mata Cicendo Bandung dapat melakukan lebih banyak operasi katarak sehingga dapat mengurangi jumlah penderita katarak,” pungkasnya. (MAT)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus