Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Peyeum Ketan Pamela, 6000 Ember Perbulan

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_31809.jpg

    KUNINGAN–Kuliner khas asal Kuningan yakni Peyeum Ketan memiliki keunikan tersendiri. Ada dua yakni harus dibungkus dengan daun jambu dan dikemasa dalam ember plastik berwarna hitam pekat. Pelancong yang datang ke Kuningan, sepertinya memang wajib membeli peyeum ketan ember hitam ini sebagai oleh-oleh.

    Ada banyak produsen peyeum ketan di Kuningan, salah satunya dan yang menjadi pioner adalah yang memiliki merek Pamela. Merek Pamela merupakan singkatan dari Pajar dan Mela, nama anak dari pemilik usaha yang bernama Carsin Cahyadi, 52 tahun.

    Memulai usaha sejak tahun 80-an, peyeum ketan ini tidak langsung terkenal, bahkan harus jatuh bangun. Produksinya pun terbatas saat hari besar seperti Idul Fitri atau saat ada pesanan hajatan warga.

    Itu cerita dulu, sekarang Carsin, bisa memproduksi peyeum ketan sampai 6000 ember perbulan di hari biasa atau 200 ember perhari. Tetapi saat Idul Fitri produksinya bisa mencapai 2000 ember perhari.

    Usahanya yang semakin maju itu kemudian menular pada warga sekitar rumah yang tinggal di wilayah Cibereum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Saat Jabarprov mengunjungi lokasi produksi Pamela, lokasinya cukup jauh dari pusat kota Kuningan. Jarak tempuh sekitar 25 kilo meter atau satu jam perjalanan dengan mobil.

    Setelah memasuki jalan yang cukup dilalui oleh satu kendaraan, lokasi rumah Carsin pun berhasil ditemui. Lokasi pabrik peyeum berbeda dengan rumah tinggal. Nampak sejumlah peralatan dan sisa-sisa produksi ketan di gudangnya.

    Terkait ember hitam yang digunakan sebagai kemasan, dia mengatakan hal itu sudah menjadi kemasan khas yang susah untuk dirubah. Pernah ada usaha untuk merubah warna ember menjadi warna lain, tetapi tidak laku.

    “Upaya memberikan rasa berbeda seperti coklat atau strawberi, juga tidak laku. Hilang keasliannya, jadi lebih baik menjual peuyeum original,” ujarnya.

    Bahkan menurutnya, saat dipasarkan di mal besar diperkotaan diluar Kuningan, juga sulit terjual.

    “Ini adalah oleh-oleh, jadi memang harus dibeli di Kuningan, atau di Cirebon. Sekalian wisata,” tuturnya. Untuk diketahui, dengan usaha peyeum ketan Pamela, setiap bulan rata-rata penghasilan bersih yang didapatnya mencapai Rp 30 juta perbulan. jo

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus