Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Trend Harga Di Jabar Fluktuatif

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/Kadis_Perindag_Jabar,_Ferry_Sofwan_Arif.jpg

    Disperindag Jabar, dalam Bulan Ramadhan ini terus melakukan pemantauan atas kondisi harga di seluruh Kabupaten/Kota. Dari hasil pemantauan harga untuk sejumlah barang pokok fluktuatif, ada yang masih tinggi, menurun bahkan stabil, ungkap Kadis Perindag Jabar, Ferry Sofwan Arif dalam keterangannya kepada wartawan di Gedung DPRD Jabar, Selasa sore (31/7).

    Kondisi harga, terang Ferry dalam minggu ke dua Bulan Ramadhan beberapa barang yang ketika munggahan mengalami kenaikan, kini mulai menurun, diantaranya daging sapi khas dalam yang ketika munggahan di Kota Bandung mencapai Rp.85.000,- per Kg kini sudah turun menjad Rp.80.000,- per Kg. Bahkan untuk di beberapa pasar di luar Kota Bandung, daging sapi khas dalam berkisar antara Rp.65.000 sampai Rp.70.000,- per Kg.

    Untuk daging ayam, yang dalam suasana munggahan mencapai Rp.31.000,- per Kg, sekarang sudah turun menjadi Rp.28.000,- per Kg. Penurunan harga juga terjadi untuk telur ayam, dimana ketika munggahan mencapai Rp.18.000,- per Kg sekarang menurun menjadi Rp.16.000,- per Kg.
    Untuk minyak goreng dan gula relatif stabil. Untuk gula masih stabil pada harga Rp.13.000,- per Kg. Untuk gula seiring dengan akan segera panen tebu giling harga diprediksi tidak akan mengalami kenaikan.

    Ferry, pada bagian keterangannya mengungkapkan trend penurunan harga untuk barang pangan, paling tidak harga tidak akan mengalami kenaikan disebabkan di Minggu ke dua dan ketiga Bulan Ramadhan masyarakat lebih banyak berbelanja kebutuhan sandang seperti pakaian dan alas kaki.


    Untuk memenuhi kebutuhan pakaian, masyarakat ada yang sudah terbiasa memanfaatkan toko-toko modern, oleh pihak pengusaha toko stok barang sudah disediakan sebulan yang lalu. Untuk memenuhi kebutuhan pakaian di toko modern masyarakat bisa mempergunakan produk lokal maupun impor. Sementara itu, ujar Ferry untuk pakaian muslim lebih banyak dipergunakan dari produk lokal. (Nur)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus