Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Teknologi Penanganan CO2 Menuju Indonesia Hijau 2030.

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_24967.jpg

    BANDUNG-Perubahan iklim terus terjadi di seluruh dunia. Hal ini diakibatkan oleh tingkah laku manusia yang menggunakan rumah kaca dan terkenal dengan nama Gas Rumah Kaca (GRK).  Untuk itu,  Teknologi Penanganan CO2 Capture sangat baik bila diterapkan di Indonesia dalam rangka membantu pemerintah menuju Indonesia hijau di 2030.  

    Melihat begitu pentingnya Teknologi CO2 Capture di Indonesia,  Akamigas Balongan mengelar seminar di Cirebon pada (20/9)  dengan pembicara dari Universitas Teknologi Petronas (UTP), Dr. Ir. Andang Bachtiar MSc sebagai geolog independen dan keynote speaker dari Kementerian Lingkungan Hidup.

    Dalam seminar tersebut diketahui bahwa karbon dalam bentuk karbon dioksida (CO2) merupakan salah satu gas yang memiliki kontribusi besar dalam peningkatan global warming. CO2 banyak dihasilkan dari penggunaan bahan bakar fosil, dari kendaraan bermotor hingga industri-industri berat seperti migas dan pertambangan. Semakin maraknya penggunaan bahan bakar dan kegiatan eksploitasi hasil bumi yang tidak sebanding dengan kemampuan bumi untuk menyerapnya mengakibatkan emisi CO2 yang semakin meningkat ke atmosfer. Emisi berlebih inilah yang mengakibatkan peningkatan suhu serta dampak turunan lainnya.

    Berbagai upaya dirancang untuk mengurangi emisi CO2, dari regulasi internasional hingga pendekatan teknis. Metode Carbon Capture and Storage (CCS) merupakan salah satu upaya dengan pendekatan teknik untuk menangkap karbon dan menyimpannya dalam bentuk yang lebih aman.

    Menurut Andang Bachtiar, CCS merupakan salah satu teknologi mitigasi perubahan iklim yang berpotensi mengurangi emisi CO2 skala besar hasil dari pembakaran bahan bakar fosil. Teknologi ini merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai dari menangkap CO2 (capture) dari sumber-sumber CO2 seperti fasilitas pengolahan gas alam dan pembangkit listrik, kemudian mentransportasikannya ke lokasi penyimpanan CO2 di formasi geologi yang sesuai (storage).

    Melihat prospek yang cukup baik, CCS diharapkan mampu menjadi salah satu solusi alternatif guna mengurangi emisi CO2. Namun lebih dari itu, perlu kerja sama berbagai pihak dan stakeholder, terutama pemerintah  untuk lebih memperhatikan masalah emisi gas dan ketahanan energi. Selain upaya teknik, upaya non-teknik seperti penguatan dan implementasi regulasi harus menjadi titik berat perhatian dalam upaya penyelamatan bumi dari peningkatan emisi gas rumah kaca.

    Dalam seminar terungkap pula bahwa saat ini kebutuhan CO2 murni di Indonesia mencapai 250 ton perhari. Hanya saja, C02 murni yang dihasilkan
    masih menggunakan bahan baku dari minyak bumi, sehingga harga jual CO2 murni masih cenderung mahal.

    Penanganan CO2 dengan menggunakan teknologi pemurnian tidak saja memberi kontribusi pada penyelamatan lingkungan, namun dari segi ekonomi memiliki daya jual yang sangat tinggi. Produk akhir pabrik berupa CO2 murni standard food grade ini sangat diperlukan oleh berbagai jenis industri. Dalam industri makanan dan minuman, misalnya. CO2
    murni digunakan untuk pembuatan minuman berkarbonasi, pengawetan makanan serta perikanan dengan dry ice, pemutihan gula, pembuatan rokok dan masih banyak lagi. CO2 murni ini juga bisa digunakan dalam industri manufacture pengelasan, pemutihan kertas, fumigasi pada sektor pertanian ataupun serta secondary oil recovery. (vit)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus