Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Paham Radikalisme di Indonesia Cukup Mengkhawatirkan

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_23986.jpg

    BANDUNG-Penulis buku "Kontroversi Dalil-Dalil Khilafah", Muhammad Sofi Mubarok mengatakan paham radikalisasi di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Dia menilai basis penyebaran ideologi khilafah sendiri banyak di institusi pendidikan.

    "Paham radikalisme ini di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Rata-rata ideologi khilafah lahir dari kampus pendidikan," katanya kepada wartawan di Bandung, Rabu (12/7/2017).

    Kandidat Doktor UIN Jakarta ini mengungkapkan perlu kerja sama berbagai pihak baik pemerintah maupun ormas yang mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menghalangi paham tersebut.

    Dia menilai khilafah dapat dibangun dengan kearifan lokal sehingga radikalisasi tersebut dapat diredam bahkan diberantas.

    "Perlu kerja sama semua lapisan masyarakat termasuk pemerinah maupun ormas yang mencintai NKRI. Sebenarnya khilafah itu juga bisa dibangun dengan kearifan lokal yang ada," paparnya.

    Adapun pengamat politik Universitas Padjadjaran (UNPAD), Muradi menjelaskan pemahaman ideologi Pancasila harus ditanamkan sejak dini. Pemerintah maupun ormas harus lebih masif mensosialisasikan ideologi negara ini.

    Menurutnya, pemerintah daerah sebagai ujung tombak dapat lebih konsen dan hati-hati dalam mengarahkan anak-anak terutama dalam masa remaja kepada hal yang lebih positif. Mengingat masa tersebut tengah mencari jati diri.

    "Tentu pemerintah harus bisa memetakan, sehingga dapat dibuat 'counter' untuk berbagai hal negatif dengan tujuan dan target yang jelas," ujarnya.

    Menurutnya ada kemungkinan usia remaja ini rentan terpengaruh oleh paham yang negatif. 

    Ada beberapa teori yang bisa menumpaskan paham radikalisme yaitu kontra radikalisme dimana langkah ini diterapkan kepada generasi muda ketika terjadi perbedaan pandangan terhadap ideologi.

    "Nah ini, jika terjadi perbedaan sudah mulai terpengaruh oleh paham yang negatif, bisa diberikan teori kontra radikalisme," tuturnya. (MAT)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus