Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Merekonstruksi Kesenian Tradisional Cepet

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_17649.jpg

    BANDUNG- Balai Pengelolaan Taman Budaya Disparbud Provinsi Jawa Barat dalam tahun anggaran 2016 dalam upaya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan seni budaya daerah Jawa Barat antara lain merekonstruksi kesenian tradisional Cepet.

    “Seni Cepet adalah salah satu kesenian yang tumbuh di Kampung Jaringao, Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabimi. Kesenian ini menurut sejarah yang kami dapatkan tentang perjalanannya merupakan sebuah kesenian ritual yang diangkat masyarakat Jaringao, dimana ini berangkat dari sebuah pemikiran dan pengalaman-pengalaman masyarakat di sana tentang halnya Cepet. Cepet di sini, diartikan oleh orang adalah kita adalah Sandekala. Misalnya, ulah ulin wanci maghrib bisi aya Cepet. Mun di urang mah bisi aya Sandekala,” tutur Kepala Seksi Pengembangan Balai Pengelolaan Taman Budaya Disparbud Jabar, Iwan Gunawan, S.Sn, MM kepada jabarprov.go.id.

    Kesenian Cepet ini, menurut Iwan, ternyata setelah diungkit menjadi sebuah karya seni memberikan semacam gambaran kehidupan manusia dan kehidupan yang lainnya yang ada di Jagatraya ini. Kesenian ini diangkat menjadi sebuah penyajian yang sangat unik, dimana bentuk penyajiannya dalam karya reportoar, dan sekarang justru lebih cenderung dimainkannya dalam perhelatan pernikahan dan sunatan.

    “Ini merupakan sebuah aspek hiburan yang cukup menarik, yang juga memberikan semacam nilai filosofis yang bahwasanya kita harus eling dan kita harus meyakini bahwasanya betapa kuasanya, betapa sangat mulia karya cipta Allah SWT di Jagatraya ini. Ini disajikannya cukup menarik dan Insya Allah nanti rencananya kita akan bawa di tanggal 19 Agustus 2016 dalam acara kegiatan pembukaan pameran festival ciletuh di Trans Studio BSM, Bandung,” katanya.

    Dalam pembukaan pameran Ciletuh itu, menurut Iwan akan melibatkan 50 orang pelaku seni, terdiri dari pemain yang disebut anak wayang, pemain pengrawit dan ada pemain yang disebut pawang dan merupkan sebuah kolaborasi antara seni kuda lumping, bangbarongan, berokan dan Cepet. (Adi)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus