Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Kebutuhan Konsumsi Kopi di Jabar Capai 90 Ribu Ton

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_25246.jpg

    BANDUNG- Kebutuhan masyarakat Jawa Barat akan konsumsi kopi mencapai 90 ribu ton setiap tahun. Pola konsumsi kopi ini tidak seimbang dengan jumlah produksi kopi di Jabar.

    Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Provinsi Jawa Barat, Arief Santosa menjelaskan untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pihaknya akan memperluas lahan tanam kopi.

    Hal itu sesuai dengan program Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan dengan memberikan bibit benih kopi yang bisa memperluas tanam dengan menanam 5,4 juta pohon selama 4 tahun dan tahun ini rencananya akan menanam 5 juta benih yang diprakarsai dengan dibagikan oleh Pak Gubernur sampai akhir tahun 2017.

    "Konsumsi kopi per kapita 1,2 kg per tahun dengan jumlah penduduk Jabar sekitar 45 juta jiwa berarti kebutuhan kita mencapai 90 ribu ton lebih sedangkan kemampuan produksi kita 50 ribu ton per tahun," katanya kepada wartawan di Bandung, Senin (9/10/2017).

    Arief menyebutkan adanya penanaman seribu pohon berarti mampu menambah luas tanam kopi sekitar 5 ribu hektar sehingga perimbangan antara kebutuhan dan kemampuan produksi Jabar bisa mencukupi.

    "Alhamdulillah, Pak Kadivre Perhutani Jabar Banten sudah membuka diri, silahkan memperluas tanam kopi," ungkap Arief.

    Meskipun kekurangan, namun Jawa Barat mampu mengekspor kopi ke sejumlah negara. Kopi yang diekspor dari Jabar ini bersifat spesial tea dengan jumlah sekitar 200 ton.

    "Kalau pun ada ekspor kopi dari Jabar itulah kopi yang sifatnya spesial tea. Satu petani bisa memproduksi 200 ton. Salah satu petani di Pangalengan sudah mampu mengekspor sekitar 150 ton," ujarnya.

    Tujuan ekspor kopi Jabar ke Australia mencapai 36 ton atau setara dengan dua kontainer dalam 1 bulan untuk didistribusikan di Sydney dan Melbourne. Selain itu Jepang, Amerika Serikat, dan Timur Tengah.

    "Artinya permintaan kopi dari luar negeri terlalu tinggi sedangkan produksi masih minim karena Jabar baru bangkit selama 5 tahun terakhir ini sehingga kita perlu genjot lagi untuk perluasan tanam," pungkasnya. (MAT)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus