Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Puncak HSN Kota Bogor, 13 Ribu Santri Jalan Sehat Mengenakan Sarung

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_25668.jpg

    Dengan mengenakan Kopiah, baju Koko dan Sarung belasan ribu santri se-Kota Bogor melakukan Pawai Sarung Santri, Minggu (05/11/2017) sebagai Puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada (22/10) lalu. Pada kesempatan itu juga Wali Kota Bogor Bima Arya dan Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman yang membuka jalan sehat di Balaikota turut jalan santai bersama para ulama hingga finish di SMP Al-Ghozali. 

    Bima dan Usmar didampingi Ketua MUI Kota Bogor, KH. Mustofa Abdullah bin Nuh, Ketua Forum Pondok Pesantren, KH. Ahmad Baedowi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bogor, KH. Ansurullah, Ketua DMI Kota Bogor, KH. Ade Sarmili berjalan di paling depan diikuti belasan santri dibelakang. Mereka melewati rute Car Free Day (CFD) di Jalan Jenderal Sudirman lalu ke Jalan RE. Martadinata, Manunggal hingga ke Jalan Dr. Semeru. 

    Bima mengatakan, pada hari ini Kota Bogor mencetak sejarah baru dengan kegiatan Pawai Sarung Santri yang baru pertama kali digelar di Kota Bogor ini dengan sangat luar biasa. Pasalnya, ada 13 ribu santri yang ikut terlihat sangat kompak dan solid.

    “Ini menjadi awal dari Kota Bogor menjadi Kota yang barokah. Di Puncak hari santri ini, saya lihat para santri begitu antusias, karena santri memang harus kompak semuanya, harus semangat," ujarnya. 

    Ia menuturkan, HSN ini harus dimaknai sebagai semangat yang luar biasa dan harus disyukuri. Seperti yang disiarkan pendiri Nahdatul Ulama almarhum KH. Hasyim Assyari kalau semangat spritualisme berbanding lurus sama dengan patriotisme. Dan jika dahulu jihad itu melawan kolonialisme, maka jihad sekarang maknanya lebih luas sebab harus menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    "Santri harus menjadi garda terdepan untuk menjaga NKRI, NKRI harus kita tegakkan, tidak akan tegak jika ada kesenjangan sosial, tidak akan tegak jika kita tidak bersatu, ada narkoba, kemiskinan ada korupsi itulah ancaman terbesar di Negara kita setelah masa penjajahan," jelasnya. 

    Lebih jauh Bima mengajak, dengan semangat HSN untuk sama-sama merapatkan barisan, meluruskan niat untuk mencapai mimpi yang sama. Mengingat di era teknologi ini dunia nyata terkadang kalah dengan dunia maya dengan banyak informasi yang hoax (bohong), ujaran kebencian yang bisa memecah belah umat. 

    "Maka dari itu kita harus mengisi media sosial dengan nilai-nilai positif atau yang membawa manfaat dan mari kita memulai dakwah di medsos kita masing-masing," tegasnya.

    Sementara itu, Ketua Panitia Pawai Sarung Santri Hasbulloh mengatakan, ada 18 ribu kupon pawai yang disebarkan panitia kepada santri dan masyarakat yang pada hari ini diperkirakan ada sekitar 13 ribu santri dan masyarakat yang berpartisipasi.

    "Santri sangat antusias dengan kegiatan ini karena unik dan baru pertama ada jalan sehat memakai sarung," ujarnya. 

    Ia menuturkan, tujuan dari pawai ini sebagai syiar jika tradisionalisme, modernisme, dan juga pembangunan bisa tetap sejalan. Hal tersebut memiliki arti jika santri tetap bisa eksis dimanapun mereka berada. Selain itu, kegiatan ini juga dapat mengingatkan kepada para santri kalau antusiasme dan kebersamaan masyarakat bersama santri sangat besar.

    "Kami sebenarnya tidak mengundang secara khusus hanya menggunakan media sosial tetapi antusiasnya banyak," imbuhnya. 

    Hasbulloh menjelaskan, target yang ingin dicapai yakni komitmen dari para santri terkait ke-Indonesiaan, ke-Islaman dan kemanusiaan yang turut dikampanyekan di pawai. Aplikasi dari komitmen ke-Indonesiaan terlihat dengan ditetapkannya HSN yang merupakan bentuk pengakuan dari pemerintah Indonesia bahwa santri bagian dari pemersatu Indonesia. Komitmen ke-Islaman terlihat dari kopiah dan sarung yang merupakan tradisi islam khas Indonesia yang kemungkinan tidak ada di negara lain. Sedangkan komitmen Kemanusiaan memiliki arti santri tetap menjaga toleransi dengan sesama manusia dan menjaga lingkungan mereka berada dengan nilai-nilai kemanusiaan.

    “Harapan kedepan santri bisa berkiprah di berbagai macam kesempatan dan di berbagai bidang karena mereka orang-orang yang terpelajar yang bisa bersinergi dengan siapapun dan dengan kondisi apapun,” pungkasnya. (fla/indra/adit-SZ)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus