Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Babad Padjadjaran Akan Menjadi Memory Of The World

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_15126.jpg

    BANDUNG- Setelah Negara Kertagama, La Galigo, dan Babad Diponegoro resmi terdaftar di Memory  of the World  (MOW),  sudah  saatnya Babad Padjadjaran, karya historiografi tradisional Sunda menyusul  menjadi nominasi berikutnya. 

    Hal demikian terungkap dalam Focussed Group Discussion (FGD) yang digelar Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Bapusipda) Provinsi Jawa Barat di Aula Bapusipda Lt.4 Gedung Bapusipda Provinsi Jawa Barat, Jalan Kawaluyaan Indah II Nomor 4, Kota Bandung, Rabu (02/12).

    “Bukan karena  tuturut munding (ikut-ikutan) akan tetapi warisan budaya literatur asal Jawa Barat ini  adalah kekayaan khazanah budaya nasional yang sangat pantas untuk diketahui  warga dunia,” kata Suherman, MSi. Ketua Masyarakat Literasi Indonesia/Pustakawan LIPI, salah seorang narasumber dalam FGD tersebut.

    MOW, jelas Suherman,  adalah salah satu program dari UNESCO yang didirikan pada tahun 1992. Program ini  bertujuan untuk melakukan preservasi warisan literasi dunia yang rusak akibat perang atau pergolakan sosial dan melindungi naskah dari pencurian atau penjarahan. Filosofi dari program ini adalah dokumen (warisan literasi) dunia merupakan milik semua dan harus dapat diakses oleh semua.  

    “MOW  membantu akses universal  ke  documentary heritage dan juga turut  meningkatkan kesadaran dunia tentang keberadaan dan signifikansi documentary heritage,” katanya.

    Menurut Suherman, ada beberapa hal yang melatari kepantasan Babad Padjadjaran menjadi MOW  tersebut.  Pertama, secara substantif  Babad Padjadjaran  bercerita tentang Kerajaan Padjadjaran yang merupakan kerajaan terbesar di Tatar Sunda. Kedua, Babad Padjadjaran memiliki naskah yang lengkap sehingga secara administratif akan memudahkan pendaftarannya  menjadi MOW.  Ketiga,  ini adalah salah satu langkah strategis untuk  ngamumule (revivalisasi dan revitalisasi) nilai-nilai luhur  atau kearifan  budaya  Ki Sunda.

    Upaya ngamumule sudah lama dilakukan oleh para inohong (tokoh) dengan berbagai pendekatan di antaranya: pertama, pendekatan institusional  misalnya dengan didirikannya Puseur Budaya Sunda dan  Pusat Studi Sunda. Kedua, pendekatan konsitutusional yaitu dengan peraturan daerah atau peraturan kepala daerah tentang berpakaian adat Sunda di hari-hari tertentu atau acara-acara tertentu serta Bahasa Sunda dimasukkan kedalam kurikulum sekolah.  Ketiga, pendekatan kultural yang dilakukan dengan cara mengadakan berbagai macam kegiatan misalnya, pasang giri, lomba membaca pupuh, dan lain-lain.

    “Gerakatan ngamumule melalui MOW adalah juga  bisa menjadikan upaya untuk menghadang budaya bangsa deungeun (Barat ) yang telah lama meminggirkan bahkan mengubur  sebagian budaya adiluhung Sunda sehingga jati diri bangsa juga ikut hancur (jati kasulih ku junti).  Diam-diam banyak masyarakat yang merindukan untuk berjumpa kembali  dengan kearifan lokal  Ki Sunda. Sebagai contoh, anjuran dari pemerintah daerah untuk mengenakan  pakaian khas Sunda (teruma totopong/iket dan pangsi)  disambut antusias oleh masyarakat,” tuturnya. (enal)  

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus