Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Capaian Produksi Pangan Tahun 2017 Menuju Kemandirian Pangan

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_26931.jpg

    BANDUNG-Dari hasil-hasil rapat kerja nasional bidang pertanian yang berlangsung di Hotel Bidakara Jakarta, Senin (15/1) terungkap beberapa informasi. 

    Pertama, capaian peningkatan produksi padi, jagung, bawang merah, gula, daging sapi, dan lainnya pada 2017 sudah on the right track menuju terwujudnya kedaulatan dan kemandirian pangan.  

    Kedua, pada 2017 telah mencapai swasembada empat komoditas, ditandai sejak 2016 tidak impor beras medium, cabai segar dan bawang merah. Pada 2017 tidak impor jagung pakan ternak hemat devisa Rp10,6 triliun, bahkan telah ekspor bawang merah 7.561 ton kepada Thailand, Malaysia, Timor Leste dan lainnya.

    Ketiga, Kinerja produksi komoditas strategis cukup bagus. Produksi padi, jagung dan bawang merah meningkat masing-masing 2,4%; 18,5%; dan 3,3% disbanding produksi tahun 2016. Produksi gula, daging sapi, sawit, dan karet masing-masing meningkat 10,9%; 2,6%; 6,4%; dan 2,3% dibanding tahun 2016. Realisasi anggaran tahun 2017 sebesar Rp21,9 triliun atau 90,4% terhadap pagu APBN-P 2018 sebesar Rp24,2 triliun.

    Keempat, Capaian produksi dan swasembada juga berdampak pada kesejahteraan petani. Indikasinya jumlah Rumah Tangga Petani sejahtera (tidak miskin) meningkatdari 85,25 persen pada Maret 2014 menjadi 85,87 persen Maret 2017. “Tidak saja dalam persentase, jumlah absolute Rumah Tangga Petani  miskin juga menurun dari 3,13 juta Rumah Tangga pada Maret 2014 menjadi 3,05 juta Rumah Tangga pada Maret 2017.

    Indikator kemiskinan di pedesaan juga menurun. Pada Maret 2017 penduduk miskin di perdesaan menjadi 17,10 juta jiwa turun 842 ribu jiwa atau 4,7% disbanding Maret 2015 sebanyak 17,94 juta jiwa. Gini rasio di perdesaan membaik pada Maret 2017 sebesar 0,320 menurun 0,014 poin atau 4,19% disbanding pada Maret 2016 sebesar 0,334.

    Hasil evaluasi The Economist Intelligence Unit (EIU), ketahanan pangan Indonesia 2017 menduduki ranking 69 dari 113 negara, dari aspek ketersediaan pangan peringkat 64 dari peringkat 76 pada tahun 2014.  Sementara itu, hasil evaluasi EIU terhadap Food Sustainability Index, Indonesia pada peringkat 21 dari 25 negara, dan dari aspek keberlanjutan pada peringkat 16 di atas Amerika Serikat, China dan India.

    Pada 2018 fokus untuk replanting dan pembagian bibit guna mengembalikan kejayaan rempah-rempah Indonesia, di samping tetap memperkuat Upaya Khusus (Upsus) pangan strategis seperti padi, jagung, cabai, bawang merah, bawang putih, kedelai dan lainnya untuk menambah luas tanam dan produktivitasnya, sehingga produksi padi 2018 akan naik lagi dan kedaulatan pangan tetap terjaga.

    Kelima, Tumpuan peningkatan produksi 2018 diperoleh dari kanalisasi/membangun sawah pada lahan rawa pasang surut, rawa lebak 1,0 juta hektar secara bertahap dari potensi 9,5 juta hektar tersebar diSumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, Lampung  dan lainnya.  Demikian pula meningkatkan Indek Pertanaman (IP) dengan membangun embung, dam-parit dan lainnya pada lahan kering/tadah hujan (rainfed) potensi 4 juta hektar.

    Keenam, bahwa kegiatan pengungkit produksi 2018 berupa penyiapan sarana produksi 3 juta hektar padi, 4 juta hektar jagung dan 1 juta hektar kedelai. 

    Ketujuh, Pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan petani dan fasilitasi bantuan ternak ayam, itik, kambing/domba, kelinci, benih/bibit hortikultura dan perkebunan serta alsintan. 

    Kedelapan, Sebagian besar (75%) kegiatan fisik di lapangan dengan pola Padat Karya menyerap tenaga kerja di 100 kabupaten, seperti rehab jaringan irigasi tersier, membangun jalan usaha tani, memproduksi benih/bibit hortikultura dan perkebunan, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan lainnya.  

    Kemudian kesembilan, pada akhir Januari 2018 memasuki panen raya dan mencapai puncak pada Februari-April 2018. Luas panen pada Januari-April 2018 sekitar 8,1 juta hektar dengan produksi 33,9 juta ton GKG dan surplus beras.  Perlu antisipasi terhadap harga gabah akan jatuh di saat panen raya.

    Kesepuluh, serap gabah petani (Sergap) oleh BULOG pada Januari-Desember 2018 diharapkan sebesar 3,7 juta ton setara beras. Pada Februari-Juni 2018 agar diserap 2,8 juta ton atau 76% dari total target 2018 dengan target stok akhir Desember 2018 mencapai 2,2 juta ton beras, berarti stok sangat aman.

    Kesebelas, harga gabah GKP di tingkat petani di 19 Provinsi pada Minggu I Januari 2018, rata-rata Rp5.124/kg dengan kisaran minimum Rp4.000/kg dan maksimum Rp6.300/kg. Kini mulai terjadi penurunan harga GKP Rp 100/kg walaupun masih di atas HPP yaitu di Kabupaten Bekasi, Tasikmalaya, Wonosobo, Pemalang, Pati dan Hulu Sungai Selatan.

    Itulah hasil-hasil yang terungkap dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian 2018 yang dilaksanakan pada 15 Januari 2018 di Hotel Bidakara, Jakarta dengan tema: “Mengangkat Kesejahteraan Petani”.  

    Rakernas dibuka secara resmi oleh Menteri  Pertanian dan dihadiri oleh 1.700 peserta meliputi Kepala Dinas lingkup Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota sentra produksi pangan,  Aster Kasad TNI, Kepala Staf Daerah Militer (Kasdam), Komandan Resort Militer (Korem), Komandan Distrik Militer (Kodim), pejabat Eselon 1, 2 dan 3 Kementerian Pertanian dan undangan lain.  Narasumber: Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Kemendesa PDTT), Dirjen Sumber Daya Air (Kemen PUPR), Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (Kemendag), Dirjen Penanganan Fakir Miskin (Kemensos), Wakil Ketua KPK, Ketua Satgas Pangan. 

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus