Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    MBA ITB Genjot Literasi Pasar Modal

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_36867.jpg

    BANDUNG – Hingga kini, jumlah investor pasar modal di Indonesia masih rendah. Dari 265 juta penduduk Indonesia, baru 1 jutaan yang memiliki rekening pasar modal atau kurang dari 1 persen. 

    Hal itu disampaikan Direktur MBA Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Subiakto Soekarno, MBA, RFA,OWP, CFP dalam Mega Talkshow Investasi 2020 di Gedung Aula Barat ITB, Sabtu (7/3/2020). 

    Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), tingkat partisipasi masyarakat Indonesia dalam berinvestasi di pasar modal tahun 2017 sekitar 0,2 persen. Angka tersebut jauh di bawah Malaysia sebesar 12,8 persen, China 13,7 persen, dan Singapura 30 persen.

    Subiakto menjelaskan, saat ini, pasar modal Indonesia dikuasai asing. Sebanyak 60 persen pemegang saham di negara ini adalah asing. 

    “Kalau mereka (investor asing) membawa uangnya keluar. Jatuhlah kita. Lain halnya kalau dikuasai investor lokal, kita tidak akan gampang dipermainkan, ketahanan pasar modal kita akan lebih bagus,” tutur Subiakto. 

    Salah satu penyebab rendahnya investor lokal adalah rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap pasar modal. Itulah mengapa MBA ITB menggelar Mega Talkshow Investasi 2020. 

    Lewat acara ini, MBA ITB ingin meningkatkan literasi mahasiswa dan masyarakat tentang pasar modal.

    Bagaimana cara mengetahui dan mendeteksi bandar serta saham gorengan. Kemudian bagaimana cara menganalisis saham secara fundamental, analisa value trap, serta sesi yang tidak boleh terlewatkan, bagaimana perjalanan investasi Lo Kheng Hong dari orang biasa menjadi investor retail terbesar di Indonesia. 

    Subiakto menjelaskan, mahasiswa MBA ITB sejak awal sudah dikenalkan dengan pasar modal. Mereka membuka rekening di pasar modal sebesar Rp 2,5 juta untuk mempelajari pasar modal. 

    Sebenarnya, sambung Subiakto, tidak perlu dana besar untuk aktif di instrumen pasar modal. Saat ini dengan uang Rp 100.000 pun, seseorang bisa aktif di pasar modal. Caranya dengan membeli reksadana saham. 

    “Ada reksadana saham Rp 100.000 per bulan. Gak apa-apa kecil, yang penting rutin. Saat punya uang lebih bisa melakukan top up,” tuturnya. 

    Subiakto mengatakan, banyak alternatif investasi yang bisa dilakukan mahasiswa. Bisa dengan membeli saham, reksadana, obligasi, dan masih banyak lainnya. 

    Mega talkshow ini pun akan menggambarkan beberapa pilihan investasi yang cocok untuk mahasiswa dan kalangan milenial lainnya. Mulai dari risk and returnnya, investasi yang cocok untuk tujuan investasinya, dan lain-lain. 

    Hal tersebut penting diketahui mahasiswa. Karena potensi mereka di pasar modal besar.

    “Mahasiswa itu orang kaya yang tertunda. Mereka nanti akan lulus, punya usaha, dapat gaji. Saat itu tiba, mereka sudah tahu harus menaruh uangnya dimana,” pungkasnya.

    Penanggung jawab acara Mega Investment Talkshow yang juga praktisi investasi saham, Erman Sumirat menyatakan apresiasi untuk Bursa Efek Indonesia, OJK,civitas MBA ITB dan indopremier. acara ini sukses dengan dihadiri oleh 1000 lebih partisipan yang diharapkan menambah jumlah investor retail publik dalam negeri. Dengan kesuksesan ini maka Bursa Efek Indonesia mempercayakan ITB menjadi host acara tahunan Capital Market Summit Expo yang akan dilaksanakan pada tanggal 17-18 April 2020 di Bandung. (Pun)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus