Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Revisi Undang-undang Haji Mesti Menjadi Prioritas

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_10103.jpg

    BANDUNG-Dalam releasenya yang disampaikan kepada redaksi jabarprov.go.id, Senin (10/11), Ledia Hanifa mengungkapkan, bahwa revisi Undang-undang Haji No 13 tahun 2008 diminta tetap menjadi prioritas dalam usulan prolegnas tahun 2015.

    Menurutnya, hal demikian  terungkap dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) antara Komisi VIII DPR RI dengan perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Asosiasi Muslim Penyelenggara Umroh dan Haji Republik Indonesia (AMPHURI), Asosiasi Muslim Penyelenggara Umroh dan Haji (AMPUH) dan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) hari Senin (10/11) di Senayan.

    Ledia Hanifa yang juga Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI itu, menjelaskan, meskipun dalam beberapa tahun terakhir survey BPS mengenai kepuasan jamaah haji menunjukkan adanya peningkatan penilaian sampai mendekati angka 83%, tidak berarti penyelenggaraan ibadah haji tidak memiliki catatan. Bahkan, beberapa catatan yang ditemui dalam pengawasan ibadah haji oleh Komisi VIII DPR RI merupakan catatan berulang yang sudah beberapa tahun menjadi masalah, seperti soal pemondokan, katering, layanan kesehatan dan transportasi.

    Dalam RDPU kali ini, perwakilan ormas dan lembaga memberi laporan mengenai beberapa kendala yang muncul di tengah penyelenggaraan ibadah haji terakhir bulan lalu, misalnya soal sulitnya pembimbing ibadah haji reguler mendampingi jamaah KBIH-nya karena persoalan keterbatasan kuota dan kelambatan visa, soal pembinaan jamaah haji serta pembatasan pilihan ibadah bagi jamaah sehingga jamaah yang memilih melakukan sunnah tarwiyah tidak disediakan transportasi oleh pemerintah.

    Oleh karena itu Ledia menilai menjadi  sangat penting bagi komisi 8 untuk segera membahas revisi UU 13 th 2008 tentang  penyelenggaraan ibadah haji agar pengaturan mengenai penyelenggaraan ibadah haji  menjadi lebih komprehensif, sebab terkait dengan kegiatan di tanah air, sejak pendaftaran di wilayah masing-masing, menjelang keberangkatan di embarkasi, di tanah suci sebelum dan saat melakukan ritual ibadah hingga fase kembalinya jamaah ke tanah air.

    “Memang kita patut bersyukur sudah ada Undang-undang No  34/2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji. Namun perlu diingat bahwa UU ini bersifat lex spesialis dari undang-undang penyelenggaraan haji itu sendiri. Sehingga UU 13 tahun 2008nya harus segera direvisi agar tidak ada tumpang tindih peraturan di beberapa bagian, sambil juga menyisakan berbagai persoalan mendasar yang haiarus dipenuhi yang belum bisa dipenuhi hanya dengan meregulasi persoalan keuangannya saja.” kata aleg Fraksi Partai Keadilan Sejahtera ini menjelaskan.

     

     

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus