Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Brigade Proteksi Untuk Pengendalian WBC

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_21249.jpg

    KAB. BANDUNG-Dalam upaya memberantas hama Wereng Batang Coklat (WBC), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung bekerja sama dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, dalam mengaktifkan brigade proteksi untuk pengendalian WBC di musim pancaroba.

    Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, luas lahan yang terjangkit WBC mencapai 1.048 hektar. Bupati Bandung, H. Dadang M. Naser, SH., M.IP., mengatakan bahwa kerugian tersebut terjadi pada beberapa Kecamatan. Jika dikalkulasikan mencapai 5,8 ton per hektar atau sekitar 6.078,4 kwintal.

    “Dalam mengantisipasi pengendalian WBC, Kementan, Pemprov, dan Pemkab akan aktifkan brigade proteksi. Tindakan teknis yang akan dilakukan yakni sosialisasi pengendalian WBC, gerakan pengendalian WBC oleh Pemprov, pembagian pestisida untuk para petani, pemupukan, dan pemberian bibit unggul padi,” ucap Bupati Bandung.

    Pada kesempatan itu, Ia mengingatkan pada seluruh petani agar menggunakan metode tanam serentak dalam proses penanaman padi. Sehingga dengan didukung penggunaan pestisida baik kimia maupun hayati, perkembangan WBC bisa ditekan.

    “Saya ingatkan, sebaiknya masa tanam dilakukan serentak untuk luasan lahan, dengan disebarkannya pestisida baik kimia maupun hayati, perkembangan WBC bisa ditekan, selain melestarikan musuh alami WBC,” imbuhnya.

    Dia menuturkan, luas lahan pertanaman padi sampai 6 Februari 2016, yakni 36.159 hektar. Dari sasaran luas tanam Oktober 2016 sampai Maret 2017 seluas 54.614 hektar atau mencapai 66,20%. Sasaran produksi padi sebesar 508.820 ton gabah kering pungut dengan rata-rata produktivitas 62,03 kwintal per hektar.

    Upaya preventif ini diharapkan bisa meningkatkan hasil panen padi dan kesejahteraan petani Kabupaten Bandung. Karena menurutnya keberhasilan dalam usaha tani akan dipengaruhi ada tidaknya gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Jika tidak dilakukan dengan benar, OPT ini bisa menyebabkan puso.

    “Kunci keberhasilan panen, selain upaya ini, yang terpenting adalah menjaga keseimbangan ekosistem. Jika ekosistem terjaga, OPT bisa dikendalikan,” pungkas Dadang.

    Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pertanian, Ir. H. A. Tisna Umaran, MP., menjelaskan, kondisi serangan OPT sudah bisa dikendalikan dan berada pada level aman dalam keseimbangan ekologi.

    “Saat ini jumlah OPT WBC masih aman, yakni 5 sampai 10 ekor per rumpun. Pada level aman, saatnya kita menanam dan melestarikan musuh OPT WBC alami, yakni parasitoid, jamur atau tanaman refuzia yang menghasilkan nektar sebagai makanan OPT,” ungkap Tisna.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus