Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Diperlukan Upaya Tingkatkan Teknologi Pengolahan Garam

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_19642.jpg

    BANDUNG–Anggota Komisi IV DPR RI Akmal Pasluddin menyesalkan peningkatan jumlah impor garam tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya, baik untuk garam industri maupun rumah tangga.

    Hal tersebut, menunjukkan belum adanya political will untuk meningkatkan teknologi pengolahan garam secara mandiri dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor.
     
    “Oleh karena itu, regulasi harus sampai pada titik swasembada garam yang memerlukan harmonisasi 4 kementerian, yakni Kementerian Kelautan Perikanan, Kementerian BUMN, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan. Masing-masing harus saling mendukung, mulai dari pembinaan petani garam agar kualitas produksinya baik, pembinaan pabrik-pabrik garam oleh Kementerian Perindustrian, PT. Garam selaku BUMN menyerap sebesar-besarnya garam petani dan pengendalian harga oleh Kementerian Perdagangan,” jelas Akmal dalam rilis yang diterima jabarprov.go.id, Jum'at (21/10).
     
    Akmal mengungkapkan jumlah impor garam kian meningkat tahun ini. Negara ini belum ada perbaikan dalam tata kelola garam apalagi hingga mencapai tahap menghentikan impor garam. “Hal ini menunjukkan pemerintah belum mengeluarkan kekuatannya untuk serius mengelola garam dengan teknologi yang baik hingga memenuhi kualitas kebutuhan garam industri maupun konsumsi,” tegas wakil rakyat PKS dari Dapil Sulawesi Selatan II ini.
     
    Impor garam dari luar ke Indonesia, didominasi oleh Australia dan India. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan maret 2016, Indonesia impor garam senilai US$ 11,4 juta pada saat itu dengan jumlah garam seberat 276.299 ton.  Negara yang memasukkan garam ke Indonesia pada waktu itu antara lain Australia, India, Selandia Baru, Inggris, Singapura, dan negara lainnya.
     
    Namun, bila dihitung keseluruhan tahun ini dari Januari hingga September 2016, tampak negara Tiongkok terlihat signifikan memasukkan garam di Indonesia. Dari total 1,4 juta ton garam senilai US$ 57,3 juta yang masuk Indonesia tahun ini, Tiongkok memasukkan garam terbesar ke empat setelah Australia, India, dan Selandia Baru.
     
    “Dari Periode yang sama, Januari-September, antara 2015 dan 2016, impor garam sudah meningkat 200 ribu ton,”. Oleh karena itu, Akmal berharap, pemerintah mulai berpikir dan bekerja untuk mencapai swasembada garam baik konsumsi maupun industri.  “Bentangan pantai kita sangat panjang, sangat wajar bila kita mampu mencapai swasembada garam”, ujar  Andi Akmal Pasluddin. (NR)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus