Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Polda Jabar Amankan Oknum Dokter Penyebar Hoaks

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_33184.jpg

    BANDUNG - Hati- hati dalam bermedia sosial. Jangan sampai akibat media sosial akan berusuran dengan hukum. Seperti yang dialami oleh seorang dokter yang kini diamankan Polda Jawa Barat.

    Seorang dokter berinisial DS diamankan oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Barat karena telah menyebarkan hoaks terkait peristiwa 22 Mei silam, bahwa ada remaja ditembak polisi. 

    “Akun Facebook terbuka untuk umum, dibaca oleh semua orang, tentunya siapapun yang membaca akan menimbulkan kebencian, amarah terhadap institusi Polri,” ujar Direktur Reskrimsus Polda Jabar Komisaris Besar Samudi, di Markas Polda Jabar, Selasa (28/5/2019)

    Pelaku memposting status di akun Facebook-nya yang berjudul ‘Korban Tembak Polisi, Seorang Remaja 14 Tahun Tewas’, dengan caption “Malam ini Allah memanggil hamba-hamba dikasih-Nya. Seorang remaja tanggung, mengenakan ikat pinggang berlogo OSIS, diantar ke posko mobile ARMII dalam kondisi bersimbah darah. Saat diletakkan distretcher ambulans, tidak ada respons, nadi pun tidak teraba. Tim medis segera melakukan resusitasi. Kondisi sudah sangat berat hingga anak ini syahid dalam perjalanan ke rumah sakit. Tim medis yang menolong tak kuasa menahan air mata. Kematian anak selalu menyisakan trauma. Tak terbayang perasaan orang tuanya”.

    Samudi menyayangkan postingan ini disebarkan seorang yang berpendidikan tinggi alias dokter. Pelaku merupakan dokter di bidang kebidanan. Harusnya dengan pendidikan yang tinggi, yang bersangkutan menjadi penyejuk, memberikan pemahaman dan edukasi kepada para pengguna media sosial. 

    “Sebagai dokter dan pengajar seharusnya membantu pemerintah dalam memberikan edukasi pada masyarakat. Kalau ada berita tidak benar, sharing dulu jangan di-share,” tegasnya

    DS sendiri mengaku, bahwa postingannya tersebut hanya untuk bahan diskusi dengan teman-temannya terkait kondisi saat ini. Namun, dirinya tak mengerti akan jeratan hukum undang-undang informasi dan transaksi elektronik. 

    “Saya copas (copy paste) karena ada rujukan untuk dijadikan bahan diskusi. Harusnya ada di page teman yang tertutup, bukan di page saya yang terbuka,” klaimnya. 

    Akibat perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) jo Pasal 15 Undang-Undang No 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, serta Pasal 207 KUHP. Dirinya terancam hukuman hingga 10 tahun bui. Jo

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus