Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Dirut Bio Farma Lepas Ekspor Vaksin ke PNG

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_29997.jpg

    BANDUNG (21/9) - Direktur Utama Bio Farma, M. Rahman Roestan didampingi Sri Harsi Teteki, Direktur Pemasaran, melepas  pengiriman ekspor vaksin Polio (bOPV 20ds) ke Papua New Guinea, Jum’at siang  (21/92018), di Bandung. 

    Diperkirakan penjualan ekspor sampai 2018 bisa mencapai USD 71,6 juta. Vaksin yang akan diekspor  pada bulan September sampai dengan Desember, terdiri dari Vaksin Polio, Campak, TT, DTP, Td,  untuk negara- negara berkembang seperti Pakistan, Afganistan, Sudan, Maroko dan negara lainnya, ungkap Rahman
    Sri Harsi Teteki menambahkan, “Pengiriman hari ini merupakan pemenuhan komitmen ekspor bulan September senilai  sekitar USD 12 Juta dari target tahun 2018 senilai total USD 71,6 juta. Hampir setiap minggu kami memiliki kegiatan pengiriman ekspor, masih banyak negara berkembang yang memerlukan vaksin produk Bio Farma”. 

    “Selain produk akhir vaksin yang didistribusikan melalui lembaga Internasional UNICEF, PAHO; kami juga melakukan ekspor dalam bentuk  bulk vaksin atau intermediate produk yang nantinya akan di formulasi dan dikemas menjadi produk akhir vaksin. Melalui bilateral dan melalui beberapa produsen vaksin langsung”.
    “Beberapa produsen yang membeli bulk antara lain produsen vaksin di India, perusahaan di Belgia, Turki, Mexico, Mesir, Thailand, Filipina, dan beberapa negara lain.  Jenis bulk yang diekspor seperti bulk Polio, Tetanus, Difteri, Pertusis, Campak”.

    Rahman menambahkan, “Kami berupaya memperhatikan aspek kemandirian khususnya untuk bahan baku produk vaksin, Kami terus meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) agar tercipta kemandirian produk vaksin nasional, termasuk tantangan kami dalam memasuki negara tujuan ekspor yang memiliki risiko ekonomi, risiko politik dan risiko infrastruktur, apalagi produk vaksin memerukan penanganan khusus dari mulai vaksin dikirim dari pabrik sampai tiba ke pelanggan, harus dengan suhu tertentu”.  

    Sementara itu, Sri Harsiteteki menambahkan mengenai strategi marketing diplomasi untuk peningkatan ekspor. “Pada tahun 2018 ini kami sudah berkomunikasi dengan beberapa  Duta Besar dan bekerja sama dengan atase perdagangan dan promosi yang akan ditempatkan di beberapa negara (ITPC – Indonesia Trade Promotion Centre)”

    Saat ini hanya sekitar 30 produsen vaksin yang sudah mendapatkan kualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) salah satunya Bio Farma, “Kami merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dilihat dari jenis produk dan kapasitas, serta menjadi rujukan centre of excellence bagi produsen vaksin di negara Islam. Sebagai BUMN memiliki peran yang sangat strategis untuk turut serta melakukan percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan, dalam upaya percepatan dan kemandirian pengembangan produk biopharmaceutical dan vaksin.

    Di antara negara negara Islam yang tergabung didalam Organisasi Kerjasama Islam, OKI, hanya ada tujuh negara yang memiliki produsen vaksin, dan diantara tujuh negara tersebut hanya Indonesia yang telah diakui oleh WHO untuk vaksin program imuniasi dasar, sehingga Indonesia melalui Bio Farma telah dipercaya menjadi OIC CoE (Organization of Islamic Cooperation – Centre of Excellence) for vaccine and biotechnology products.

    Bahkan Saudi Arabia telah meminta kerjasama distribusi vaksin dan transfer teknologi vaksin untuk memenuhi vaksin imunisasi dasar yang dibutuhkan di regional negara negara Teluk.

    "Dengan telah dipercaya nya Bio Farma sebagai pusat unggulan vaksin negara negara Islam, terjadi peningkatan ekspor ke Saudi Arabia dan negara negara anggota OKI dalam tiga tahun terakhir, tercatat pengiriman ekspor sejumlah 11 juta USD pada tahun 2015,  meningkat menjadi 22 juta USD pada tahun 2016 dan 31 juta USD pada tahun 2017," ungkap Sri Harsi Teteki.

    “Dengan total kapasitas produksi lebih dari 2 miliar dosis per tahun. Komposisi produksi tersebut adalah masing-masing 60 persen untuk kebutuhan dalam negeri dan 40 persen untuk kebutuhan ekspor,” paparnya (Pun)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus