Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Bapusipda Fokus Menggali 7 Unsur Budaya Lokal

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_17609.jpg

    BANDUNG-Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Bapusipda) Provinsi Jawa Barat melalui Bidang Deposit dan Pengolahan Bahan Perpustakaan terus melakukan penggalian nilai budaya Jawa Barat.

    “Kita punya fokus atau punya konsentrasi untuk menggali budaya lokal terus menerus untuk membangun karakter, membangun jatidiri Jawa Barat dengan konsep ada tujuh unsur budaya,” kata Kepala Bidang Deposit dan Pengolahan Bahan Perpustakaan Badan Perpustakaan dan Kersipan Daerah (Bapusipda) Provinsi Jawa Barat, Dr. Hj. Oom Nurrohmah, Msi kepada jabarprov.go.id.

    Ketujuh unsur kebudayaan tersebut, menurut Hj. Oom, adalah bahasa, peralatan hidup dan teknologi, mata pencaharian dan ekonomi, sistem kekerabatan dan organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi dan kesenian.

    “Banyak kekayaan bahasa di Jawa Barat. Jawa Barat juga kaya akan seni, ada seni tekstil tradisional, seni ukir, seni arsitektur, seni tari, seni suara, seni beladiri, seni drama, seni sastra, seni musik dan ada seni sastra lisan atau folklor.  Nah itu harus kita gali melalui karya tulis, karya cetak dan karya rekam. Karya tulis, karya cetak dan karya rekam tersebut harus didata dan dimiliki untuk kemudian didesiminasikan kepada masyarakat luas,” katanya.

    Dalam hal unsur sistem kekerabatan dan organisasi sosial, di masyarakat Jawa Barat dikenal dengan istilah pancakaki. Dalam unsur agama, di Jawa Barat banyak upacara-upacara adat atau kegiatan-kegiatan tradisional yang berbasis kepercayaan. Dalam unsur perlengkapan hidup, di Jawa Barat ada mengenal istilah peperenian, misalnya ada boboko, centong, siwur, nyiru dan hidid. Di peperenian ternyata ada alat-alat perang atau senjata, misalnya Kujang. Ternyata Kujang juga beda-beda bentuk dan filosofinya, beda-beda maknanya; ada kujang untk perang dan kujang untuk perkakas.

    “Dalam unsur mata pencaharian, kita gali bagaimana masyarakat Jawa Barat bertani, ada ngahuma dan nyawah dan dalam prosesnya ada yang disebut ngawaluku, tandur, ngarambet, bagaimana memanennya, nah itu harus terakomodir dan dari generasi ke generasi berikutnya harus paham itu, harus melestarikannya, harus ngamumule,” katanya. (enal)

     

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus