Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Waspada Peredaran Tiket KA Palsu, Calo dan Joki

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_23787.jpg

    BANDUNG-PT Kereta Api Indonesia  (KAI) mengimbau agar masyarakat mewasapadai beredarnya tiket palsu, calo dan joki. Pasalnya, minat masyarakat untuk menggunakan moda transportasi kereta api pada saat mudik Lebaran semakin tinggi.

    Berdasarkan data keterisian penumpang keberangkatan Daerah Operasional (Daop 2) Bandung sampai H1, Minggu 25 Juni 2017, sudah terangkut sebanyak 526.342 penumpang atau lebih tinggi 8% dibandingkan masa yang sama pada tahu 2016. 

    "Tingginya minat masyarakat menggunakan kereta api ini menjadikan tiket kereta api benda yang banyak dicari masyarakat. Tentu hal ini dimanfaatkan juga oleh oknum yang ingin mengeruk keuntungan dari antusiasme yang tinggi itu," kata  Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, Joni Martinus kepada wartawan di Bandung, Selasa (27/6/2017).

    Menurutnya, tindakan tidak bertanggung jawab dari oknum itu terdeteksi petugas kereta api di Stasiun Pasar Senen, Jumat 23 Juni 2017 lalu.

    "Ada petugas PT KAI berhasil mengagalkan upaya pemalsuan tiket boarding pass yang menimpa 9 calon penumpang KA Kutojaya Utara tujuan Pasar Senen – Kutoarjo dan 3 calon penumpang KA Kutojaya Utara Premium Tambahan dengan relasi sama,"papaarnya

    Joni menegaskan bahwa orang-orang tersebut menjadi korban dari tindakan tidak bertanggung jawab para penipu. Pasalnya, menurut keterangan mereka, tiket diperoleh dari menitipkan pembelian pada temannya. 

    "Tiket-tiket palsu itu tentu tidak akan terbaca dalam sistem barcode di pintu boarding pass. Meskipun dibuat semirip mungkin,"ujarnya. 

    Joni mengungkapkan bahwa setiap tiket mempunyai kode unik tersendiri yang akan terbaca oleh sistem di pintu boarding. 

    "Kalau pun misalnya ternyata tiket palsu tersebut lolos dari pintu boarding, maka saya pastikan akan terdeteksi di dalam kereta api karena akan terjadi tempat duduk ganda. Jika hal ini terjadi, penumpang bertiket palsu pasti akan kami tindak tegas,” tegasnya. 

    Penerapan sistem berlapis seperti itu, Joni meyakini bahwa praktek percaloan pun akan sulit berkembang dan bahkan tidak berkutik. Praktik yang mungkin tumbuh subur saat ini adalah sistem perjokian. 

    “Kalau kita amati, sistem penjualan tiket kereta pada saat ini justru mematikan praktik calo. Nah, yang kemudian terjadi adalah praktek perjokian dimana ada beberapa orang yang menerima penitipan pembelian tiket dan meminta jasa atas tindakan tersebut. Dalam hal ini, tentu beda dengan percaloan. Kalau calo kan dia membeli tiket kemudian menjual tiket itu dengan harga lebih mahal. Tentu hal ini menjadi penyebab susahnya masyarakat membeli tiket karena terkadang tiket-tiket tersebut sudah diborong calo. Namun kalau joki, dia hanya membantu proses pembelian dan meminta imbalan jasa atas bantuannya tersebut sementara data dalam tiket memang sama dengan data penumpang. Ya, jelas pemilik tiket akan lolos di pintu boarding,”jelasnya. 

    Sampai saat ini, kejadian serupa tidak terjadi di Daop 2 Bandung. Joni menghimbau agar masyarakat benar-benar matang merencanakan perjalanan dengan kereta api. Jika hendak memesan, lebih baik bertanya terlebih dahulu kepada petugas atau meminta tolong kepada saudara yang paham masalah tiket online. Hindari membeli tiket dengan menggunakan joki karena rentan dengan penipuan dan jangan menerima tiket yang sudah berbentuk tiket boarding pass. 

    "Lebih baik mencetak sendiri di check in counter karena rentang waktu pencetakan bisa dilakukan 7 hari sebelum keberangkatan. Apabila merasa ragu dengan tiket yang didapatkan, segera bertanya pada petugas di stasiun terdekat,"pungkasnya. (MAT)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus