Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Bencana Hidrometeorologi Sebagain Besar Karena Kerusakan Kawasan Hulu

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_41015.jpg

    BANDUNG - Bencana hidrometeorolgi atau banecana yang diakibatkan air seperti banjir dan tanah longsor, sebagian besar karena kerusakan kawasan hulu. Hal itu diungkapkan Kepala Pelalsana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar Dani Ramdan, dalam talkshow acara Madania TV di Bandung, Rabu (20/1/2021). Menurut Dani, kerusakan kawasan hulu itu mengakibatkan air hujan tak bisa lagi ditahan.

    "Ketika air hujan dengan curah yang tinggi tak bisa lagi ditahan di bagian hulu, maka limpahannya ke hilir dan mengakibatkan banjir, serta pergeseran tanah tebing karena tidak ada lagi penahan air seperti akar tanaman keras" katanya.

    Kerusakan kawasan hulu itu sebagian besar karena ulah manusia juga menurut Dani, seperti pembangunan kawasan hunian di tanah lereng, pertanian sayuran dan rusaknya hutan karena perambahan.

    "Oleh karena itu, salah satu solusinya sebenarnya adalah, area tanah di kawasan hulu itu harus dikuasai pemerintah dan dijadikan kawasan lindung untuk tangkapan air. Tetapi hal itu juga harus dibarengi kesadaran masyarakat untuk tidak lagi merambah" jelasnya.

    Dani memaklumi perambahan bisa terjadi karena kebutuhan hidup masyarakat. Oleh karena itu harus ada pendekatan kesejahteraan terhadap masyarakat, terutama masyarakat yang berada di kawasan hulu.

    "Dengan pendekatan kesejahteraan itu, misalnya dengan pelatihan keterampilan dan lain-lain, maka masyarakat tidak akan lagi merambah hutan untuk kebutuhan hidupnya, dan tidak bisa juga pemodal membuka lahan pertanian tanaman sayur, karena tanahnya sudah dikuasai negara atau pemerintah" papar Dani.

    Dalam acara yang dipandu Hari Maksum itu, Dani juga menyebutkan, untuk mengurangi resiko bencana Pemerintah sudah melakukan upaya-upaya peningkatan kesiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

    "Salah satunya dengan membentuk kaluarga tanggap bencana atau Katana. Keluarga itu dilatih untuk siaga jika menghadapi bencana, seperti menghadapi gempa bagaimana  kebakaran, banjir dan longsor. Karena berdasarkan penelitian, yang paling siaga itu adalah anggota keluarga, lalu orang dekat, komunitas, kemudian baru rescue" pungkasnya. (Pun)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus