Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

artikel

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Menyambut Padi Dengan Ngaseuk Di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar

    https://jabarprov.go.id/assets/images/artikel/gambar_art435.jpg

    Indonesia adalah negara yang memiliki ribuan budaya dan adat istiadat. Tak jarang, kearifan lokal yang tersebar dari Sabang sampai Merauke belum banyak diketahui masyarakat luas. Nah, salah satu kearifan lokal yang patut kamu ketahui adalah ritual Ngaseuk yang rutin dilakukan oleh Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar di Kabupaten Sukabumi. 

    Sudah tahu belum apa itu kasepuhan? Kasepuhan sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti golongan yang terdiri atas orang-orang lanjut usia yang sangat dihormati oleh warga desa yang berfungsi sebagai penasihat kepala desa. Di artikel ini tentunya akan dibahas seputar ritual yang ada di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar. Penasaran kan dengan ritual ini? Yuk simak penjelasannya!

    Ritual Ngaseuk adalah tradisi tahunan yang rutin dilakukan oleh Kasepuhan Ciptagelar. Ritual ini hakikatnya memiliki makna ‘waktu penanaman padi’. Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar sendiri dikenal sebagai kampung yang masih mempertahankan tradisi adat nenek moyangnya terutama pada sektor pertanian. Masyarakat setempat memaknai padi sebagai Dewi Sri. 

    Dewi Sri diartikan sebagai ‘yang memberi hidup’, artinya padi dimaknai sebagai pemberi hidup masyarakat kampung Adat Ciptagelar dan menjadi simbol yang penting bagi kasepuhan ini. Hal menarik yang patut kamu ketahui adalah larangan menjual padi atau beras bagi masyarakat setempat. Jadi, Setiap hasil panen yang mereka dapatkan dimanfaatkan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan makan. Sisanya dikumpulkan di satu tempat yang disebut leuit.

     Larangan menjual padi ini tak lain karena makna penting yang mereka percaya mengenai padi. Kasepuhan Ciptagelar meyakini bahwa dengan menjual padi berarti sama saja dengan menjual kehidupan. Saking pentingnya makna padi bagi mereka, prosesi penanaman padi harus diawali dengan Ritual Ngaseuk loh!

    Ritual Ngaseuk menjadi penanda awal waktu bertani masyarakat Ciptagelar. Ritual ini dimulai ketika sesepuh masyarakat turun ke lahan huma (lahan bertani) untuk memulai prosesi penanaman. Tidak lupa, alunan musik angklung Buhun Dogdog Lojordan dan seni Jipeng mengiringi prosesi ini. Setelah dimulainya prosesi Ngaseuk, maka proses penanaman padi dilanjutkan ke tahap lahan basah. Waktu berakhirnya Ngaseuk ditentukan langsung oleh masyarakat dan akhir dari ritual ini ditandai dengan adanya prosesi yang disebut dengan ‘Tutup Nyambut’. 

    Menarik bukan? Jika kamu berkesempatan mengunjungi Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar, jangan lupa untuk menyaksikan Ritual Ngaseuk, ya! [DAA]

           
           

    Artikel Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus