Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Kesiapsiagaan, Bentuk Ketangguhan Masyarakat Terhadap Bencana

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_24463.jpg

    BOGOR-Berdasarkan data Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, terhitung sejak bulan Januari sampai dengan April 2017 tercatat, bahwa Jawa Barat telah mengalami 333 kali bencana, yaitu bencana tanah longsor sebanyak 136 kali, banjir 67 kali, angin puting beliung 58 kali, kebakaran 68 kali, gempa bumi 3 kali, dan gelombang pasang 1 kali.

    Adapun bencana tersebut telah menelan korban jiwa sebanyak 11 orang, 4 orang hilang atau belum ditemukan, 38.820 orang luka, dan mengungsi sebanyak 1.268 orang. Sedangkan kerusakan fisik berupa rumah, mulai dari kerusakan ringan hingga berat jumlahnya sebanyak 7.995 rumah, dengan kerugian diperkirakan mencapai 18 miliar rupiah.

    Berangkat dari hal-hal tersebut, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengajak masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan serta kesiapsiagaan terhadap segala kemungkinan bencana yang bisa terjadi.

    "Mengingat terjadinya bencana yang disebabkan oleh faktor alam atau non-alam merupakan peristiwa yang sulit untuk diperkirakan secara tepat dan pasti, maka kita harus tingkatkan kesiapsiagaan, terutama bagi yang tinggal di daerah rawan bencana," Ungkap Deddy Mizwar pada acara Halal Bihalal Potensi SAR Lintas Komunitas, di Mako Brimob Resimen II Pelopor Kedung Halang Bogor, Minggu (13/08/2017).

    Kesiapsiagaan, Kata Deddy, harus dilakukan dengan terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh, mulai dari tahap pra-bencana, pada saat terjadi bencana, sampai dengan pasca-bencana, termasuk dengan menambah dan memperkuat kampung-kampung Siaga Bencana, sehingga dampak risiko dapat diminimalisir.

    "Dengan demikian, kesiapsiagaan terkait sumber daya dan peralatan menjadi sebuah keniscayaan, agar kita semua dapat memberikan respon secara cepat dan tepat," sambung Deddy.

    Terutama, sambungnya, pada masa tanggap darurat atau 72 jam pertama yang meliputi pendataan secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan dan sumber daya, penentuan status keadaan darurat bencana, penyelamatan dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan kepada kelompok rentan, serta upaya pemulihan prasarana dan sarana vital.

    Maka selain peningkatan upaya kesiapsiagan, kepedulian terhadap lingkungan pun perlu terus disosialisasikan. Terlebih, kata Deddy, bila melihat Jawa Barat sebagai provinsi yang punya potensi tinggi untuk terjadinya bencana.

    “Dari 135 pergerakan tanah yang terjadi di Indonesia, 111 diantaranya terjadi di Jawa Barat,” ungkapnya.

    Oleh karnanya Deddy menuturkan, mengingat pula semakin bertambahnya jumlah penduduk, serta pembangunan yang pesat, maka pembangunan yang ada perlu memperhatikan daya dukung lingkungan.

    Deddy menambahkan, daya dukung lingkungan ditentukan oleh kapasitas alam dalam menyediakan sumber daya, dan ruang bagi kelangsungan hidup manusia serta makhluk lainnya, sehingga diperlukan kelestarian alam untuk menjaganya.

    Karenanya ujar Deddy, dengan tingginya potensi bencana alam di Jawa Barat, ditambah dengan pertumbuhan  penduduk serta pembangunan yang pesat, maka menjaga alam demi terbentuknya daya dukung lingkungan yang baik, perlu diusahakan semua pihak. Sehingga potensi terjadinya bencana akibat efek pembangunan dapat setidaknya diminimalisir.

    "Sudah daerah bencana tinggi, kita jangan mengabaikan daya dukung lingkungannya," ujar Deddy

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus