Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Jauhi HIV/AIDS, Dekati ODHA

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_26565.jpg

    KAB BANDUNG- Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember setiap tahunnya, telah diperingati sejak 1988 atas inisiatif pertemuan menteri kesehatan sedunia saat berdiskusi tentang program mengatasi HIV/AIDS. Peringatan ini untuk mengingatkan dan meningkatkan kepedulian serta kesadaran tentang penularan HIV/AIDS.

    Hingga Tahun 2016 di seluruh dunia diperkirakan terdapat 36,7 juta ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Di Indonesia, hingga Juni 2017, telah dilaporkan lebih dari 255 ribu kasus, sedangkan untuk Jawa Barat sendiri tercatat sekitar 21.000 ODHA yang mana angka ini diperkirakan akan terus meningkat.

    Penyebab kasus HIV/AIDS di Indonesia sekitar 72,4% diakibatkan hubungan seksual yang tidak terproteksi. Kondisi Indonesia saat inipun sangat memprihatinkan karena kebanyakan kasus ODHA justru terjadi pada usia produktif (usia 21 – 29 tahun).

    Dari fakta ini diharapkan pada Tahun 2030 mendatang Indonesia mencapai 3 zero yakni Tidak ada lagi kasus HIV, Tidak ada lagi yang meninggal akibat AIDS dan Tidak ada lagi stigma buruk maupun diskriminasi terhadap ODHA. 

    ‘Hak Saya Untuk Sehat’ (My Right To Health) menjadi tema Hari AIDS Sedunia 2017, dengan harapan semua orang termasuk ODHA memiliki hak kesehatan yang sama, hak disini termasuk hak mencegah dan mengobati penyakit HIV/AIDS, hak layanan kesehatan dengan standar tertinggi serta mendapat perlakuan dengan hormat dan bermartabat di masyarakat. 

    Di Tingkat Kabupaten Bandung, kegiatan memperingati Hari Aids Sedunia yang digagas Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bandung, dipusatkan di Graha Wirakarya Kecamatan Ciparay, Kamis (14/12), yang dihadiri sekitar 700 orang pelajar dan remaja. 

    Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, S.H., S.Ip., M.Ip. memperingatkan bahwa Hari AIDS Sedunia bukanlah suatu bentuk perayaan melainkan suatu peringatan keras akan bahayanya sindrom penurunan kekebalan tubuh atau yang lebih populer disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV) ini. 

    “Setiap kita dituntut untuk meningkatkan kewaspadaan serta kesadaran untuk mencegah HIV/AIDS, kalau sudah terkena tidak ada jalan untuk kembali, maka dari itu saya himbau kepada masyarakat perkuat ketahanan di dalam keluarga, terapkan pola hidup sehat, apalagi narkoba, jangan coba-coba,” kata Bupati. 

    Berbagai kebijakan, lanjut Dadang Naser, telah dilakukan Pemkab Bandung meliputi pelaksanaan kegiatan Konseling Tes Sukarela (KTS) atau biasa disebut Voluntary Counseling Test (VCT) tanpa biaya atau gratis dan telah merujuk 8 Puskesmas untuk program ini. 

    “Bagi yang sudah terkena atau mungkin merasa was-was tertular HIV/AIDS bisa mengikuti program ini, Gratis... Dan Pemkab Bandung telah merujuk 8 Puskesmas antara lain Banjaran Kota, Cicalengka, Pasirjambu, Pangalengan, Pacet, Bojongsoang, Solokanjeruk. Untuk di Puskesmas Banjaran Kota bahkan sudah dilaksanakan penyuluhan rutin, namanya Harm Reduction (HR),” paparnya. 

    Selain delapan puskesmas rujukan tersebut, lanjut Dadang, KTS juga bisa dilakukan di seluruh rumah sakit di wilayah Kabupaten Bandung. 

    “KTS HIV bisa dilakukan di semua rumah sakit di Kabupaten Bandung, di RSUD Soreang, RSUD Majalaya, RSUD Cicalengka, RSUD Al-Ihsan, Rumah Sakit Sulaiman dan Rumah Sakit AMC Cileunyi semua bisa melayani KTS HIV,” tutupnya. 

    Sementara itu Asisten Ekonomi dan Kesejahteraan Kabupaten Bandung, H. Marlan, S.Ip., M.Si. menambahkan Pemkab Bandung menghadapi kendala terkait penanggulangan HIV/AIDS ini. 

    “Ada beberapa kendala terkait penanggulangan HIV/AIDS, misal belum optimalnya koordinasi lintas program atau lintas sektor. Karena masalah HIV/AIDS ini melibatkan beberapa Perangkat Daerah, ada Dinkes, Dinas KB, Dinas Sosial, seharusnya bisa bekerja bersama-sama melaksanakan program ini secara terpadu, Koordinasi itu mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan,” ucap Marlan. 

    Selain itu kurangnya tenaga medis terlatih HIV/AIDS di puskesmas dan masih adanya stigma negatif terhadap ODHA juga menjadi kendala. 

    “Kabupaten Bandung baru bisa merujuk 8 puskesmas karena tenaga medis terlatih HIV/AIDS-nya masih kurang, kemudian kendala lainnya stigma negatif terhadap ODHA di masyarakat cukup kuat,” imbuhnya. 

    Sedangkan kendala dari ODHA sendiri masih ada. Karena stigma negatif tadi, menurut Marlan, ODHA cenderung menutup diri dari masyarakat dan lebih memilih layanan Anti Retroviral Virus (ARV) di rumah sakit di luar wilayah Kabupaten Bandung sehingga menyulitkan pemerintah dalam pendataan. 

    “Menurut data pada Dinas Kesehatan, tahun 2016 kasus HIV/AIDS tercatat 86 kasus, pada tahun 2017 tercatat 81 kasus, penurunan ini bisa dari 2 faktor, bisa jadi sudah meninggal atau berpindah domisilinya. Dari angkanya juga kelihatannya memang menurun, tapi kalau merujuk pada rumus WHO satu orang pengidap itu dikalikan 200, artinya kalau ada 81 pengidap maka diasumsikan ada sekitar 16.200 orang yang terjangkit, ini kan luar biasa banyak,” urai Marlan. 

    Marlan berharap kendala-kendala tadi bisa secepatnya ditanggulangi agar penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Bandung bisa optimal. 

    “Untuk kendala di Dinas terkait ini merupakan pekerjaan rumah Pemkab Bandung agar kedepan koordinasinya bisa lebih solid, sedangkan untuk kendala pada ODHA dan masyarakat ada pada ujung tombak, yaitu para kader penyuluh di lapangan,” pungkas Marlan. 

    Kepala DP2KBP3A, H. Hendi Ariadi Purwanto, S.H., M.Si. menyebutkan DP2KBP3A mempunyai jejaring penyuluh sejumlah 254 kader yang terdiri dari 100 orang PLKB/PKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana/Penyuluh Keluarga Berencana), 95 orang TPD (Tenaga Penggerak Desa) dan 59 orang MOTEKAR (Motivasi Ketahanan Keluarga). 

    “Para kader ini bertugas untuk memberikan sosialisasi, pembinaan dan penyuluhan terutama dalam rangka meningkatkan program-program KKBPK (Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga) termasuk di dalamnya penyuluhan mengenai pentingnya pencegahan penyebaran HIV/AIDS kepada masyarakat umum maupun kepada pelajar dan remaja,” jelas Hendi. 

    Khusus untuk sosialisasi kepada kalangan pelajar dan remaja, tambahnya, pemerintah sangat terbantu dengan adanya Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R) yang merupakan suatu wadah kegiatan Pusat Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja (PKBR) yang dikelola dari, oleh dan untuk remaja. 

    “Kami sudah melakukan MoU dengan BPJS Soreang tentang Pembentukan PIK-R jalur pendidikan di SMK Wirakarya Ciparay, jadi untuk sekolah-sekolah yang ingin mengadakan sosialisasi HIV/AIDS nanti kader-kader PIK-R ini yang terlibat,” pungkasnya. 

    Dalam acara puncak peringatan Hari AIDS Sedunia Tingkat Kabupaten Bandung tersebut, dilakukan penandatanganan testimoni para hadirin di atas spanduk. Selain itu digelar pula talkshow yang juga menampilkan testimoni dari ODHA. 

    Sebelum ARV digratiskan oleh pemerintah, testimoni Dwi, seorang ODHA yang terinfeksi HIV sejak tahun 2004, harus melakukan terapi ARV dengan mengeluarkan biaya Rp. 1,8 juta/bulan. Selain itu Dwi menyebutkan banyak rekan-rekannya yang berhenti (Drop Out) dari terapi ARV dikarenakan takut diberhentikan dari pekerjaannya.

    “Banyak rekan saya di Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Support Patuha yang drop out ARV karena takut diberhentikan dari pekerjaannya, untuk itu saya berharap selain kepada masyarakat dan sekolah, sosialisasi HIV/AIDS juga perlu dilaksanakan di perusahaan-perusahaan karena kami juga berhak untuk menjalani hidup dan yang terpenting kami berhak untuk sehat,” kata Dwi.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus