Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Kontribusi LenSOLAR dalam Peningkatan Bauran Energi Listrik Terbarukan Nasional

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_39825.jpg

    Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi listrik masih belum massif dilakukan di Indonesia. Padahal sinar matahari hampir sepanjang tahun dapat dinikmati di wilayah Indonesia. Potensi energi surya di Indonesia sangat besar yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp (BPPT,2009). Namun Pemanfaatan energi surya masih tergolong rendah, di angka 107,8 MW (KESDM,2017).  

    Dukungan teknologi untuk mengubah sinar matahari menjadi listrik juga sudah ada. Dengan menggunakan teknologi sel surya atau fotovoltaik (KESDM,2012).  Namun. secara teknologi, industri photovoltaic (PV) di Indonesia baru mampu melakukan pada tahap hilir, yaitu memproduksi modul surya dan mengintegrasikannya menjadi PLTS, sementara sel suryanya masih impor. Padahal sel surya adalah komponen utama dan yang paling mahal dalam sistem PLTS.

    Khususnya Energi surya, pada tahun 2025 Pemerintah menargetkan 6500MW pemanfaatan Energi Surya dan 45000 MW di tahun 2050.  

    Untuk membangun pembangkit tenaga surya atau PLTS tentunya membutuhkan dana yang sangat besar, ratusan miliar bahkan sampai hitungan triliun rupiah. Namun hal ini sepertinya sudah dapat disiasati dan tidak perlu menggunakan anggaran yang sangat besar. Bahkan tidak perlu menggunakan anggaran dari pemerintah, tetapi swadaya dari masyarakat yang sudah mulai sadar akan pentingnya energi terbarukan.

    Yakni, memasang panel surya di rumah atau perkantoran sebagai pembangkit mandiri. Upaya ini sudah banyak dilakukan oleh masyarakat perkotaan. Baik melalui perusahaan pemasangan panel surya swasta ataupun BUMN, seperti PT Len.

    PLTS Surya Atap atau Rooftop ini merupakan  pembangkit listrik tambahan yang ramah lingkungan dan dibangun diatas atap rumah atau gedung untuk memanfaatkan lahan serta mensuplai energi listrik pada siang hari dan energi yang dihasilkan langsung di suplai ke jaringan listrik setempat hingga dapat mengurangi pemakaian listrik dari PLN.

    Pemasangan PLTS rumahan ini tentunya lebih baik, mengingat tidak terlalu membutuhkan dana yang besar. Cukup tidak lebih dari 10 juta, kita sudah memiliki PLTS mini di atap rumah. Tergantung dari berapa besar daya listrik yang diinginkan, karena tergantung juga dengan jumlah panel surya yang akan dipasang di atap rumah.

    Ujicoba sudah dilakukan sejak 10 tahun lalu, dan produk yang dinamakan LenSOLAR ini akan mulai bisa dipasarkan secara komersil tahun 2019 mendatang.

    Direktur Utama PT Len Zakky Gamal Yasin mengatakan PLTS Rooftop ini sudah cukup banyak dipasang di perumahan dan perkantoran, namun baru secara komersil akan dipasarkan tahun 2019 mendatang. Menurutnya kesiapan produk sudah ada, namun masih menunggu regulasi dari pemerintah.

    Len sudah siap memasang energi surya di perumahan, mulai daya 1.500 watt, 3000 watt hingga 5000 watt. Meski kecil namun jika banyak yang pasang, maka pemanfaatan EBT melalui energi surya ini akan semakin besar.

    Ia mengatakan dengan pemanfaatan energi surya melalui LenSOLAR, akan menghemat pemakaian listrik PLN sekitar 30 persen. Dan karena mirip dengan pembangkit listrik, daya yang dihasilkan tidak akan terbuang percuma.

    “Jika daya kita berlebih, maka akan masuk ke PLN, artinya kita bisa jualan listrik surya ini. Soal hitung-hitungannya masih dibahas,” ujar dia belum lama ini.

    Len saat in memiliki kemampuan untuk memproduksi panel surya, tanpa baterai, dengan kapasitas sebesar 50 Mega Watt Peak (MWp), dari beberapa tahun lalu yang hanya 20 MWp. Dengan kemampuan ini , maka potensi pemanfaatan energi surya di Indonesia akan semakin maksimal.

    Untuk diketahui Len juga sudah memiliki Solar Modul berbagai tipe mulai dari tipe 50, 100, 135, 185, 200, 230, 245, 260 Wattpeak (Wp) dan seterusnya.

    LenSOLAR memiliki daya tertentu untuk setiap panelnya. Satu panel surya bisa memiliki daya 50 Watt hingga 200 Watt, sesuai dengan pesanan dan luas atap untuk dipasangi. Misalnya untuk panel dengan daya 200 Watt, maka diperlukan 10 panel untuk mendapatkan daya 2000 Watt. Ukuran panel memang yang masih menjadi kendala karena cukup besar sekitar satu meter persegi.

    Inilah yang harus disiasati oleh LenSOLAR. Jangan sampai merusak estetika rumah hunian.

    Ada tiga tipe daya yang bisa dipasang LenSOLAR, yakni 1500 watt, 3000 watt dan 5000 watt. PLTS atap rumah buatan BUMN Len ini menggunakan PV Modul dengan tipe panel Polycrystalline. Inverter mengunakan daya listrik 220/230/240 volt, karena tidak menggunakan baterai.

    Meski sebagian besar masyarakat masih menganggap mahal, secara matematis, biaya pemasangan akan kembali setelah lima hingga enam tahun. Dari simulasi yang sudah dilakukan, untuk LenSOLAR dengan daya 1.500 watt, penghematannya (bayar listrik PLN) dapat mencapai 3 juta rupiah per bulan. 

    “Melalui puncak acara HUT ini, sebenarnya kita berdoa bersama-sama, mengumpulkan semangat melalui kebersamaan, agar perusahaan segera bangkit dan secepatnya bisa kondusif dan sehat kembali. Meski kondisi sulit seperti sekarang, PT Len Industri tetap progresif menyelesaikan proyek-proyek yang ditangani dengan pembatasan aktifitas sesuai protokol,” ujar Zakky.

    Yang terbaru, saat ini Len tengah menggarap proyek pemasangan 16.800 titik PJUTS (Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya) mencakup Wilayah Barat (Sumatera, Tangerang, Jawa Barat), Wilayah Tengah (Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan), dan Wilayah Timur (Sulawesi, Maluku, Papua). Pemerintah sendiri melalui Kementerian ESDM menargetkan pemasangan 45 ribu titik PJUTS di 33 provinsi, sehingga masih akan ada peluang lainnya lagi.

    Dalam proyek PJUTS, komponen yang paling memiliki porsi terbesar adalah modul surya sebagai komponen yang menghasilkan dan menyalurkan arus listrik ke lampu dengan memanfaatkan sinar matahari. Modul surya yang digunakan diproduksi sendiri oleh Len Industri dan memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebesar 43,5%. Jo

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus