Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Jumlah Warga Miskin Jabar Turun

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_36022.jpg

    BANDUNG – Jumlah penduduk miskin di Jawa Barat (Jabar) mengalami penurunan yang signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar menyebutkan jumlah penduduk miskin di Jawa Barat per September 2019 mencapai 3,38 juta jiwa (6,82 persen).

    “Terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sekitar 23,27 ribu jiwa dibandingkan Maret 2019. Jika dibandingkan dengan September tahun sebelumnya, jumlah penduduk miskin di Jawa Barat mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu sekitar 163,51 ribu jiwa,” ujar Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Jabar R. Gandari Adianti, Rabu (15/01/2020).

    Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret 2019 – September 2019 jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan maupun perdesaan turun masing-masing sebesar 3 ribu jiwa dan 20,26 ribu jiwa. Persentase kemiskinan di perkotaan turun dari 6,03 persen menjadi 5,98 persen. Sedangkan yang di perdesaan turun dari 9,79 persen menjadi 9,58 persen

    BPS juga menyebutkan jika selama Maret 2019–September 2019, Garis kemiskinan (GK) naik sebesar 3,50 persen yaitu dari Rp. 386.198,- per kapita per bulan pada Maret 2019 menjadi Rp. 399.732,- per kapita per bulan pada September 2019.

    Apabila dilihat berdasarkan tipologi daerah, GK perkotaan naik sebesar 3,41 persen dari Rp. 388.979,- per kapita per bulan pada Maret 2019 menjadi Rp. 402.254,- per kapita per bulan pada September 2019. Sedangkan GK perdesaan mengalami kenaikan sebesar 3,75 persen dari Rp. 376.860,- per kapita per bulan menjadi Rp. 391.009,- per kapita per bulan.

    Garis Kemiskinan terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM), pada September 2019, GKM sebesar Rp. 292.718,- per kapita per bulan. Sedangkan jika dibedakan antara perkotaan dan perdesaan, GKM di perdesaan lebih tinggi dibanding GKM di perkotaan yaitu Rp. 291.607,- per kapita per bulan dibanding Rp 295.872,- per kapita per bulan. Tetapi sebaliknya, untuk GKNM di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan yaitu mencapai 110.647,- per kapita per bulan di perkotaan sedangkan di perdesaan mencapai Rp. 95.137,- per kapita per bulan. GKNM secara total sebesar Rp. 107.014,- per kapita per bulan pada September 2019.

    Namun uniknya, peranan komoditi makanan terhadap GK sangat dominan dibandingkan peran komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan). Hal ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat pada tingkat ekonomi rendah lebih didominasi pengeluaran untuk kebutuhan makanan dibandingkan kebutuhan bukan makanan. Sumbangan GKM terhadap GK pada September 2019 sebesar 72,49 persen di perkotaan dan 75,67 di perdesaan. Secara total peranan komoditi makanan terhadap GK sebesar 73,23 persen.

    Pada September 2019, lima komoditi makanan penyumbang terbesar GK di daerah perkotaan adalah Beras (23,39%), Rokok (11,62%), telur ayam ras (5,22%), daging ayam ras (5,02%), dan mie instan (2,99%). Sedangkan lima komoditi makanan penyumbang terbesar GK di daerah perdesaan adalah Beras (29,16%), rokok (7,85%), telur ayam ras (4,90%), daging ayam ras (4,19%) serta kopi bubuk dan kopi instan (3,43%). Jo

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus