Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

artikel

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Harumnya Wine Kopi dari Cisanti

    https://jabarprov.go.id/assets/images/artikel/gambar_art436.jpg

    Aroma harum kopi menyeruak indra penciuman di jalan kecil tak jauh dari Titik Nol Kilo Meter Citarum atau Situ Cisanti. Aromanya semakin menarik terlebih hari itu, Minggu (20/12/2020), cuaca di kawasan Situ Cisanti sangat dingin. Hujan yang turun sejak pagi membuat suhu menyentuh 16 derajat Celcius. Tertera jelas di handphone.

    Saat disambangi, nampak beberapa orang sudah terlebih dulu asik menyeruput kopi di kedai kopi yang dinamakan  Kedai SAPoci. Kedai berlokasi di kampung Babakan Ranca, RW 20, Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. 

    “SAPoci itu singkatan, artinya sapopoe  cikopi,” ujar Uus Kusmana. Yang berarti “setiap hari minum kopi”.

    Uus mengatakan kedai kopi dibuat untuk menjadi contoh dari sistem produksi pertanian yang terintegrasi. Menurutnya kopi yang diseduh adalah kopi lokal khas Gunung Wayang dan merupakan hsil penanaman warga setempat. Kopi ditanam diantara pohon-pohon keras di tanah milik PTPN atau Perhutani Jabar. Karena memang sebagian besar warga kampung tidak memliki lahan pertanian.

    “Adalah sekitar satu hektare kalau di hitung, hasilnya sekitar 60 kilo gram kopi green bean kategori wine dan honey,” katanya.

    Uus merupakan koordinator pada kominutas warga desa tersebut. Melalui Institut Gunung Wayang, bersama anak-anak muda desa yang ingin merubah penghidupan, mereka memulai memanfaatkan potensi lahan yang ada. Sebelum menanam kopi, sudah banyak yang dilakukan. Seperti memberikan pelatihan mengolah kotoran sapi, sambah organik dan juga memanfaatkan lahan sempit sekitar rumah.

    “Kopi ini paling baru tapi hasilnya paling menarik buat anak-anak muda kampung. Agar semakin tertarik, selain menanam bibit kopi unggul juga disiapkan titik akhir bagi pemasarannya, yakni kedai kopi ini,” jelasnya.

    Untuk mencapai titik saat ini,menurut Uus tidaklah mudah. Institut gunung Wayang pertama kali dibentuk tahun 2013 dan baru bergerak tahun 2014. Kondisi warga pkampungan yang serba terbatas baik dasi sisi kepemilikan lahan dan kepandain membuatnya harus bekerja keras meyakinkan warga, khususnya pemuda desa.

    Bersama-sama dengan karang taruna desa, kini ada 15 pemuda yang aktif bergerak untuk membangun desa melalui potensi yang ada. Untuk diketahui, Desa  Tarumajaya memiliki lebih dari 13 ribu penduduk dimana sebagian besar warga menjadi petani dan peternak. Penguasaan lahan warga hanya 3 persen sisanya dimiliki PTPN (43,7 persen) , Perhutani (29,9 peresen) dan London Sumatra (22,9 persen).

    “Setelah dinikmati kopi dari Gunung Wayang, dikawasan Nol Kilo Meter ini memiliki kualitas sangat baik, wine kopi menjadi unggulan disini. Banyak yang ingin membeli tetapi kami sudah sepakat, hasil produksi harus dinikmati warga kampung, apalagi produksinya hanya sedikit saja. Kini banyak kedai kopi muncul dengan bahan kopi asli Cisanti,” tegasnya.

    Untuk tetap menjaga kualitas dan produksi, melalui Institut Gunung Wayang, Uus dan karang taruna memberikan pelatihan kepada warga bagaimana menanam, merawat pohon hingga pemetikan saat panen. Pengolahan biji kopi setelah panen hingga menjadi green bean pun terus diawasi sehingga menghasilkan kopi yang nikmat dan memiliki harga jual tinggi. “Alhamdulillah ekonomi warga kampung sudah semakin membaik dengan kopi,” tegasnya.

    Wisata Ekovilage Tarumajaya


    Obrolan di Kedai SAPoci semakin hangat saat Kepala Desa Tarumajaya Ahmad Ikhsan ikut bergabung. Rupanya Uus dan kepala desa sudah satu frekwensi dalam pengembangan desa. Kepala desa yang usianya masih muda membuat komunikasi berjalan cukup baik. 

    “Ada sebelas potensi yang ingin saya bangun di desa ini, salah satunya wisata. Bukan hanya Situ Cisanti saja, tapi wisata kampung atau ecovilage Tarumajaya. Wisata edukasi bisa dikembangkan disini,” tegas Ahmad Ikhsan.

    Menurutnya, saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Situ Cisanti beberapa waktu lalu, masih ada satu persoalan yang harus diselesaikan, yakni penginapan bagi wisatawan. Hal itu diakuinya. Namun untuk sementara, rumah-rumah warga kini bisa diberdayakan menjadi lokasi home stay.

    “Sudah ada beberapa yang mau, cukup lumayan menambah penghasilan. Semalam bisa dapat Rp300 ribu dari wisatawan yang menginap. Itu sudah termasuk makan,” tegasnya.

    Berbekal hadiah uang dari program Kampung Berseri Astra (KBA) 2020 dan hasil swadaya desa, upaya pembenahan desa pun dilakukan. Langkah awal yang dilakukan adalah mengurangi limbah kotoran ternak sapi agar tidak mencemari hulu Sungai Citarum.

    Limbah kotoran sapi kini tidak boleh langsung dibuang ke sungai, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat Bio Digester. Uus bersama dengan warga kemudian belajar otodidak untuk membuat reaktor kecil penghasil gas metan dari kotoran sapi. “Warga saat ini sudah bisa membuat sendiri alatnya, bahkan kampung lain banyak yang belajar dari sini. Kita belajar otodidak saja, sesuai kemampuan warga,” jelasnya.

    Selain Bio Digester, kotoran sapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media untuk beternak cacing. Produksi pupuk cair dari sampah dan limbah juga sudah bisa dilakukan sehingga kini warga tidak perlu lagi memngeluarkan uang untuk pupuk bagi tanaman sayuran mereka.

    “Semua menggunakan bahan organik, sehingga kini kami dikenal sebagai kampung organik,”  tegasnya. 

    “Kini semua warga sudah satu irama dan siap membentuk Kampung Bandung, singkatan dari Bersih, Aman, Nyaman,Dinamis dan Unggul. Dengan lahan yang sempit, mereka sudah bisa menjadi petani irit lahan. Tanam apa saja di halaman rumah, hasilnya untuk kebutuhan sendiri. Kalau  ada hasil lebih, bisa jual kewarung sebelah. Apalagi jika nanti wisata edukasi ecovilage Tarumajaya sudah bergulir, saya kira warga semakin berdaya,” jelasnya.

    Saat menyusuri rumah-rumah di Tarumajaya, tepatnya di Kampung Babakan Ranca, halaman sempit rumah warga tidak ada yang  terlewat tanpa ditanami. Bahkan diluar pagar rumah, dengan media tanam sederhana, mereka menanam bawang daun, tomat dan ketimun. Desa yang terletak di Nol Kilo Meter Citarum itu nampak asri dan hijau. (teguh)

           
           

    Artikel Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus