Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Bank Indonesia Tertibkan Lembaga Penukaran Uang Tak berijin di Jabar

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_34149.jpg

    BANDUNG-Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA) merupakan kegiatan usaha yang meliputi kegiatan penukaran yang dilakukan dengan mekanisme jual beli Uang Kertas Asing (UKA) dan pembelian Cek Pelawat. KUPVA BB merupakan alternatif selain Bank untuk menukarkan valuta asing. 

    Bank Indonesia telah memberikan masa transisi sampai tanggal 7 April 2017 kepada pihak-pihak yang selama ini telah melakukan kegiatan usaha penukaran uang asing tanpa izin (KUPVA-BB Tidak Berizin) untuk segera mengajukan perizinan kepada Bank Indonesia. 

    Setelah berakhirnya masa transisi tersebut, sesuai Pasal 38 ayat 3 PBI No.18/20/PBI 2016 diatur bahwa Bank Indonesia dapat menyampaikan teguran tertulis dan/atau merekomendasikan kepada otoritas berwenang untuk menghentikan kegiatan usaha dan/atau mencabut izin usaha yang diberikan oleh otoritas yang berwenang dimaksud. 

    Dalam melaksanakan pasal tersebut BI bekerja sama dengan POLRI yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman tanggal 1 September 2014 tentang Kerjasama Dalam Rangka Mendukung Pelaksanaan Tugas Dan Kewenangan Bank Indonesia Dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang ditindaklanjuti oleh Pokok-Pokok Kesepahaman (PPK) antara KPw BI Provinsi Jawa Barat dan POLDA Jabar tanggal 30 April 2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerja Sama Dalam Rangka Mendukung Pelaksanaan Tugas Dan Kewenangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat dengan Kepolisan Daerah Jawa Barat, antara lain menyepakati tatacara pelaksanaan penanganan dugaan tindak pidana di bidang sistem pembayaran dan Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA BB).  

    Kegiatan penukaran valuta asing di Jawa Barat pada umumnya dilakukan oleh Penyelenggara KUPVA Berizin, namun demikian patut diduga masih terdapat KUPVA BB tidak berizin. Berdasarkan Data KPw BI Provinsi Jawa Barat sampai dengan bulan Juli 2019, jumlah KUPVA-BB berizin di Provinsi Jawa Barat sebanyak 37 penyelenggara, sedangkan jumlah KUPVA-BB tidak berizin berdasarkan market intelligence sebanyak 5 penyelenggara.  

    KUPVA BB yang tidak berizin dilakukan di Wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi. KUPVA-BB tidak berizin biasanya dilakukan oleh Toko Emas, Pedagang Kelontongan yang merupakan kegiatan usaha sampingan (tidak khusus kegiatan jual/beli UKA) dan terdapat khusus Pedagang Valuta Asing ilegal. Hal ini untuk membantu konsumen/masyarakat yang akan menjual UKA terutama dari para Tenaga Kerja Indonesia (TKI). 

    Pada umumnya KUPVA-BB tidak berizin belum mengetahui adanya peraturan mengenai KUPVA-BB. Sebagai informasi wilayah kerja pengawasan KPw BI Provinsi Jawa Barat,  KPw BI Tasikmalaya, KPw BI Cirebon tidak termasuk Depok, Karawang, Bekasi, Bogor.

    "KPw BI Provinsi Jawa Barat bekerjasama dengan Kepolisian, telah melakukan pendataan, edukasi/sosialisasi dan penanganan pertama kepada KUPVA-BB yang belum berizin di kota dan kabupaten yang ada di wilayah kerja pengawasan KPwBI Provinsi Jawa Barat. Edukasi/sosialisasi tersebut bertujuan untuk menjelaskan ketentuan dan kewajiban perizinan KUPVA BB," kata Kepala KPw BI Jabar Dony P Joewono.

    Selain itu KPw BI Provinsi Jawa Barat juga mendorong dan membantu penyelenggara KUPVA BB tidak berizin untuk segera mengajukan izin sebagai KUPVA BB berizin kepada Bank Indonesia dan tidak dikenakan biaya apapun. Beberapa kendala yang dihadapi penyelenggara KUPVA BB tidak berizin khususnya bagi money changer kecil dan PKL diantaranya kewajiban berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT) dan persyaratan permodalan serta pendidikan formal bagi pengurus (Direksi dan Komisaris). 

    Sampai saat ini dari 5 (lima) KUPVA BB tidak berizin sudah terdapat 2 (dua) KUPVA BB tidak berizin sedang dalam proses perizinan dan yang lainnya masih melakukan konsultasi perizinan. 

    Sejauh ini, pihak-pihak yang ditertibkan telah bersikap kooperatif sehingga kegiatan penertiban dapat berjalan dengan lancar dan kondusif. Pelanggaran yang ditemukan di lapangan selain kegiatan penukaran valuta asing tanpa izin, terdapat pelaku usaha terang-terangan memasang atribut tanda penukaran valuta asing.

    Terhadap 5 (lima) pelaku kegiatan penukaran valuta asing tanpa izin yang terkena tindakan penertiban, telah ditempelkan stiker penertiban sampai dengan yang bersangkutan mengajukan izin usaha kepada Bank Indonesia. Selanjutnya Bank Indonesia telah melakukan monitoring pada tanggal 11 Juli 2019 untuk memastikan pemenuhan komitmen dari pihak-pihak tersebut dengan hasil stiker masih menempel di seluruh area/lokasi usaha masing-masing, sedangkan apabila untuk pihak yang terbukti melakukan pemalsuan tanda izin tentunya akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku. Kepada pihak-pihak yang telah dikenakan pemasangan stiker penertiban di lokasi usaha, dilarang keras untuk merusak, melepas atau memindahkan stiker penertiban dimaksud, dengan ancaman pidana sesuai Pasal 232 KUHP.  

    Kepada masyarakat diimbau untuk selalu menggunakan KUPVA yang telah memperoleh izin Bank Indonesia, dan agar menginformasikan ke kantor Bank Indonesia terdekat atau melalui call center Bank Indonesia 131, jika menemukan pihak-pihak yang diduga melakukan kegiatan penukaran valuta asing tanpa izin Bank Indonesia.  Jo

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus