Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    80 Persen Kebakaran di Bandung Dipicu Konsleting Listrik

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_25602.jpg

    Bandung-Tingkat kerawanan kejadian kebakaran di kota Bandung masih tinggi. Hampir setiap bulan terjadi 40 kebakaran di ibu kota Jawa Barat tersebut. Hampir 80 persen proses terjadinya kebakaran dipicu oleh konsleting listrik.

    Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Bandung, Asep Saepudin mengatakan penggunaan peralatan dengan tenaga listrik menjadi pemicu terjadinya kebakaran di Bandung. 

    "Hampir 80 persen kebakaran disebabkan oleh konsleting listrik,"kata Asep kepada wartawan di Bandung, Rabu (1/11/2017); Menurut Asep, rerata kebakaran terjadi di pemukiman padat penduduk. Dia mencontohkan seperti kebakaran di wilayah Kosambi yang menghanguskan 10 rumah dan berhasil mengevakuasi 14 kepala keluarga. Berdasarkan penyelidikan kebakaran di daerah tersbut disebabkan bocornya tabung gas. 

    "Selain konsleting listrik, kebocoran tabung gas juga jadi penyebab rawannya terjadi kebakaran di Bandung,"ucap Asep

    Ditanya soal fasilitas Hydrant yang ada di kota Bandung yang bisa membantu upaya pemadaman kebakaran. Asep mengaku bahwa fasilitas tersebut sudah memadai meskipun debit airnya masih terbatas.

    "Hydrant itu banyak di beberapa lokasi tapi yang debit airnya mencukupi baru empat titik saja seperti di jalan Supratman taman Cikapayang Dago, Buah Batu dan Prabudi Muntur,"tutur Asep

    Oleh karena itu, jika terjadi kebakaran lanjut Asep pihaknya akan menambah jumlah mobil dan petugas yang diterjunkan ke lokasi kejadian. Selain itu juga memperhitungkan volume air yang akan dibawa dan dibutuhkan pada proses pemadaman api.

    Sejauh ini Dinas Damkar sudah memiliki 35 unit mobil pemadam kebakaran. Jumlah itu terbilang ideal bila dibandingkan dengan 30 kecamatan yang ada di Kota Bandung.

    "Kalau kita tidak pernah mengeluh dengan keterbatasan debit air pada Hydrant artinya kalau terjadi kebakaran pasti memperbanyak unit yang diturunkan sehingga proses pemadaman berjalan lancar,"pungkasnya. 

    Asep menegaskan penangan kebakaran tidak bisa mengandalkan petugas kebakaran saja. Untuk itu diharapkan adanya sitem penanggulangan secara dini oleh masyarakat.

    "Tentu kalau kami bekerja sendirian tidak bisa. Makanya diharapkan sebelum kami datang, masyarakat bisa mengantisipasinya sejak dini jika terjadi kebakaran. Nah, tugas kita adalah ujung tombaknya untuk memadamkan api,"pungkasnya. (MAT)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus