Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Kawin Di Usia 18 Th di kab.Bandung Masih Tinggi

    http://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_8608.jpg

    BANDUNGKAB-Rakerda KB Tahun 2014 Kabupaten Bandung tetapkan komitmen melalui Program Kerja Tahun 2014. Komitmennya adalah  pengendalian kependudukan dan Peningkatan KB disemua tingkatan lini lapangan.

    Komitmen Rakerda KB itu tertuang dalam lima prioritas program yaitu, peningkatan peserta KB Metode Kontrasepsi Jangka Panjang, Peserta KB Pria, Penguatan Lini Lapangan dan Peningkatan Kualitas Ketahanan Keluarga, Pedewasaan Usia Perkawinan (PUP), serta Pencegahan Tindak KDRT dan Perlindungan Anak.

    Kelima prioritas kerja itu dihasilkan pada Kegiatan yang digelar oleh Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Kabupaten Bandung yang berlangsung di Gedung Moch.Toha Soreang, Kamis (03/04). Tampak hadir Bupati Bandung H.Dadang Mochamad Naser, SH, S.Ip, Asisten Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat, Drs.H.Juhana, M.MPd, unsur Perwakilan BKKBN Provinsi Jabar serta Kepala BKBPP, Hj.Yanti Marlina, SH.

    Sebanyak 500 peserta terdiri dari unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD), DPRD, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD), Camat, Tim Penggerak PKK, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Forum Pos KB serta Forum PIKR (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) mengikuti Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Keluarga Berencana (KB) Tingkat Kabupaten Bandung Tahun 2014.
     
    Menyoroti masalah PUP, Yanti Marlina mengatakan tingkat pernikahan di bawah usia 18 tahun di Kabupaten Bandung terbilang cukup tinggi, yaitu sekitar 10 persen. Idealnya, perkawinan paling muda berada pada usia 20 tahun, salah satu penyebabnya karena faktor budaya. “Dalam lingkungan masyarakat kita masih ditemukan budaya yang memberlakukan bahwa perempuan harus segera menikah dan bekerja di rumah”, terang Yanti Marlina.
     
    Selain faktor budaya, menurut Yanti tingginya angka pernikahan dini di KabupatenBandung dikarenakan tuntutan ekonomi juga. Anak perempuan yang sudah berusia 16 tahun, biasanya didesak orang tuanya untuk segera menikah sehingga menjadi tanggungan suaminya. "Padahal, banyak resiko yang dapat ditimbulkan jika menikah di usia dini,” ujarnya.
     
    Ia menjelaskan, pihaknya telah berupaya menekan perkawinan usia dini dengan berbagai program kesehatan reproduksi remaja. Karena, masih banyak orangtua dan remaja yang kurang memahami tentang dampak pernikahan dini. “Mereka harus memahami dan mengerti bagaimana dampaknya jika menikahkan anak di usia muda ,” jelasnya.
     
    Di tahun 2014 ini, BKBPP akan menyelesaikan program KB kepada 64.000 warga.”Kami akan  terus berusaha menekan persalinan di usia dini yang ternyata juga masih cukup tinggi”, tandasnya pula.
     
    Hal senada diungkapkan Bupati Dadang Naser, menekan pernikahan di usia dini merupakan pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs) 2015 untuk menekan angka kematian ibu dan anak. Pemerintah Daerah berupaya untuk dapat mencapai target MDGs 2015 agar kulitas sumber daya manusia (SDM) Kabupaten Bandung kian meningkat.
     
    Dalam kesempatan itu Dadang mengatakan mitos “banyak anak banyak rezeki” masih menjadi obsesi sebagian besar masyarakat kita. Dadang mengakui anak merupakan karunia dan rezeki dari Alloh,  namun jika tidak diatur, angka ledakan jumlah penduduk tidak akan bisa dikendalikan. “Disinilah diperlukan peran kedewasaan seseorang agar bisa memanage dan membangun keluarga walaupun kecil tapi SDM nya berkualitas”, pungkasnya pula.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus