Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Gelar Operasi Pasar, Bawang Putih Dijual Rp 25 Ribu

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_23409.jpg

    KOTA BOGOR-Guna memastikan stabilnya pasokan sembako pada bulan puasa, PD Pasar Pakuan Jaya melakukan operasi pasar. Hari ini, Selasa (6/6/2017), bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor, telah disupply sebanyak delapan ton bawang putih dengan harga Rp 25 ribu per kilo untuk konsumen dan Rp 23 ribu untuk pedagang.

    Dirut PD Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor Andri Latief menjelaskan, pada awal Ramadhan, harga bawang  putih sempat menyentuh angka Rp 46 ribu per kilo. Andri mengatakan, harga kebutuhan memang tidak dapat dikontrol, tetapi dengan operasi pasar, diyakini akan dapat dikendalikan. Terkait bawang putih, Andri menjelaskan pasokan bawang putih yang diterima dari supplier memang jumlahnya sedikit.

    “Secara umum harga kebutuhan dan ketersediaan harga bahan pokok relatip masih stabil. Kami juga intens melakukan koordinasi dengan pihak kementerian dan dinas terkait, Sejumlah sembako mengalami kenaikan akibat permainan ulah spekulan nakal. Namun berhasil dikendalikan,” kata Andri saat mengikuti Briefing Staff di lingkungan Pemerintah Kota Bogor. Rapat yang dipimpin Wali Kota Bogor Bima Arya digelar di Paseban Sri Bima, Balaikota Bogor, Selasa (6/6/2107).

    Lebih rinci Andri menjelaskan, menjelang dan hingga saat Ramadhan, harga bahan kebutuhan umumnya mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan meningkatnya permintaan. Selain itu ada juga permainan kotor para spekulan dalam menimbun barang-barang kebutuhan.

    “Bahkan pemerintah pusat saat menjelang Ramadhan 1438 H tahun 2017 telah melaksanakan video konferensi yang dipimpin langsung Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian didampingi beberapa menteri dengan para kepala daerah untuk mengantisipasi melonjaknya harga kebutuhan dan mencegah aksi para spekulan nakal,” papar Andri.

    Sedangkan untuk produk lain yang harganya masih cukup tinggi adalah Cabe Jablay atau Rawit Merah masih Rp 65 ribu per kilo. Harga itu,  lanjut Andri sudah turun dibanding awal Ramadhan sempat menembus angka Rp 100 ribu. “Harganya sempat mengalahkan harga daging,” ujar Andri.

    Harga daging lokal saat ini stabil bahkan cenderung turun di pasaran menjadi 110 ribu per kilo. Biasanya harga daging lokal mencapai 120 ribu. Sementara harga daging ayam relatif stabil. Berbeda halnya dengan gula yang khusus di pasar tradisional tidak bisa mengikuti ketentuan Menteri Perdagangan.

    “Untuk ketentuan Menteri Perdagangan di seluruh super market, ritel dan sebagainya tidak boleh lebih dari 12.500 per kilo. Jika lebih dari itu bisa langsung dilaporkan dan akan ditutup langsung oleh Pak Menteri. Hal ini menyebabkan para pengusaha ritel jadi “teriak” karena telah membeli ratusan ton dengan harga 13.100 per kilo tetapi Pak Menteri mewajibkan untuk menjualnya sesuai ketentuan. Berbeda halnya untuk pasar tradisional melepasnya kepada mekanisme pasar,” terang Andri.

    Untuk harga produk lainnya, menurut Andri relatif stabil. Seperti Cabai Merah masih Rp 40 ribu per kilo, harga ini menurutnya sudah turun dibanding saat periode Januari - Pebruari 2017. Hal ini tidak terlepas dari usaha Kepolisian Metro Jaya yang berhasil menangkap para spekulan nakal di Pasar Kramat Jati sebanyak tiga orang. Para pelaku menggunakan teknologi yang bisa membuat cabai tahan sampai dua bulan. Hal ini yang menyebabkan kelangkaan. Dan ketika langka, para pemain membanjiri pasar dengan harga yang cukup tinggi.

    Saat disinggung Bima terkait indikasi adanya pengoplosan daging celeng-sapi (Cepi), Andri menegaskan hasilnya negatif. Pada minggu lalu bersama Dinas Pertanian (Distani) dan Bagian Perekonomian Kota Bogor telah dilaksanakan inspeksi mendadak (Sidak) daging celeng-sapi (Cepi).

    “Pantauan daging cepi ini kita lakukan setiap hari. Laporan yang masuk langsung kita tindak lanjuti. Jika memungkinkan kita mengecek kualitas dan keaslian daging tanpa harus berpanjang birokrasi tapi langsung di lapangan, kalaupun berarti petugas dari dinas terkait harus sering ada di pasar,” pungkas Andri.(humas-eto)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus