Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Sosialisasi Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 2017

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_26078.jpg

    GARUT-Tahun ini merupakan tahun yang baik bagi para pegiat kebudayaan, karena setelah 35 tahun dirancang, akhirnya Undang-Undang (UU) Pemajuan Kebudayaan disahkan pada 24 Mei 2017 lalu. Salah satu kelebihan utama UU ini adalah masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam menyusun strategi kebudayaan lewat perumusan pokok pikiran kebudayaan di tingkat daerahnya masing-masing. 

    Agar masyarakat dapat memahami lebih lanjut tentang isi dan manfaat dari UU ini, termasuk apa saja langkah strategis pemerintah untuk memajukan kebudayaan Indonesia dan bagaimana masyarakat dapat berpartisipasi, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Sabtu (25/11), mengadakan sosialisasi Undang-Undang RI Nomor 5  Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, di Kampung Sumber Alam Cipanas Garut. 

    Berbagai komunitas seni dan budaya serta perwakilan SKPD, termasuk Budayawan KH. Tantowi Musaddad turut hadir dan memberikan pandangannya dalam acara tersebut. Hadir pula Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Ferdiansyah yang turut membidani lahirnya undang-undang ini, juga hadir Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI, Nono Adya Supriyatno, Kepala Dinas Pariwisataan Kabupaten Garut Drs. Budi Gan Gan Gumilar, M.Si, Etnomusikolog dan Seniman Tari/Pendokumentasian Budaya Nusantaraseniman Endo Suanda dan akademisi seni Dr Suhendi Afrianto (STSI Bandung).

    Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Ferdiansyah mengatakan, sebelum UU No. 5/2017 disahkana, perlindungan terhadap kearifan lokal sebenarnya telah tertera di beberapa UU, seperti UU No 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Namun, hal itu dirasa banyak kalangan belum cukup jadi pedoman pemajuan dan perlindungan budaya. "Sebelumnya masih sering terjadi ketidaksepakatan dalam diskusi dan dialog soal berbagai hal dan program kebudayaan. Dengan UU ini diharapkan akan membaik dan bermanfaat lebih signifikan," ujar Fardiansyah.

    Berdasarkan Undang-Undang (UU) Pemajuan Kebudayaan, tindakan yang dilakukan terhadap objek pemajuan kebudayaan yakni inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, dan penyelamatan. Setiap warga negara dapat berperan aktif dalam pemajuan kebudayaan. Sepuluh objek pemajuan kebudayaan tersebut adalah tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, permainan rakyat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, dan ritus. 

    Ferdiansyah berharap Pemerintah Daerah didorong untuk segera memanfaatkan Undang-Undang No 5 Tahun 2017 ini untuk memajukan daerah mereka. Kebudayaan dan kearifan lokal setiap daerah didorong untuk dapat dikembangkan menjadi haluan pembangunan nasional yang diimplementasikan di seluruh daerah.

    "Secara khusus UU tersebut telah menyampaikan beberapa hal untuk mendukung kearifan lokal. Terutama tentang penataan ruang, pemajuan kebudayaan, serta penetapan kawasan strategis dalam sudut kepentingan sosial budaya, lokal, dan nasional. Jadi, harus dimanfaatkan," ujar Ferdiasyah.

    Sementara itu dalam sesi diskusi para nara sumber lebih mengangkat lemahnya eksistensi seni dan budaya di ranah sunda. Lemahnya kehidupan budaya diakibat pengaruh luar yang maha dahsyat, ironisnya pemilik seni dan budaya lokal cenderung daya imunitasnya lemah. Kearifan masyarakat perkotaan cenderung kian terkikis dengan semakin heterogennya masyarakat. "Rasa permisif masyarakat bahkan jarang kita temukan di perkotaan, bahkan sikap kasar sering kita temui", ujar Suhendi Afrianto. Ia berharap masyarakat  Garut  tidak terimbas dengan kondisi ini bila budaya lokal tetap dijaga utuh.

    Sedangkan Seniman Endo Suanda lebih mengamati lunturnya budaya jangan hanya menyalahkan generasi muda, orang tua pun sebaiknya mengevaluasi dirinya, karena bisa jadi ketidaktahuan kita sebagai orang tua berimbas kepada generasi muda. "Bukankah seni karinding berkembang karena peran anak muda". ujar Endo setengah bertanya.

    KH. Tantowi Musaddad berpendapat, jiwa manusia dibentuk dan diwarnai oleh tradisi budaya (lingkungan), dimana hakekatnya produk krativitas manusia. ia mempertanyakan apakah kita akan bersikap pasf atau pro aktif terhadap lingkungan yang dibentuk.

     

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus