Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

Penyakit Tidak Menular

  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Penyakit Tidak Menular

    Hipertensi

    Anda pasti sudah sering mendengar tentang hipertensi atau tekanan darah tinggi, atau bahkan sudah pernah mengalaminya. Mendengarnya saja enggan dan pasti tidak ada yang mau mengalaminya. Banyak sekali mitos di masyarakat tentang penyakit ini. Ada yang bilang penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Ada pula komentar kalau minum obat hipertensi bisa terkena penyakit ginjal.

    Wahh,,, yang mana yang benar ya? Berikut tim kementrian kesehatan akan memberikan 15 FAKTA TENTANG HIPERTENSI

    1. Hipertensi adalah suatu keadaan di mana tekanan darah menjadi naik karena gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya.
    2. Pada tahun 2007 jumlah penderita hipertensi di Indonesia mencapai 31,7%
    3. 76 % dari penderita hipertensi tidak pernah menyadari dirinya sakit.
    4. Tekanan darah normal adalah 120/80 mmHg, lebih dari itu WASPADA HIPERTENSI!
    5. Seseorang disebut hipertensi bila tekanan darah ≥140/90
    6. Gejala hipertensi diantaranya pusing, sakit kepala, tengkuk terasa pegal, penglihatan kabur, sering kesemutan, jantung berdebar, dan cepat merasa lelah. Namun jangan tunggu gejala datang karena sebagian besar penderita hipertensi tidak bergejala.
    7. Bahaya hipertensi bisa mengenai banyak organ tubuh diantaranya mata, otak, ginjal, dan jantung
    8. Usia diatas 55 tahun lebih berisiko terkena hipertensi
    9. Hipertensi berkaitan dengan keturunan, apabila kedua prang tua hipertensi maka 45 % berisiko menurun ke anaknya. Maka apabila anda berisiko segeralah ubah gaya hidup dan control tekanan darah secara teratur.
    10. Orang dengan obesitas 5 kali lebih berisiko terkena hipertensi
    11. Kurang aktivitas, merokok,makanan asin, minum alcohol dan stress dapat meningkatkan risiko hipertensi
    12. Batasi garam 1 sendok teh per hari tiap memasak dapat menurunkan risiko hipertensi
    13. Hipertensi dapat dicegah, bila sudah terkena pun dapat dikontrol dengan minum obat teratur dan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.
    14. Daun kumis kucing, daun seledri dan daun pegagan dapat dijadikan jamu pendamping obat untuk membantu menurunkan tekanan darah.
    15. Hipertensi tidak mematikan, namun apabila dibiarkan maka efek fatal dapat terjadi ke organ lain seperti stroke pada otak dan gagal jantung. Komplikasi inilah yang dapat menyebabkan kematian

    Setelah mengetahui beberapa fakta diatas diharapkan anda dapat lebih mengenal tentang hipertensi. Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat hipertensi tentu memerlukan peran serta seluruh masyarakat, bukan hanya pemerintah. Mulai dari diri anda, keluarga anda dan lingkungan terdekat. Perubahan dapat dimulai dengan perilaku CERDIK, seperti berikut:

    • Cek kesehatan secara berkala.Periksakan tekanan darah, berat badan, dan kadar kolesterol ke puskesmas terdekat. Lakukan secara rutin, misal sebulan atau dua bulan sekali.
    • Enyahkan asap rokok
    • Rajin aktifitas fisik. Olahraga 30 menit dan lakukan dengan rutin dapat menurunkan risiko hipertensi
    • Diet sehat dengan kalori seimbang.
    • Makan makanan yang bervariasi. Kurangi makanan cepat saji atau makanan berpengawet.
    • Istirahat yang cukup
    • Kelola stres

    Kanker Leher Rahim

    KENALI LEBIH DINI GEJALA KANKER LEHER RAHIM

    APAKAH KANKER LEHER RAHIM ITU ?

    Kanker leher rahim adalah keganasan yang terjadi pada leher rahim yang merupakan bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang senggama.

    APA FAKTOR RISIKO TERJADINYA KANKER LEHER RAHIM ?

    1. Menikah/mulai melakukan aktifitas seksual di usia muda (<20 tahun)
    2. Berganti-ganti pasangan seksual
    3. Melakukan hubungan seks dengan pria yang sering bergonta-ganti pasangan.
    4. Riwayat infeksi di daerah kelamin atau radang panggul (IMS)
    5. Perempuan yang melahirkan banyak anak
    6. Merokok/ terpapar asap rokok (perokok pasif)
    7. Memiliki riwayat keluarga dengan kanker 
    8. Kurang menjaga kebersihan alat kelamin
    9. Adanya riwayat tes pap yang abnormal sebelumnya
    10. Penurunan kekebalan tubuh misalnya karena HIV/AIDS dan penggunaan obat-obatan kortikosteroid jangka panjang.

    BAGAIMANA CARA MENCEGAH KANKER LEHER RAHIM ?

    1. Pencegahan utama adalah menghindari faktor risiko kanker leher rahim terutama dengan tidak berperilaku seksual berisiko untuk terinfeksi HPV seperti tidak berganti-ganti pasangan seksual dan tidak melakukan hubungan seksual pada usia dini (kurang dari 20 tahun)
    2. Selain itu juga menghindari asap rokok (aktif dan pasif), menindak lanjuti hasil pemeriksaan IVA/pap smear dengan hasil positif.
    3. Melakukan vaksinasi HPV

    APAKAH GEJALA KANKER LEHER RAHIM ?

    Stadium dini 

    • Pada tingkat dini, kanker leher rahim seringkali tidak menunjukkan gejala atau tanda yang khas. Sehingga terkadang sulit untuk dikenali.

    Stadium lanjut:

    • Keputihan dan  pendarahan sesudah senggama perlu dicurigai sebagai gejalanya. Walaupun tidak selalu, hal tersebut juga merupakan gejala pada polip leher rahim atau radang leher rahim
    • Gejala kanker leher rahim pada tingkat lanjut :
    1. Haid tidak teratur
    2. Nyeri panggul
    3. Nyeri saat berhubungan seksual
    4. Pendarahan spontan tidak pada masa haid/ diantara menstruasi
    5. Pendarahan pada masa menopause
    6. Keputihan atau keluar cairan encer putih kekuningan terkadang bercampur darah seperti nanah.

    APAKAH ITU DETEKSI DINI ?

    Pemeriksaan untuk menemukan kanker leher rahim dari sejak perubahan awal sel (displasia) sampai dengan pra kanker. Perempuan yang pernah melakukan pemeriksaan deteksi dini (tes pap ataupun IVA) dapat menurunkan risiko terkena kanker leher rahim.

    BAGAIMANA CARA PEMERIKSAANNYA ?

    1. Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA)
    2. Pap Smear (Papanicolau/ Pap test)
    3. Biopsi, dll

    APAKAH ITU IVA ?

    Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) adalah pemeriksaan dengan cara mengamati dengan menggunakan spekulum, melihat leher rahim yang telah dipulas dengan asam asetat / cuka dapur encer (konsentrasi 3-5%).  Pada lesi pre kanker setelah ditunggu kurang lebih satu menit akan terlihat bercak putih bila terdapat perubahan pada sel (displasia) yang disebut  acetowhite epithelium.

    MENGAPA MEMILIH IVA ?

    Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan yang sederhana, murah, cepat dan cukup akurat untuk menemukan kelainan pada tahap kelainan sel (displasia) atau sebelum pra kanker bila dibandingkan dengan pemeriksaan lainnya.

    APA TINDAKAN BILA DITEMUKAN KELAINAN ?

    Jika dalam pemeriksaan IVA terlihat lesi berwarna putih dengan ukuran kurang dari 2 mm, dokter/bidan akan melakukan pengobatan dengan tindakan krioterapi yang dapat dilakukan di Puskesmas. Bila bercak putih lebih dari 2 mm, petugas puskesmas akan merujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.

    APAKAH ITU KRIOTERAPI ?

    Krioterapi adalah tindakan pengobatan memakai alat krioterapi dengan cara pendinginan agar terjadi pembekuan untuk menghancurkan sel yang tidak normal.

    APA YANG DILAKUKAN SETELAH KRIOTERAPI ?

    Setelah dilakukan krioterapi, dokter/ bidan akan menjadwalkan pemeriksaan ulang pada 7 hari dan 6 bulan setelah tindakan.

    DIMANA MELAKUKAN TES IVA ?

    Tes IVA dapat dilakukan di tempat-tempat sbb :

    • Bidan Desa
    • Puskesmas Pembantu
    • Puskesmas
    • Rumah Sakit dan
    • Rumah Bersalin.

    PENGOBATAN APA YANG DILAKUKAN BILA DIKETAHUI ADA LESI PRE KANKER ?

    1. Krioterapi. Adalah perusakan sel-sel pre kanker dengan cara dibekukan. Tindakan ini dapat dilakukan di fasilitas kesehatan dasar seperti Puskesmas oleh tenaga kesehatan terlatih.

    2. Elektrokauter. Adalah perusakan sel-sel pre kanker dengan cara dibakar dengan alat kauter. Dilakukan oleh dokter ahli kanduingan dengan anestesi.

    3.  

      Loop Electrosurgical Excision Procedure (LEEP). Adalah pengangkatan jaringan yang mengandung sel prakanker dengan jalan LEEP

    4. Konisasi. Adalah pengangkatan jaringan yang mengandung sel prakanker dengan jalan operasi

    5. Histerektomi. Pengangkatan seluruh rahim termasuk juga leher rahim.
       

    ?Obesitas 

    DEFINISI

    Obesitas adalah penumpukan lemak yang berlebihan ataupun abnormal yang dapat mengganggu kesehatan (WHO, 2011) Obesitas dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan prevalensi hipertensi, intoleransi glukosa, dan penyakit jantung koroner aterosklerotik pada pasien-pasien yang obese. 

    FAKTOR PENYEBAB

    Banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang memiliki berat badan berlebih atau obesitas (CDC, 2009). Diantaranya adalah:

    • Ketidakseimbangan antara asupan kalori dari makanan dengan penggunaan kalori sebagai energi pada aktivitas fisik.
    • Lingkungan tempat tinggal dan tempat bekerja.
    • Faktor genetik.
    • Faktor lain seperti obat-obatan.Orang yang menggunakan steroid jangka panjang akan mengalami penambahan berat badan.

    Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh beberapa ahli fisiologi, dimana salah satu faktor yang dapat menyebabkan kegemukan adalah dikarenakan kurangnya olahraga. Faktor-faktor lainnya adalah karena gangguan emosi dengan makan berlebihan yang menggantikan rasa puas lainnya, pembentukan sel-sel lemak dalam jumlah berlebihan akibat pemberian makan yang berlebihan pada saat usia anak-anak, gangguan endokrin tertentu seperti hipotiroidisme, gangguan pusat pengatur kenyak- selera makan (satiety-apetite centre) di hipotalamus dan kelezatan makanan yang tersedia (Sherwood, 2001).

    Indeks Massa Tubuh (IMT)

    Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan (WHO, 2011). 

    Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu, mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup yang lebih panjang. Untuk mengetahui nilai IMT, dapat dihitung dengan rumus berikut:

    Berat Badan (Kg)

    IMT = Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m)

     

    Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) 

    Kenali Gejalanya dan Hindari Faktor Risikonya

    Apa yang dimaksud dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)?

    Penyakit Paru Obstruktif Kronik dahulu disebut dengan Penyakit Paru Obstruktif Menahun. Penyakit ini ditandai dengan adanya perlambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Perlambatan Aliran udara umumnya bersifat progresif dan berkaitan dengan respons inflamasi yang abnormal terhadap partikel atau gas iritan.

    PPOK

    Apa saja gejala PPOK?

    Seseorang dengan PPOK ringan dapat tanpa keluhan atau gejala. Hal ini berbahaya karena apabila faktor risikonya tidak dihindari maka penyakit ini akan semakin progresif. PPOK dapat menimbulkan gejala sebagai berikut:

    • Sesak napas
    • Batuk-batuk kronis (batuk 2 minggu)
    • Sputum yang produktif (batuk berdahak)

    Pada PPOK eksaserbasi akut terdapat gejala yang bertambah parah seperti:

    • Bertambahnya sesak napas
    • Kadang-kadang disertai mengi
    • Bertambahnya batuk disertai meningkatnya sputum (dahak)
    • Sputum menjadi lebih purulen dan berubah warna
    • Gejala non-spesifik: lesu, lemas, susah tidur, mudah lelah, depresi

    Apa saja faktor risiko PPOK?

    1. Kebiasaan merokok merupakan satu-satunya penyebab kausal yang terpenting, jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya.
Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan : 
      Riwayat merokok : (Perokok Aktif, Perokok Pasif)
      Bekas perokok: Bila merupakan bekas perokok harus dinilai derakat berat merokok dengan menggunakan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun : (Ringan : 0-200; Sedang : 200-600; Berat : >600)
    2. Riwayat terpajan polusi udara di lingkungan dan tempat kerja
    3. Hipereaktiviti bronkus
    4. Riwayat infeksi saluran napas bawah berulang
    5. Defisiensi antitripsin alfa - 1, umumnya jarang terdapat di Indonesia

    Apa saja dampak buruk dari asap rokok? 

    Di dalam sebatang rokok terkandung 4.000 jenis senyawa kimia beracun yang berbahaya untuk tubuh dimana 43 diantaranya bersifat karsinogenik. Dengan komponen utama:

    • Nikotin, zat berbahaya penyebab kecanduan
    • Tar, bersifat karsinogenik
    • CO, menurunkan kandungan oksigen dalam darah

    Merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit, khususnya kanker paru, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, penyakit jantung koroner, dan gangguan pembuluh darah, disamping menyebabkan penurunan kesuburan, gangguan kehamilan, gangguan pertumbuhan janin (fisik dan IQ), gangguan imunitas bayi dan peningkatan kematian perinatal.

    Selain berdampak buruk bagi kesehatan perokok itu sendiri, Asap Rokok Orang Lain (AROL) juga berbahaya bagi kesehatan orang di sekitarnya, yang dalam hal ini menjadi perokok pasif. AROL adalah gabungan antara asap yang dikeluarkan oleh ujung rokok yang membara dan produk tembakau lainnya serta asap yang dihembuskan oleh perokok. Tidak ada batas aman untuk AROL. Hasil survey menunjukkan bahwa jumlah perokok pasif perempuan di Indonesia 62 juta dan laki-laki 30 juta, dan yang paling menyedihkan adalah jumlah anak usia 0-4 tahun yang terpapar AROL sebesar 11,4 juta anak. Perokok pasif ini mempunyai risiko terkena penyakit kanker 30 % lebih besar dibandingkan dengan yang tidak terpapar asap rokok, juga terkena penyakit jantung iskemik yang disebabkan oleh asap rokok.

    Pemeriksaan apa yang harus dilakukaan untuk menunjang diagnosis PPOK?

    • Spirometri. Spirometri adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur secara obyektif kapasitas/fungsi paru (ventilasi) pada pasien dengan indikasi medis. Alat yang digunakan disebut spirometer
    • Radiologi (Rontgen Thoraks)
    • Bila eksaserbasi akut: analisis gas darah, DPL, Sputum gram, Kultur MOR

    Apa saja prinsip terapi PPOK?

    • Edukasi dan motivasi untuk berhenti merokok
    • Farmakoterapi: bronkodilator, steroid, mukolitik, antioksidan
    • Terapi non-farmakologis:
    • Rehabilitas: latihan fisik, latihan pernapasan
    • Terapi oksigen jangka panjang (15 jam sehari) pada PPOK Stadium III
    • Nutrisi
    • Pembedahan pada PPOK berat

    Vaksinasi apakah yang bermanfaat dalam mencegah PPOK? 

    Pada PPOK Eksaserbasi akut biasanya disebabkan oleh infeksi mukosa trakeobronkial, terutama oleh bakteri Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza, Moraxella catarrhalis. Maka vaksinasi influenza dan pneumokok dapat bermanfaat dalam mencegak PPOK Eksaserbasi akut.

     

    Stroke

    Tuan B 41 tahun mendapat serangan stroke mendadak. Pada pagi hari pasien tidak merasakan apa-apa. Saat beraktifitas di sawah pasien merasakan sakit kepala yang sangat hebat dan setelah itu pasien merasakan tangan dan kaki sebelah kiri tidak bisa digerakkan. Saat berada di rumah pasien muntah sebanyak 2 kali dan kemudian bicaranya pelo padahal sebelumnya tidak pelo.

    Kasus lain juga menimpa Ny.N 65 tahun, ia dibawa keluarganya ke Rumah Sakit dengan keluhan utama lemah pada tangan kanan dan kaki kanan secara mendadak. Keluhan ini datang mendadak pada saat penderita sedang duduk sambil mengobrol . Selain itu penderita merasa mulut mencong ke kanan dan bicara pelo.

    Dua kasus diatas merupakan satu dari banyak kasus kejadian stroke di Indonesia. Kejadiannya yang mendadak tanpa permisi memberikan dampak buruk yang drastis pada penderitanya. Bayangkan saja ketika anda sedang asyik mengobrol tiba – tiba mulut anda mencong dan badan anda lemah sebelah, sungguh mengerikan bukan? Maka tim kami akan berusaha memberikan informasi seputar stroke agar anda dan keluarga terhindar dari bahaya penyakit ini.Apa sih yang dimaksud dengan penyakit stroke?

    Badan kesehatan dunia atau WHO mendefinisikan stroke sebagai suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain kelainan pembuluh darah.

    Ada berapa macam jenis stroke?

    Stroke ada 2 macam yang pertama disebut stroke hemoragik yaitu stroke yang diakibatkan perdarahan pada otak. Kedua stroke non hemoragik yaitu akibat tersumbatnya pembuluh darah otak sehingga jaringan otak tidak mendapat nutrisi dan oksigen.

    Apa saja risiko terjadinya stroke?

    Factor risiko penyakit stroke diantaranya hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus,merokok, konsumsi alkohol, kelebihan lemak darah atau hiperlipidemia, dan kurang aktifitas.

    Bagaimana gejala dan tanda penyakit stroke?

    Gejala yang muncul diantaranya :

    • Tiba-tiba merasa lemah pada sebelah wajah, serta lengan dan kaki terutama satu sisi tubuh.
    • Tiba-tiba kebingungan dan kesulitan bicara
    • Sakit kepala hebat
    • Penglihatan mendadak terganggu
    • Tiba-tiba kesulitan berjalan, gangguan keseimbangan dan koordinasi

    Gejala yang muncul dapat dinilai dengan metode FAST. Metode ini dapat dilihat diartikel kami selanjutnya

    Apa yang harus dilakukan bila keluarga anda menunjukan gejala stroke?

    time is brain, waktu sangat berharga untuk penderita stroke, apabila terlambat ditangani bisa berakhir dengan kematian. Hal-hal yang yang perlu anda lakukan adalah :

    Amankan penderita, baringkan dengan posisi setengah duduk
    Segera panggil bantuan dan telepon ambulan
    Jangan beri makanan atau minuman karena penderita stroke tidak dapat menelan dengan baik. Cairan yang diminum dikhawatirkan masuk ke saluran napas dan mengganggu pernapasan
    Pastikan jalan napas aman.Perhatikan hidung dan mulut tidak ada sumbatan, bila ada air liur miringkan tubuh pasien dan bersihkan mulut dari air liur.Waktu yang aman adalah 20 menit sampai pasien tiba di rumah sakit. Bila lebih dari itu dampak yang muncul dapat lebih buruk.

     

    Diabetes Mellitus

    PENTINGNYA MEMAHAMI DIABETES MELITUS

    Tanpa upaya pencegahan dan program pengendalian yang efektif, maka penderita diabetes akan terus meningkat di Indonesia. Prediksi WHO memperkirakan pada 2030 ada 21,3 juta penduduk Indonesia merupakan penderita diabetes. Apakah kita akan menjadi salah satunya? Tentu saja tidak apabila kita mulai memahami faktor risiko dan memulai gaya hidup sehat.

    Apa itu diabetes melitus? Mengapa disebut penyakit kencing manis?

    Unit terkecil dari tubuh kita adalah sel. Dalam melaksanakan fungsinya, sel membutuhkan energi. Glukosa atau gula, merupakan sumber energi bagi sel. Dalam proses metabolisme glukosa menjadi energi, membutuhkan hormon yang dinamakan hormon insulin. Apabila hormon insulin yang dihasilkan oleh sel beta pankreas tidak mencukupi untuk mengubah glukosa menjadi sumber energi bagi sel, maka glukosa tersebut akan tetap berada dalam darah dan kadar glukosa dalam darah akan meningkat sehingga timbulah penyakit yang dinamakan dengan Diabetes Melitus (DM) atau Penyakit Gula atau Penyakit Kencing Manis.

    Apa saja gejala diabetes melitus?

    Pada awalnya, pasien sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mengidap diabetes melitus, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Namun, harus dicurigai adanya DM jika seseorang mengalami keluhan klasik DM berupa:

    • poliuria (banyak berkemih)
    • polidipsia (rasa haus sehingga jadi banyak minum)
    • polifagia (banyak makan karena perasaan lapar terus-menerus)
    • penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya

    Jika keluhan di atas dialami oleh seseorang, untuk memperkuat diagnosis dapat diperiksa keluhan tambahan DM berupa:

    • lemas, mudah lelah, kesemutan, gatal
    • penglihatan kabur
    • penyembuhan luka yang buruk
    • disfungsi ereksi pada pasien pria
    • gatal pada kelamin pasien wanita

    Kapan saya disebut penderita diabetes melitus?

    Diagnosis DM bukan hanya dari gejalanya saja, namun harus diikuti dengan pemeriksaan darah yaitu pemeriksaan glukosa darah dari pembuluh darah vena. Seseorang didiagnosis menderita DM jika ia mengalami satu atau lebih kriteria di bawah ini:

    • Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dL
    • Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma puasa ≥126 mg/dL
    • Kadar gula plasma 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) ≥200 mg/dL
    • Pemeriksaan HbA1C ≥ 6.5%

    Bagaimana cara pemeriksaan kadar glukosa darah tersebut dilakukan?

    • Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir pasien.
    • Puasa artinya pasien tidak mendapat kalori tambahan minimal selama 8 jam.
    • TTGO adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan memberikan larutan glukosa khusus untuk diminum. Sebelum meminum larutan tersebut akan dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah, lalu akan diperiksa kembali 1 jam dan 2 jam setelah meminum larutan tersebut. Pemeriksaan ini sudah jarang dipraktekkan.

    Apakah yang dimaksud dengan prediabetes?

    • Jika kadar glukosa darah seseorang lebih tinggi dari nilai normal tetapi tidak masuk ke dalam kriteria DM, maka dia termasuk dalam kategori prediabetes. Yang termasuk ke dalamnya adalah
    • Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT), yang ditegakkan bila hasil pemeriksaan glukosa plasma puasa didapatkan antara 100 – 125 mg/dL dan kadar glukosa plasma 2 jam setelah meminum larutan glukosa TTGO 140 mg/dL
    • Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), yang ditegakkan bila kadar glukosa plasma 2 jam setelah meminum larutan glukosa TTGO antara 140 – 199 mg/dL

    Benarkah diabetes melitus dapat terjadi pada anak remaja?

    Diabetes terdiri dari beberapa jenis yaitu DM tipe 1 yang terjadi karena kekurangan hormon insulin di dalam tubuh, DM tipe 2 karena hormon Insulin yang dihasilkan tidak bermanfaat untuk mengatur kadar gula dalam darah (fungsi kerja insulin tidak efektif), DM gestasional yang terjadi pada masa kehamilan dan DM lainnya yang diakibatkan karena pemakaian obat mapun disebabkan penyakit lainnya.

    Diabetes yang umumnya terjadi pada anak dan remaja adalah DM tipe 1. Sejak dulu DM pada anak ini sebenarnya sudah ada, namun tidak terdeteksi dengan baik, sehingga kejadiannya seperti fenomena gunung es. Terjadinya DM tipe 1 pada anak dan remaja dapat disebabkankarena faktor genetik (keturunan), auto-imun (kelainan sistem imunitas), pola hidup tidak bersih dan sehat seperti diet yang tidak sehat. Kelainan sistim imunitas terjadi karena adanya peradangan pada sel beta (insulitis). Insulitis dapat disebabkan oleh bermacam-macam hal di antaranya virus, seperti rubella dan herpes. Kondisi ini menyebabkan timbulnya antibodi terhadap sel b yang disebut ICA (Islet Cell Antibody). Reaksi antigen (sel b) dengan antibodi (ICA) yang ditimbulkannya mengakibatkan kerusakan sel beta pada pankreas yang mempunyai fungsi memproduksi hormone insulin.

    Apa saja komplikasi diabetes melitus?

    Diabetes dapat mengakibatkan komplikasi yang bersifat akut maupun menahun (kronis). Komplikasi akut diabetes dapat mengakibatkan koma diabetikum dan kematian mendadak. Sementara komplikasi kronisnya memberikan beban biaya pengobatan yang mahal, dan menurunkan produktifitas bagi penderitanya. Komplikasi akut diabetes yaitu hiperglikemia (kadar gula darah naik cepat secara drastis) dan juga bisa hipoglikemi (kadar gula darah turun secara cepat). Kondisi ini yang mengakibatkan kematian lebih dini bagi penyandangdiabetes. Sementara komplikasi kronis dari diabetes dapat berupa :

    Makroangiopati (kerusakan pembuluh darah besar) misalnya:

    • Gangguan pada pembuluh darah jantung
    • Gangguan pada pembuluh darah tepi yang dapat mengakibatkan luka pada telapak kaki yang sulit sembuh
    • Gangguan pada pembuluh darah otak yang dapat mengakibatkan stroke
    • Mikroangiopati (kerusakan pembuluh darah kecil) misalnya :
    • Retinopati diabetik yang dapat mengakibatkan kebutaan
    • Nefropati diabetik (penyakit ginjal diabetes) yang dapat mengakibatkan kegagalan fungsi ginjal
    • Neuropati ( Kelainan saraf)

    Gejala yang sering dirasakan kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, dan lebih terasa sakit di malam hari.

    Tindakan apa yang harus dilakukan untuk mencegah diabetes melitus?

    Monitoring dan deteksi dini faktor risiko DM ini dilakukan di Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) PTM dan implementasi perilaku CERDIK. Cerdik ini mempunyai makna, Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet Sehat dan seimbang, Istirahat cukup, Kelola Stress.

     

     

    Cedera akibat lalu lintas

    Cedera sudah menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di seluruh negara dan lebih dari dua per tiga dialami oleh negara berkembang. Kematian akibat cedera diproyeksikan meningkat dari 5,1 juta menjadi 8,4 juta (9,2% dari kematian secara keseluruhan) dan diestimasikan menempati peringkat ketiga disability adjusted life years (DALYs) pada tahun 2020.

    Masalah cedera memberikan kontribusi pada kematian sebesar 15%, beban penyakit 25% dan kerugian ekonomi 5% growth development product (GDP). Di Indonesia, kerugian ekonomi akibat cedera khususnya untuk lalu lintas diperkirakan sebesar 2,9% pendapatan domestik bruto (PDB). Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab terbanyak terjadinya cedera di seluruh dunia. Kecelakaan lalu lintas menempati urutan ke-9 pada DALY dan diperkirakan akan menempati peringkat ke-3 di tahun 2020 sedangkan di negara berkembang urutan ke-2.

    Cedera akibat kecelakaan lalu-lintas adalah penyebab utama kematian dan disabilitas (ketidakmampuan) secara umum terutama di negara berkembang. Di Indonesia, kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu prioritas penanggulangan penyakit tidak menular berdasarkan Kepmenkes 116/Menkes/SK/VIII/2003. Kematian akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang meningkat, yaitu dari 1,0% pada tahun 1986, menjadi 1,5% pada tahun 1992, 1,9% pada tahun 1995, 3,5% pada tahun 1998 dan menjadi 5,7% di tahun 2001. Di Indonesia sebagian besar (70,0%) korban kecelakaan lalu lintas adalah pengendara sepeda motor yang berusia produktif (15-55 tahun) dan berpenghasilan rendah. Cedera kepala (33,2%) menempati peringkat pertama pada urutan cedera yang dialami oleh korban kecelakaan lalu lintas.

    Menonjolnya angka kesakitan dan kematian ini merupakan permasalahan kesehatan masyarakat Kondisi ini merupakan alasan adanya program pengendalian cedera di Indonesia.

     

    Tindak Kekerasan

    Kejadian kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan salah satu masalah yang bersifalglobal yang berdampak luas terhadap kesehatan. Kekerasan terjadi akibat kesenjangan kekuasaan. Terdapat keterkaitan yang kuat antara faktor individu, hubungan, lingkungan maupun masyarakat yang merupakan penyebab terjadinya KDRT.

    Kekerasan tersebut bukan hanya yang berbentuk fisik, tetapi juga kekerasan psikis, sosial ekonomi dan seksual yang sering kali luput dari perhatian. Kematian akibat kekerasan terjadi di negara-negara berkembang mencapai dua kali lipat dari negara maju (Riskesdas 2007).

    Dalam laporan Komnas Perempuan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia meningkat pesat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Jumlah korban kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2009 mencapai 143.586 orang. Angka ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya yaitu 54.425 (2008), 25.522 (2007) dan 22.512 (2006). Menurut bentuk kekerasan yang dialami pada tahun 2009, yang terbanyak yaitu KDRT (95%), diikuti dengan kekerasan komunitas (5%) dan kekerasan berkaitan dengan peran negara (1%). Dalam KDRT, kekerasan seksual merupakan bentuk kekerasan yang mendominasi (48,68%), diikuti dengan kekerasan psikis (48,28%), kekerasan ekonomi (1,83%) dan kekerasan fisik (1,21%).

     

     

    Pekan Keselamatan di Jalan

    PEKAN KESELAMATAN JALAN 2013

    Anak sekolah sebagai Agen Pembaharu  
     

    Kejadian kecelakaan lalu lintas cenderung meningkat dalam jumlah maupun jenisnya dengan angka kesakitan, kecacatan dan kematian yang terus meningkat. Data dunia yang tercakup dalam Global Status Report on Road Safety 2013 menunjukkan bahwa sekitar 1,24 juta orang meninggal setiap tahunnya karena kecelakaan di jalan raya, ini merupakan penyebab kematian urutan ke delapan di dunia. Diperkirakan tahun 2030, bila tidak dilakukan program yang baik, maka kematian akibat kecelakaan di jalan raya akan menjadi penyebab kematian nomor 5 di dunia. Dari segi ekonomi, diperkirakan secara kasar, biaya karena kecelakaan lalu lintas sebesar 1% dari produk national bruto di negara-negara dengan penghasilan rendah, dan semakin tinggi di negara maju.

    Sehubungan dengan hal tersebut, Kementerian Kesehatan yang merupakan bagian dari unsur yang bertanggung jawab terhadap Keselamatan Jalan melakukan upaya pengendalian kecelakaan lalu lintas pada Pekan Keselamatan Jalan tahun 2013 ini yang jatuh pada tanggal 6-12 Mei,  dengan lebih menitikberatkan kepada keterlibatan anak sekolah.

    Pekan Keselamatan Jalan merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan pada Dekade Aksi Keselamatan Jalan (Decade of Action for Road Safety) atau DoA yang merupakan kegiatan yang menyeluruh/komprehensif antar lintas program dan lintas sektor dalam upaya menurunkan angka fatalitas akibat kecelakaan lalu lintas baik secara nasional, regional, maupun global.  Target global DoA adalah menurunkan 50% fatalitas korban dan cedera berat/serius sampai dengan tahun 2020. Dalam mendukung aksi ini, Presiden Republik Indonesia telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan.

    Fokus utama Kementerian Kesehatan pada anak sekolah tahun ini karena pengguna jalan usia muda terutama siswa sekolah merupakan kelompok yang rawan mengalami kecelakaan baik sebagai pejalan kaki, pengendara sepeda maupun pengendara sepeda motor, mengingat tingginya mobilitas siswa terutama saat jam berangkat dan pulang sekolah.  Data dunia menunjukkan kecelakaan di jalan raya merupakan penyebab kematian utama pada anak muda berusia 15 – 29 tahun. Berdasarkan data Kepolisian, pada tahun 2010, kasus KLL tertinggi pada usia 15 – 19 tahun (16.7%), dan jenis kendaraan terbanyak yang terlibat kecelakaan adalah sepeda motor sebanyak 75%.
    Dengan alas an tersebut  Anak usia sekolah perlu mendapatkan pendidikan tentang keamanan dan keselamatan berlalu-lintas sejak dini, dengan membekali pengetahuan dan peraturan lalu lintas pada usia sekolah sehingga dapat menumbuhkan kesadaran tertib dan disiplin berlalu-lintas. Selanjutnya diharapkan kesadaran tersebut menjadi suatu kebiasaan yang akhirnya membudaya di masyarakat. Harapan besar terhadap mereka agar menjadi agen pembaharu yang dapat memberi pengaruh positif terhadap masyarakat di sekitarnya. Kegiatan yang dapat mereka lakukan antara lain seperti meningkatkan kesadaran tentang pengaruh dan risiko Kecelakaan Lalu Lintas terhadap pengguna jalan usia muda dan mempromosikan aksi-aksi yang mendukung keamanan dan keselamatan di jalan seperti : penggunaan helm, sabuk keselamatan, larangan konsumsi alkohol serta pengendalian kecepatan selama berkendara. Pembekalan pengetahuan kepada anak sekolah, yang terdiri dari siswa SM dan SMA ini telah berlangsung pada 6-8 Mei 2013 yang lalu di Pontianak Kalimantan Barat.

    Pesan Keselamatan
    Selain pada aktifitas pembekalan kepada siswa sekolah, pada tahun 2013 ini, Kementerian Kesehatan menyampaikan 20 pesan Keselamatan yang ditujukan kepada masyarakat luas. Isi pesan Pekan Keselamatan Jalan Tahun 2013 sbb :

    • Patuhi aturan dan rambu-rambu lalu lintas
    • Menyeberang di tempat penyeberangan (jembatan penyeberangan atau zebra cross)
    • Pejalan kaki agar berjalan di tempat yang disediakan dan aman
    • Melihat ke kanan dan ke kiri sebelum menyeberang
    • Selalu konsentrasi dan beri tanda bila menyeberang
    • Pastikan pejalan kaki terlihat pengendara, terutama di malam hari
    • Berbusana terang atau mencolok saat berjalan atau berkendara
    • Selalu menggunakan helm yang terstandar saat naik sepeda/sepeda motor
    • Selalu memasang sabuk keselamatan saat naik mobil
    • Kurangi kecepatan saat berkendara
    • Hindari berkendara saat mengantuk/kurang tidur
    • Hindari berkendara saat lelah 
    • Hindari berkendara saat stress
    • Hindari berkendara saat kondisi tubuh tidak sehat
    • Hindari berkendara setelah minum obat yang membuat kantuk
    • Hindari minum minuman keras terutama jika akan mengemudi
    • Hindari membawa beban atau orang melebihi kapasitas kendaraan
    • Hindari berkendara saat cuaca buruk
    • Beristirahatlah jika mengantuk atau kelelahan saat mengemudi
    • Cek kelengkapan kendaraan sebelum berkendara

     

    Kegiatan lain
    Berbagai kegiatan lain juga dilakukan oleh instansi yang berada dibawah Kementerian Kesehatan, sesuai dengan kondisi dan situasi setempat. Kegiatan tersebut antara lain :

    Kampanye dan promosi kesehatan, keamanan dan keselamatan di jalan ditujukan kepada anak sekolah
    Peningkatan kapasitas untuk Pertolongan Pertama pada Kecelakaan.
    Jalan santai, fun bike, senam maupun aktivitas fisik bersama.
    Deteksi dini faktor risiko kecelakaan antara lain tekanan darah, alkohol, Amphetamin, tes Buta Warna dan riwayat penyakit yang berpotensi membahayakan saat berkendara seperti epilepsi, penyakit jantung bawaan, gangguan penglihatan, kelemahan anggota gerak, dan sebagainya) 
    Peragaan misalnya: Peraturan Lalu lintas/senam, berkendara yang aman (safety riding) dan penggunaan Helm SNI.
    Penyebarluasan media cetak (brosur, poster, leaflet) kepada pengguna jalan.

    Dengan adanya upaya-upaya diatas diharapkan dapat tercapai penurunan yang berarti pada angka kecelakaan lalu lintas sehingga mencapai masyarakat yang lebih sehat.

     

    Kanker Pada Anak (1) : Leukemia

    LEUKEMIA

    Pengertian

    Leukemia merupakan penyakit keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang. Biasanya ditandai dengan proliferasi sel-sel darah putih dengan manifestasi adanya sel-sel abnormal dalam darah tepi (sel blast) secara berlebihan dan menyebabkan terdesaknya sel darah yang normal yang mengakibatkan fungsinya terganggu.

    Leukemia dibagi atas :

    1. Akut : Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) dan Leukemia Non Limfoblastik Akut (LNLA) atau Leukemia Mieloblastik Akut

    2. Kronik : Leukemia Mielositik Kronik (LMK)

     

    Epidemiologi 

    Penyakit ini paling banyak dijumpai diantara semua penyakit keganasan pada anak. Leukemia Akut merupakan 30-40 persen keganasan pada anak, puncak kejadian di usia 2-5 tahun. Angka kejadian untuk anak usia kurang dari 15 tahun dengan rata-rata 4-4,5 / 100.000 anak pertahun. Angka kematian karena leukemia di RSCM dan RSKD tahun 2006-2010 adalah sebesar 20-30 persen dari seluruh jenis kanker pada anak.

     

    Gejala dan Tanda 

    • Pucat, lemah, anak rewel, nafsu makan menurun
    • Demam tanpa sebab yang jelas
    • Pembesaran hati, limpa dan kelenjar getah bening
    • Kejang sampai penurunan kesadaran
    • Pendarahan kulit (ptekie, hematom) dan atau pendarahan spontan (epistaksis, pendarahan gusi)
    • Nyeri tulang pada anak
    • Seringkali ditemukan pada anak yang sudah dapat berdiri dan berjalan, tiba-tiba tidak mau melakukannya lagi. Anak merasa lebih nyaman saat digendong.
    • Pembesaran testis dengan konsistensi keras

     

    Diagnosis

    Anamnesa :

    • Pucat
    • Demam tanpa sebab yang jelas
    • Pendarahan kulit
    • Nyeri tulang
    • Lesu, BB menurun

     

    Pemeriksaan fisik

    • Pucat
    • Epistaksis/petekie/ekimosis
    • Pembesaran KGB
    • Hepatomegali
    • Splenomegali

     

    Pemeriksaan Penunjang

    Puskesmas :

    Darah rutin dan hitung jeniss (perhatikan kadar haemoglobin dan trombosit yang rendah, kadar leukosit yang rendah atau meningkat lebih dari 100.000/ml, ada tidaknya sel blast dan hitung jenis limfositer) --) bila didapatkan 2 dari 3 kelainan darah tepi.

    RS Tipe C dan B

    •  Darah rutin dan hitung jenis
    •  Foto toraks AP dan lateral
    •  Aspirasi sumsum tulang
    •  Pungsi lumbal
    •  Sitokimia sumsum tulang

    RS Tipe A

    • Darah rutin dan hitung jenis
    • Foto toraks AP dan lateral
    • Aspirasi sumsum tulang
    • Pungsi lumbal
    • Sitokimia sumsum tulang
    • Imunofenoti ping
    • Sitogenetik
    •  Tatalaksana

    1. Kemoterapi

    2. Penanganan suportif

    • Pemberian transfusi komponen darah yang diperlukan
    • Pemberian komponen untuk meningkatkan kadar leukosit
    • Pemberian nutrisi yang baik dan memadai
    • Pemberian antibiotik, antijamur, dan antivirus bila diperlukan
    • Pendekatan psikososial
    • Perawatan di ruang yang bersih
    • Kebersihan mulut dan anus

     

    Deteksi Dini Kanker

    DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA DAN KANKER LEHER RAHIM

    Layanan deteksi dini kanker yang telah dikembangkan, meliputi deteksi dini kanker payudara dengan metode Clinical Breast Examination (CBE) dan kanker leher rahim dengan metoda Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA), sedangkan kanker anak dilakukan dengan pengenalan dini gejala dan tanda kanker pada anak, yaitu retinoblastoma, leukemia, nasopharing, osteosarkoma, limfoma dan Neuroblastoma.

    Upaya deteksi dini kanker bertujuan selain menemukan lesi prakanker leher rahim juga menemukan kanker pada stadium awal. Kegiatan deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara telah dicanangkan oleh Ibu Negara menjadi program nasional pada tanggal 21 April 2008.Target program ini adalah 80% perempuan berusia 30-50 tahun telah dilakukan deteksi dini dalam jangka 5 tahun. Sampai tahun 2013, program telah berjalan di 32 provinsi pada 184 kabupaten/kota di 462 Puskesmas. Tim Trainer yang sudah dibentuk sebanyak 202 orang (onkolog obsgin, onkolog bedah, obsgin, dokter bedah, dokter umum, bidan) dan 1.352 provider di Puskesmas (dokter umum dan bidan). Cakupan hasil kegiatan sampai 2012, telah diskrining 575.503 orang dan IVA positif 25.805 orang (4,5%), suspect kanker leher rahim 666 (1,2 per 1000), tumor payudara  1.289 (2.2 per 1000).Dapat dilihat pada grafik berikut:

    Kendala yang dihadapi sampai saat ini masih terbatasnya tenaga terlatih serta fasilitas penunjang deteksi dini seperti bahan habis pakai gas krio. Upaya kedepan dalam rangka percepatan pencapaian cakupan program deteksi dini kanker leher rahim, akan dilakukan integrasi program dengan program Keluarga Berencana (KB) dan program Infeksi Menular Seksual (IMS).

     

    Hipertensi menrut Riskesdas 2013

    Prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara, secara nasional tampak mengalami peningkatan pada hasil riskesdas 2013 dibanding riskesdas 2007  yaitu dari 7,6% menjadi 9,5%. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap hipertensi serta deteksi dini hipertensi di masyarakat sudah mulai meningkat.

    Berdasarkan hasil pengukuran, prevalensi hipertensi menunkkan penurunan yaitu dari 31,7% pada  riskesdas 2007 menjadi 25,8 % pada riskesdas 2013. Provinsi Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa Barat dan Gorontalo menduduki urutan 5 teratas prevalensi hipertensi berdasarkan hasil Riskesdas 2013.

     

    Kanker Pada Anak (2) : Limfoma Maligna

     

    LIMFOMA MALIGNUM

    PENGERTIAN

         Limfoma Malignum adalah suatu keganasan primer jaringan limfoid yang bersifat padat.

         Klasifikasi :

    1. Limfoma Hodgkin

    Limfoma Hodgkin merupakan jenis keganasan yang cepat tumbuh secara progresif. Jenis ini dapat disembuhkan dengan pemberian terapi kombinasi yaitu kemoterapi dan radiasi. Rata-rata angka penyembuhan sekitar 93 persen.

    2. Limfoma Non- Hodgkin

    Limfoma Non-Hodgkin merupakan kanker yang berasal dari sel limfosit (limfosit T maupun limfosit B). Terdapat lebih dari 15 tipe berbeda yang dikelompokkan dalam 3 sub tipe, yaitu Limfoblastik Limfoma (LBL), Small Non Cleaved Cell (Burkit's dan Non Burkit's), Large Cell Limphoma (histiositik).

     

    EPIDEMIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

    Pada anak angka kejadian tertinggi yaitu pada usia 7-10 tahun dan lebih banyak dijumpai pada anak laki-laki dibandingkan perempua dengan perbandingan 2,5 : 1. Pada tahun 2006-2010 dijumpai 31 kasus baru di RSKD dan 58 kasus baru di RSCM.

    Meskipun penyebab keduanya belum diketahui, bebe rapa faktor diduga dapat dianggap sebagai penyebab, seperti infeksi virus (Epstein-Barr Virus dan Human Immunodeficiency Virus).

     

     TANDA DAN GEJALA

    • Pembengkakan kelejar getah bening yang progresif di leher (spesifik di supraklavikula), ketiak, pangkal paha dan tanpa rasa nyeri.
    • Sesak napas dan sindrom vena cava superior yang disebabkan oleh desakan tumor di daerah mediastinum
    • Obstruksi saluran pencernaan pada tumor yang berlokasi di abdominal
    • Demam, keringat malam, lemah, lesu, nafsu makan berkurang (BB turun secara progresif)

     

    STADIUM

    • Stadium menurut St.Jude Children's Research Hospital :

    Stadium I :

    • Tumor tunggal (ekstranodal) atau tumor tunggal nodal, kecuali di daerah mediatinum atau abdomen

    Stadium II :

    • Tumor tunggal (ekstranodal) dengan keterlibat dan kelenjar regional pada sisi diafragma pada dua atau lebih area nodul
    • Dua tumor (ekstranodal) dengan atau tanpa keterlibatan kelenjar regional.
    • Tumor lebih dari satu tetapi masih dalam satu sisi diafragma
    • Tumor primer pada gastrointestinal (ileosekal) dengan atau tanpa keterlibatan kelenjar mesenterium. 

    Stadium III

    • Tumor lebih dari 2 (ekstranodal) pada kedua sisi diafragma.
    • Tumor dua atau lebih pada sisi diafragma.
    • Tumor primer di daerah intratorakal (mediastinal, pleura, timus).
    • Tumor meluas pada intraabdominal yang tidak dapat direseksi.
    • Tumor pada paraspinal atau epidural.

    Stadium IV

    • Tumor meluas dengan penyebaran ke sumsum tulang atau susunan saraf pusat.

     

    DIAGNOSIS

    Anamnesis :

    • Benjolan (lebih dari 2 cm) tanpa rasa nyeri dan cepat membesar
    • Sesak napas
    • Demam
    • Keringat malam
    • Lemah dan lesu

     

    Pemeriksaan Fisik :

    • Pembengkakan KGB yang sulit digerakkan di leher (spesifik : supraklavikula), ketiak, pangkal paha, tanpa rasa nyeri
    • Pembengkakan kelenjar tunggal atau multipel pada satu atau beberapa tempat
    • Gejala sesak napas dan sindrom vena cava superior yang disebabkan desakan massa di rongga dada.

     

    Pemeriksaan Penunjang :

    • RS tipe B dan C

    Pemeriksaan darah rutin, LDH, foto toraks, foto abdomen, biopsi, aspirasi sumsum tulang, CT-scan dan pemeriksaan patologi anatomi

    • RS tipe A

    Pemeriksaan darah rutin, LDH, foto toraks, foto abdomen, biopsi, aspirasi sumsum tulang, CT-scan, pemeriksaan patologi anatomi, imunohistokimia dan MRI

     

    TATA LAKSANA

    • Kemoterapi
    • Radiasi

     

     

    NEUROBLASTOMA

    A.      PENGERTIAN

    Neuroblastoma adalah tumor embrional dari sistem saraf simpatis yang berasal dari primitive neural crest.

     

    B.      EPIDEMIOLOGI

    Angka kejadian neuroblastoma adalah 10,5 per 1 juta anak dibawah usia 15 tahun dan tidak ada hubungannya dengan letak geografi dan ras. Jumlah pasien neuroblastoma diperkirakan 10% dari semua tumor pada anak. Kasus yang terjadi pada anak laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda yaitu 1,2 ; 1. Puncak angka kejadian terjadi pada usia antara 0 – 4 tahun dengan rata-rata pada usia 23 bulan. Empat puluh persen gejala timbul dibawah usia 1 tahun dan < 5% diatas 10 tahun. Bayi usia kurang dari 1 tahun prognosisnya lebih baik dibanding anak usia lebih 1 tahun. Pada tahun 2006 – 2010 di RSCM terdapat 52 kasus baru dan RSKD sebanyak 10 kasus baru neuroblastoma.

     

    C.      TANDA DAN GEJALA

    Tanda dan gejala timbul sesuai dengan penyebaran yang terjadi. Penyebaran ke :

    1.       Tulang pre-orbita

    Menyebabkan perdarahan di sekitar mata (hematom) dan mata menonjol.

    2.       Tulang

    Menyebabkan nyeri pada tulang sehingga menyebabkan anak lemah dan gelisah.

    3.       Rongga abdomen

    Menyebabkan perasaan tidak enak, terasa penuh dan diare. Jika sampai menekan pembuluh darah balik dan aliran getah bening tungkai bawah, maka akan timbul bengkak di skrotum dan tungkai bawah. Jika menekan pembuluh darah dapat menimbulkan hipertensi.

    4.       Rongga dada dan leher

    Menyebabkan Sindrom Horner (ptosis unilateral, miosis, anhidrosis/ amata kering) dan sindrom vena cava superior (pembengkakan di leher akibat penekanan vena cava superior oleh massa dalam rongga dada)

    5.       Paraspinal

    Bila menyebar ke foramen neural dan korpus vertebrae dapat menyebabkan nyeri radikuler, lumpuh dan gangguan fungsi kandung kencing dan usus.

     

    D.      STADIUM

    Stadium neuroblastoma Internasional menurut INSS (Brodeour dkk, 1993) :

    I

    Tumor terlokalisasi dengan eksisi luas lengkap, dengan/tanpa adanya penyakit residual secara mikroskopis

    Tidak ada pembesaran KGB ipsilateral dan kontralateral terhadap tumor secara mikroskopis (mungkin didapatkan pembesaran KGB yang melekat pada tumor primer dan diambil secara bersamaan).

    II a

    Tumor terlokalisir dengan eksisi luas tidak lengkap

    Tidak ada pembesaran KGB ipsilateral  terhadap tumor secara mikroskopis  

    II b`

    Tumor terlokalisasi dengan eksisi luas lengkap / tidak lengkap

    Didapatkan  pembesaran KGB ipsilateral  dan tidak melekat pada tumor

    Pembesaran KGB harus tidak didapatkan secara mikroskopis

    III

    Tumor unilateral yang dapat dioperasi dan terjadi infiltrasi melewati garis tengah

    Dengan/ tanpa pembesaran KGB regional

    Tumor terlokalisir unilateral dengan pembesaran KGB kontralateral regional atau tumor di garis tengah dengan adanya perluasan bilateral secara infiltrasi yang tidak dapat dioperasi atau dengan adanya pembesaran KGB

    IV

    Tumor dimanapun dengan penyebaran jauh ke KGB, tulang, sumsum tulang, hepar, kulit dan atau organ lain

    V

    Tumor primer terlokalisir ( Stadium 1, 2a dan 2b) dengan penyebaran yang terbatas pada kulit, hepar dan atau sumsum tulang (khusus untuk bayi usia < 1 tahun)

     

    E.       DIAGNOSIS

    Anamnesis :

    • Benjolan di perut
    • Kebiruan di sekitar mata

    Pemeriksaan Fisik :

    • Teraba benjolan di perut
    • Proptosis
    • Perdarahan di sekitar mata (hematoma periorbita)

    Pemeriksaan Penunjang :

    RS tipe B dan C

    • Darah rutin, fungsi hati, fungsi ginjal, feritin, LDH, aspirasi sumsum tulang, USG abdomen atau CT scan abdomen dan biopsi

    RS tipe A

    • Darah rutin, fungsi hati, fungsi ginjal, Vannyl Mandelic Acid (VMA), feritin, LDH, aspirasi sumsum tulang, USG abdomen atau CT scan abdomen, biopsi dan Metaiodobenzylguanidine (MIBG).

     

    F.       TATA LAKSANA

    1.       Operasi

    2.       Kemoterapi