Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Lokasi Hotel Jemaah Haji Indonesia di Madinah Masih Terlalu Jauh

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_19030.jpg

    BANDUNG–Fasilitas hotel bagi Jemaah Haji Indonesia di Madinah, khususnya persoalan lokasi, masih terlalu jauh, meskipun telah berada di area lingkar (ring) satu di Masjidil Haram. Hal demikian, diungkapkan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Iskan Qolba Lubis, dalam rilis yang diterima jabarprov.go.id, Kamis (8/9).

    Dari hasil pemantauan, ungkap Iskan “Sejauh ini kondisi hotel di Madinah, sejumlah 115 buah yang disewa bagi jemaah haji terletak di ring satu, namun waktu yang sama di Makkah tidak banyak peningkatan, karena masih ada hotel dengan jarak mencapai 4.398 m. Jarak sejauh itu sudah pasti jemaah lansia sulit ke mesjid,”.

    Kementerian Agama (Kemenag) selama ini dinilai belum transparan menyangkut fasilitas bagi Jemaah Haji Indonesia di tanah suci. Sebab, selama ini Kemenag hanya menyampaikan data yang sangat normatif dan tidak substantif. Hal itu membuat Komisi VIII DPR RI kurang optimal dalam fungsi pengawasan.

    “Data yang disampaikan hanya sekitar tahapan penyelenggaraan haji yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, namun pada waktu yang sama proses tender, pengelolaan APBN, dan dana masyarakat yang dikelola Kemenag seolah tertutup rapat,” ungkapnya.

    Belum idealnya fasilitas bagi Jemaah Haji Indonesia ini, semakin menguatkan upaya untuk memisahkan antara regulator dan operator dalam penyelenggaraan haji. Apalagi, Kemenag mengendalikan dana lebih dari Rp. 50 triliun, namun tidak dikelola secara profesional, sehingga tidak bermanfaat secara optimal bagi Jemaah Haji Indonesia.

    “Untuk petugas haji saja, tercatat saat ini di Makkah berjumlah 856 orang, PPIH Kemenag sebanyak 267 orang, PPIH Kemenkes berjumlah 162 orang. Belum lagi Temus Kemenag berjumlah 159 orang, Temus Kemenkes 159 orang, dan Temus Transportasi berjumlah 118 orang. Namun dengan jumlah sebanyak itu, terlihat layanan masih di bawah standar, padahal yang dibutuhkan tenaga lapangan dari mahasiswa dan mualimin yang tinggal di sana, sehingga efektif dan efisien,” tegasnya.

    Belum maksimalnya pelayanan haji tersebut juga berlaku untuk fasilitas kesehatan. Hal itu sebagaimana tercatat di Kementerian Kesehatan bahwa Jemaah Haji Indonesia yang meninggal sebanyak 70 orang karena menderita sakit jantung.

    “Banyaknya korban meninggal karena jantung itu, disebabkan fasilitas kesehatan tidak memadai. Selama ini fasilitas hanya sekelas klinik pratama, padahal Indonesia seharusnya punya rumah sakit sendiri di Arab Saudi,” pungkas Iskan mengakhiri penjelasannya. (NR)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus