Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Netty Heryawan Bakal Galakan Social Awareness

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_24265.jpg

    BANDUNG-Anak merupakan produk keluarga. Artinya apapun yang dilakukan oleh anak di dalam rumah tangga tidak lepas dari pola pengasuhan, interaksi dan komunikasi yang dilakukan oleh orang tua. Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) akan menggalakan Social Awareness.

    Hal itu diungkapkan Ketua P2TP2A, Netty Prasetyani Heryawan usai membuka acara Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional ke-24 dan Hari Anak Nasional Tingkat Provinsi Jawa Barat 2017 di SOR Arcamanik, Bandung, Minggu (30/7/2017)

    Komunikasi di dalam keluarga harus dibangun dengan baik dengan menciptakan suasana kehangatan, keterbukaan dan kebersamaan di dalam keluarga. Maka setiap masalah yang dihadapi anak pasti diketahui oleh orang tua. 

    "Setiap masalah anak pasti bisa didiskusikan apa yang menjadi solusi dan jalan keluarnya,"tuturnya

    Menurutnya, ada dua jenis orang tua yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pola pengasuhan yang benar dan baik. Begitu pun, ada jenis anak yang sebagian memiliki karakter introvert.

    "Sebetulnya anak yang introvert dengan keluarga tidak boleh ada sekat,"imbuhnya.

    Persoalannya, ketika anak-anak yang memiliki karekter tersebut mendapatkan pola pengasuhan dari keluarga maupun orang tua yang tidak peduli dan berempati terhadap permasalahan yang dihadapi anak.

    "Sehingga, ketika anak menghadapi permasalahan dia merasa tidak punya jalan keluar. Anak-anak ini merasa sendirian akhirnya memilih solusi yang gampang bahkan merugikan diri sendiri,"tuturnya. 

    Selain pengasuhan solusi bagi penanggulangan kepribadian anak yang introvert yang perilaku dibangun adalah sosial awareness. Ketika anak berada di lingkungan masyarakat, maka indikator tekanan atau depresi ini harus dibaca lingkungan sekitarnya.

    "Misalnya anak dari asalnya ceria menjadi pendiam, dari gembira menjadi sedih. Ini kemudian harus diidentifikasi oleh lingkungan sosial,"tuturnya. 

    Dengan momentum hari keluarga dan anak ini, sambung Netty, harus menjadi momentum bersama. "Anakku adalah anakmu, anakmu adalah anakku dalam konteks perlindungan,"tegasnya.

    Lebih jauh Netty menjelaskan, siapapun yang menemukan anak Indonesia bermasalah baik mendapatkan permasalahan fisik maupun psikologis harus memiliki kepedulian bersama untuk mengentaskan permasalahan anak.

    "Kita berharap mudah-mudahan berkumpulnya para orang tua maupun pejabat struk tural baik tingkat provinsi atau pusat, akan semakin memperkuat komitmen kita terhadap tumbuh kembang anak,"pungkasnya. (MAT)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus