Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Wagub Jabar Pimpin Tradisi Nyangku

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/wagub-panjalu.jpg

     

    CIAMIS- Kegiatan festival budaya Panjalu yaitu Tradisi Nyangku dipusatkan di situ Lengkong dan di alun-alun Panjalu Kabupaten Ciamis, Selasa (21/2), Wakil Gubernur Jawa Barat H.Dede Yusuf memenuhi keinginan masyarakat Kabupaten Ciamis untuk dapat menghadiri kegiatan tahunan masyarakat Panjalu, sekaligus untuk dapat memimpin prosesi gelar tradisi upacara adat Nyangku, bahkan didaulat membawa pedang pusaka milik raja terakhir Panjalu, Syaidina Ali. Disaksikan Bupati Ciamis, para inohong putra daerah yang berhasil di bidang bisnis atau karir pemerintahan serta ribuan masyarakat setempat bahkan luar daerah, memadati untuk dapat menyaksikan jalannya gelaran tersebut.
     
    Acara Nyangku merupakan prosesi ritual pencucian pusaka milik Kerajaan Panjalu di Situ Panjalu, Kecamatan Panjalu, Ciamis, Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan tradisi rangkaian Maulid Nabi trah Kerajaan Panjalu. Seperti halnya tradisi di kesultanan Cirebon, Grebeg di Yogyakarta. Acara yang biasanya paling diminati dan dinanti ribuan masyarakat adalah kirab benda-benda Pusaka, termasuk  di Panjalu ini yaitu Raja Borosngora Pedang warisan Syaidina Ali, raja terakhir Panjalu yang berguru langsung ke Mekah.
     
    Menurut laporan pihak penyelenggara bahwa kegiatan ini bisa terlaksana setiap tahun, berkat dibentuk Yayasan Borosngora Panjalu Prof.Himendra selaku koordinator pada yayasan tersebut. Inti pada kegiatan Ritual Nyangku tersebut, pihak panitia penyelenggara mengatakan, yaitu untuk membersihkan benda-benda pusaka yang dimiliki oleh kerajaan Panjalu.
     
    Pedang warisan Syaidina Ali yg diserahkan ke Raja Boros Ngora adalah pusaka utama Kerajaan Panjalu yang menjalani ritual pembersihan. Dede Yusuf sebagai trah Kerajaan Panjalu mengatakan, acara Nyangku berasal dari kata Yangko berarti bersih. Dalam bahasa Sunda, nyangku artinya 'nyaangan laku', membersihkan perilaku dari hal-hal yang tidak baik.
     
    Dede Yusuf dalam acara tersebut berpesan "Sesungguhnya yang dicuci adalah pusaka hati diri kita masing-masing. Air yang menyucikan pusaka diambil dari sembilan mata air di Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah," selanjutnya sesungguhnya pembersihan diri dari hawa nafsu dan memperbanyak silaturahmi itu jauh lebih penting makna terkandung pada upacara Nyangku ini.
     
    Wakil Gubernur berharap adanya kegiatan peningkatan perputaran ekonomi di daerah, terlebih Jawa Barat, penuh dengan ragam budaya dapat menjadi tujuan wisata religi, atau festival tahunan yang dapat menarik kunjungan wisatawan mancanegara. 
     
    Sementara itu, pihak panitia penyelenggara dalam laporannya pada acara tersebut mengatakan Ritual Nyangku tersebut sebagai penghormatan yang diawali dengan ziarah ke makam Prabu Hariang Kencana, seorang raja Panjalu atau disebut pangeran Borosngora yang dimakamkan di Situ Lengkong di Desa Panjalu Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis Jawa Barat.
     
    Sanghyang Prabu Borosngora adalah Raja Sunda pertama yang memeluk Islam dan diyakini mendapat ajaran langsung dari menantu Nabi, Baginda Sayiddina Ali di Mekkah Al-Mukarromah. Prabu Borosngora tidak saja mampu mengislamkan warga kerajaan dan masyarakat Panjalu, tetapi juga ke berbagai tempat di tanah air. Ritual Upacara Nyangku merupakan tradisi masyarakat setempat untuk menghormati leluhur Raja Panjalu bernama Borosngora yang biasa dilaksanakan setiap bulan Maulud, pada minggu keempat.
           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus