Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Kang Aher Dapat Penghargaan Sebagai Guru On Line

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_15373.jpg

    BANDUNG-Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan (Kang Aher) menerima piagam penghargaan sebagai Guru On Line dari Yayasan Pendidikan Alma’mun Education Center (AMEC) di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (21/12).

    “Dari 100 tokoh nasional yang kami cermati tulisan-tulisannya di media sosial twitter, Kang Aher menempati ranking pertama yang twittnya mengandung pendidikan dan agama. Tulisan Kang Aher  bahasanya sangat mendidik dan religus. Itu sangat penting sekali bagi anak-anak didik kita,” kata Direktur Sekolah Al-Ma’mun Education Center (AMEC), Ma’mun Ibnu Ridwan, usai memberikan Piagam Penghargaan Guru On Line kepada Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan yang akrab disapa Kang Aher kepada wartawan.

    Menurut Ma’mun, Kang Aher memiliki lebih dari 319.000 follower yang berdasarkan pengamatannya selalu memberikan respon positif setiap Kang Aher menulis dalam twitternya dengan kata-kata dan bahasa yang sangat mendidik dan religius.

    “Misalnya, ayo solat subuh. Sebelum tidur kita baca doa’. Ini mendapatkan respon yang tinggi sehingga banyak yang meretwitt, dan ada juga yang memberikan respon. Kita melihat bahwa hal itu penting sekali bagi dunia pendidikan, karena sekarang ini dunia pendidikan kita, diisi juga oleh dunia on line,” katanya.

    Mamun menjelaskan, bahwa guru itu ada tiga kategori, yaitu guru formal seperti guru-guru di sekolah, guru non formal seperti para tokoh dan guru in formal, yaitu seperti orang tua di rumah.

    “Jadi, jangan lupa, kita semua adalah guru. Makanya, kami memberikan apresiasi kepada semua orang yang punya komitmen bahwa apa yang disampaikannya akan ditiru sama anak-anak,” katanya.

    Sekarang, lanjut Ma’mun, guru-guru kalah cepat dengan komentar para tokoh di twiitternya. “Makanya tokoh itu, jadi panutan anak-anak. Kita memberikan apresiasi, sebaiknya tokoh itu hati-hati kalau memberikan twitt karena yang membaca itu banyak anak-anak,” katanya.

    Ma’mun melihat banyak tokoh nasional yang twittnya mengancam tumbuih kembang anak, bahkan meracuni anak-anak. Misalnya ada istilah papa minta saham, ada kata-kata dikandangin dan anak tidak mengerti kepada hal itu, tapi dia membacanya, bahkan dikomentari.

    “Kalimat itu membahayakan anak-anak karena anak-anak sifatnya meniru, tapi kan tidak bisa dihindari. Makanya kami punya pikiran untuk memberikan apresiasi kepada para tokoh yang twittnya itu mendidik dan religius.  Sekaligus kita mengingatkan bahwa twittnya para tokoh itu, dibaca juga oleh anak-anak kita. Jangan seenaknya memberikan komentar sehingga merugikan anak didik kita sendiri,” katanya.

    Surprise Bagi Kang Aher

    Bagi Kang Aher sendiri, penghargaan tersebut merupakan surprise (kejutan).

     “Ini surprise, loh ternyata ada yang memperhatikan  (twitter) juga,” kata Kang Aher ketika ditanya ihwal penghargaan tersebut oleh wartawan.

    “Apa makna penghargaan ini buat Kang Aher,” tanya wartawan lagi.

    “Ya artinya, apa pun yang kita lakukan ketika bahasa kita positif, ya positif juga pengaruhnya. Memang kita harus menjadi bangsa yang selalu positif. Berfikir positif, berkata positif, bekerja positif. Sesuatu yang negative dibahasakan dengan positif jadi enak kan,” katanya.

    Aher mencontohkan  bahasa yang positif,  misalnya, kita bisa menjadi juara meskipun sarana dan prasarananya tidak seberapa.

    “Jangan mengeluh dulu dengan bahasa yang negative, contohnya, aduh sarana prasarananya engga seberapas sih. Kurang sarana prasarananya, engga diperhatikan.  Contoh linnya bahasa yang positif, kita menjadi juara renang meskipun latihannya di sungai. Ada kan perenang banyak latihannya di sungai, tapi menang jadi juara,” tutur Kang Aher.

    Contohnya lagi, lanjut  Kang Aher, seperti di Jawa Barat, cabang Anggar kan tidak punya gedung, tapi setiap peristiwa PON dan perhelatan olahraga nasional selalu mendapatkan medali.

    “Kita selalu dapat medali meskipun sarana prasarananya belum ada, atau kurang.  Itu bahasa positif. Sekarang itu, kita sebagai bangsa mari berfikir positif, berkata juga dengan kata yang positif. Kita dikenal sebagai bangsa yang dermawan memuji, itu dulu.  Tapi sekarang, entah siapa yang memicunya, lebih banyak mencaci daripada memuji,” katanya. (enal)

     

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus