Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Penanganan Banjir Harus Sistematis

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/20101211_013259_Banjir-Bdg-Selatan.jpg

    Pemerintah sudah saatnya menjalankan program penanganan bencana banjir secara sistematis. Program tersebut lebih menitikberatkan pada program mitigasi bencana banjir, serta konservasi daerah pengaliran sungai, terutama pada daerah dengan kemiringan lereng 20 derajat ke atas. Demikian dikatakan anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS), Yudi Widiana di Bandung hari ini, menanggapi bencana banjir yang terjadi di Ciamis dan Pandeglang.

    Kondisi banjir bandang di Desa Padamulya, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat diketahui terjadi setelah longsornya kaki Gunung Sawal. Akibatnya, 2 orang tewas, 120 luka-luka dan 30 rumah hanyut terbawa air.

    “Alam akan memberikan banyak manfaat jika pengolahannya dilakukan dengan memperhatikan perilaku alam itu sendiri. Air hujan yang turun di lereng gunung akan menyuburkan tanaman yang tumbuh di atasnya dan menjadi sumber air bersih bagi warga yang tinggal di kaki gunung. Namun, jika lahan di lereng gunung tersebut digunakan sebagai kawasan permukiman dan peternakan seperti yang saat ini terjadi, maka dikhawatirkan bencana ini akan terjadi lagi setiap tahunnya”, ungkap politisi dari daerah pemilihan Jawa Barat ini.

    Lebih jauh, Yudi mengusulkan agar upaya sistematis yang dilakukan pemerintah dapat dilaksanakan dengan menjadikan kawasan lereng Gunung Sawal di Ciamis sebagai area hutan produksi kayu jati belanda, segera setelah penanganan korban pasca banjir bandang ini dilakukan.

    “Dengan program ini, masyarakat dapat langsung memiliki mata pencaharian sebagai tenaga kerja penanaman bibit pohon tersebut di lereng Gunung Sawal. Selama pohon jati ini belum dapat dimanfaatkan, masyarakat dapat menggunakan lahan tersebut untuk kegiatan pertanian dengan sistem tumpang sari, yang memiliki waktu produksi lebih pendek," ujar Yudi.

    Selanjutnya dalam waktu tujuh tahun ke depan, hasil produksi dari hutan jati ini pun bisa menjadi sumber pedapatkan keluarga melaui berbagai jenis kegiatan ekonomi rakyat. Yudi menyatakan keprihatinannya atas musibah yang menyebabkan lebih dari 1.530 warga Ciamis mengungsi ke kantor kecamatan, masjid dan sekolah-sekolah. Terlebih, sebagian besar warga sudah mulai terserang penyakit akibat buruknya sanitasi di tempat pengungsian.

    “Kegiatan tanggap darurat yang dilakukan oleh aparat pemerintah setempat hendaknya juga mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir bandang susulan, sehingga kerugian yang dialami masyarakat dapat diminimalisir”, Yudi.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus