Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Hari Bela Negara 2017, Aher: Bela Negara, Jihad, dan 'Fardhu Ain'

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_26564.jpg

    BANDUNG-Tepat pada hari ini, 19 Desember 2017, bangsa Indonesia tengah memperingati Hari Bela Negara (HBN) yang dilaksanakan serentak di seluruh pelosok tanah air. 

    Pada momentum Hari Bela Negara tahun ini, dilaksanakan Upacara Peringatan Hari Bela Negara Tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2017, di Halaman Gedung Sate Bandung, Selasa (19/12/2017) pagi.

    Presiden Republik Indonesia Jokowi Widodo (Jokowi), lewat amanat yang dibacakan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk senantiasa belajar dari sejarah perjuangan bangsa. 

    Jokowi menerangkan bahwa Republik Indonesia bisa berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat tidak lepas dari semangat bela negara dari seluruh kekuatan rakyat. 

    "Sejarah juga telah mencatat bahwa membela negara tidak hanya dilakukan dengan kekuatan senjata, akan tetapi juga dilakukan oleh setiap warga negara dengan kesadarannya untuk membela negara dalam bentuk apapun," kata Jokowi dalam amanatnya.

    Pada momentum peringatan Hari Bela Negara kali ini, jokowi mengajak masyarakat untuk melakukan aksi nyata dalam bela negara.

    Sebagai contoh, dalam memasuki era milenium ini, sudah barang tentu tantangan dan ancaman terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah maupun keselamatan segenap bangsa tidak lagi bersifat tradisional atau ancaman militer, tetapi sudah bersifat multidimensional dan berada di setiap lini kehidupan.

    Oleh karena itu, bentuk aktualisasi kecintaan kepada tanah air atau patriotisme dan nasionalisme tentu jauh berbeda dengan era perjuangan para pendahulu bangsa.

    "Kemudahan dan kecanggihan akses digitalisasi internet di abad milenium sudah sangat potensial mempengaruhi mindset manusia termasuk beragam informasi dan paham-paham yang dapat merubah moral dan kepribadian suatu bangsa," katanya.

    Karenanya Jokowi meminta seluruh masyarakat, khususnya para generasi muda milenial sebagai penduduk mayoritas Indonesia, untuk senantiasa kritis terhadap upaya memecah belah bangsa, merendahkan martabat bangsa dan senantiasa waspada terhadap upaya infiltrasi ideologi dengan cara yang sangat halus dan kekinian yang ingin merubah atau menggantikan Pancasila dan ingin memecah belah NKRI.


    'Hubbul Wathan Minal Iman'

    Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengatakan, para generasi muda adalah pemimpin di masa mendatang, yang harus berperan dan bangga dengan ke-Indonesiaannya.

    "Itulah bagian dari bentuk Bela Negara yang sesungguhnya di era kekinian. Tantangan sekarang adalah bagaimana para generasi muda Indonesia ini meningkatkan kualitas pengorbanan kepada bangsa dan negara dihadapkan pada bentuk dan sifat ancaman modern tersebut," kata Gubernur Aher, usai upacara.

    Maka inti dari seremoni bela negara kali ini kata Aher, adalah mengajak segenap bangsa untuk mengejawantahkan bela negara yang sesungguhnya.

    "Kita cinta negara itu adalah tuntutan tanah air, tuntutan kemanusiaan, bahkan tuntutan agama," ujar Aher.

    Dari sisi spiritualitas, tutur Aher, sejarah mencatat loyalitas para ulama dan kaum santri terhadap bangsa Indonesia tidak pernah lekang walau dalam kondisi darurat sekalipun.

    Aher menyebut para ulama dahulu di jaman memperebutkan kemerdekaan, menyuarakan "Resolusi Jihad" dalam mempertahankan tanah air dari serbuan para penjajah, dan para sekutunya.

    Aher bercerita, resolusi jihad berhasil menyatu padukan masyarakat untuk bela negara dengan segala apa yang mereka miliki termasuk nyawanya.

    Dalam sejarah juga tercatat, beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada 17 Agustus 1945, Pemerintah kolonial Belanda lewat organisasi Netherlands Indies Civil Administration (NICA) berusaha menancapkan kembali misi penjajahannya di Tanah Air dengan membonceng tentara Sekutu.

    Menghadapi situasi tersebut, KH Hasyim Asy'ari, bersama para ulama lainnya di seluruh Jawa dan Madura, berkumpul di Surabaya pada 21- 22 Oktober 1945. Para ulama itu lantas mendeklarasikan perang mempertahankan kemerdekaan sebagai perang suci, atau dikenal dengan istilah 'jihad.'

    "Dalam resolusi jihad, membela Tanah Air hukumnya adalah 'fardhu ain' bagi setiap orang Islam di Indonesia," kata Aher.

    Dalam resolusi jihad, juga ditegaskan bahwa kaum Muslimin yang berada dalam radius 94 km dari pusat pertempuran wajib ikut berperang melawan Belanda.

    "Resolusi Jihad KH Hasyim Asy'ari termasuk salah satu bela negara yang jadi faktor penentu berlanjut atau tidaknya kemerdekaan Indonesia," terang Aher.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus