Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Penduduk Jabar yang Diyakini Mengkonsumsi Air Bersih Baru 48%

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gub1-poned.jpg

    BANDUNG- Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2010, jumlah penduduk Jawa Barat mencapai 43.021.826 jiwa. Ternyata, dari jumlah sebanyak itu, penduduk Jawa Barat yang diyakini mengkonsumsi air bersih dalam kehidupan sehari-harinya hanya 48 persen saja. Sisanya,  yang 52 persen lagi, mengkonsumsi air yang belum dijamin kebersihannya.

    “Kalau sekedar hanya untuk mandi, barangkali tidak ada persoalan. Tapi, kalau sudah sampai ke urusan perut, ini parah. Barangkali ke depan diskusi-diskusi tentang bagaimana menghadirkan layanan air bersih bagi masyarakat luas, perlu dihidupkan,” kata Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan pada acara Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kabupaten/Kota se-Jawa Barat tentang Pengembangan Puskesmas menjadi Puskesmas yang berfungsi sebagai Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED), di Aula Barat Gedung Sate, Bandung, Kamis (13/1).

    Di negara-negara Eropa, lanjut Gubernur, ada semacam  polisi kesehatan yang bertugas memeriksa satu persatu rumah-rumah penduduk. Mengecek apakah air yang diminum oleh penduduknya sudah air bersih atau belum. Kalau sudah air bersih, rumah tersebut diberi tanda bersih.

    “Sedangkan di kita, belum mengetahui secara spesifik, apakah rumah-rumah yang dihuni oleh rakyat kita, airnya sudah bersih atau belum. Jarak antara sumur dengan septitanknya sudah memenuhi sarat kesehatan atau belum. Ini menjadi perhatian kita,” katanya.

    Faktor lingkungan, termasuk air, menurut Gubernur, besar pengaruhnya terhadap kesehatan seseorang, yaitu mencapai 40 persen. Faktor lainnya adalah faktor keturunan sebesar 5 persen dan faktor gaya hidup sebesar 35 persen. Sedangkan sisanya yang 20 persen adalah faktor  layanan kesehatan.

    Jadi, membangun rumah sakit, membangun puskesmas poned, kemudian menyebar dokter dan mengerahkan bidan, pengaruh maksimalnya terhadap kesehatan masyarakat adalah 20 persen. Namun, yang 20 persen ini menjadi siginifikan kalau pembangunan lingkungan dan gaya hidup masyarakatnya tidak dilaksanakan dengan baik atau tidak menunjang kesehatan.

    “Mudah-mudahan pembangunan rumah sakit PONED ini menghadirkan dua dimensi kepentingan. Kepentingan pertama dalam rangka pengobatan mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Kepentingan kedua, adalah bagaimana menghadirkan gaya hidup sehat dalam masyarakat kita,” katanya. (enal)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus