Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    40 Ribu Pasangan Suami Istri di Jawa Barat Cerai Setiap Tahun

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/broken-chain.gif

    BANDUNG-Sekitar 40 ribu pasangan suami istri mengalami perceraian setiap tahun di Jawa Barat. Sebagian besar perceraian terjadi pada pasangan usia pernikahan di bawah 5 tahun. Sedang permintaan cerai, kebanyakan berasal dari kalangan istri.

     
    Kepala Kantor Wilayah Jawa Barat Kementerian Agama RI, Saeroji mengatakan setiap tahun jumlah perkawinan di Jawa Barat berkisar 400 
    ribu pernikahan. Sekitar 10 persen atau 40 ribu mengalami perceraian. 
     
    “Jumlah 40 ribu perceraian itu adalah yang tercatat resmi di Pengadilan Agama (PA). Jumlah ini adalah angka sementara. Artinya 
    banyak juga yang tidak mencatatkan perceraianya di PA. Jika data valid bisa didapat, akan sangat berbahaya bagi Jawa Barat,” ujarnya. 
     
    Dia menyebut, perceraian terjadi yang didominasi usia pernikahan yang sangat muda, yakni di bawah 5 tahun akan sangat berdampak luar biasa. Tidak hanya kepada pasangan yang cerai, tapi juga terhadap anak yang  dilahirkani. 
     
    “Beban paling berat, tentu ada pada istri dan anaknya. Mulai dari  tekanan ekonomi hingga istilah-istilah yang disematkan kepada istri 
    yang dicerai, JAS (Janda Anak Satu), JUS (Janda Usia Subur), atau  Jasad (Janda Siap Dimadu),” ujarnya berseloroh. 
     
    Disebutkan, jika memang awalnya sudah punya pekerjaan, mungkin tidak  masalah. Namun masalah muncul jika selama ini, terkait keuangan adalah  tanggung jawab suami. Setelah si istri pisah, jika imannya kuat,  mungkin mencari rejeki di jalan yang halal. 
     
    “Namun jika iman tidak kuat, dengan alasan kebutuhan ekonomi, dia  terjerumus ke pekerjaan-pekerjaan yang cenderung maksiat," ucapnya
     
    Di sisi lain, sambung dia, persoalan anak akan mempengaruhi  pertumbuhan psikis si anak. Bagaimana perkembangan pertumbuhannya. 
    Secara psikologis mungkin ada yang kurang karena tidak mendapat kasih  sayang yang penuh dari kedua orang tuanya. 
     
    Anehnya Saeroji menambahkan, sebagian besar perceraian itu terjadi bukan karena suaminya yang mengeluarkan talak. Namun  si istri yang
    menggugat cerai. tjo
           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus