Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Herdi Mulyana, Berjuang Mendirikan Sekolah, Kini Menjadi Pendamping Guru Penggerak Nasional

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_42222.jpg

    GARUT- Pendidikan menjadi salah satu bidang penting dalam tatanan kehidupan. Pendidikan hadir untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dari sebuah negara ataupun sebuah daerah. Maka, tak heran pendidikan menjadi salah satu hal yang sangat diperlukan oleh setiap masyarakat.

    Membangun Asa Pendidikan di Daerahnya 

    Hal ini disadari betul oleh pria 42 tahun asal Kecamatan Bayongbong bernama Herdi Mulyana, yang mendirikan sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di daerahnya, guna menunjang pendidikan di tempat tinggalnya.

     “Saya berkuliah di IKIP Bandung dulu, sekarang UPI, lalu saya diangkat jadi Guru tahun 98, ditugaskan di Sukabumi. Ketika kembali ke Garut saya membuat sekolah, kebetulan di kampung tempat tinggal saya itu tahun 2003, 90 persen anak-anak tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMP, karena jaraknya cukup jauh. Anak-anak harus berjalan kaki 1 jam untuk bisa bersekolah di sekolah terdekat di ibukota kecamatan. Karenanya ditahun 2003 itu saya mendirikan sekolah swasta bernama SMP Persada Bayongbong,” ujar Herdi seusai acara Lokakarya Calon Guru Pengerak di Hotel Augusta, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Sabtu (1/5/21).

    Ia mendirikan sekolah guna mencoba membantu masyarakat, karena menurutnya masyarakatnya mempunyai hak untuk mendapatkan akses pendidikan yang mudah.

    “Jadi sekarang ini (sekolah berdiri) sudah 18 tahun. Saya mencoba untuk membantu masyarakat, yang seharusnya memang memiliki hak untuk mendapatkan akses pendidikan yang mudah. Tetapi karena keterbatasan, tentu saja pada waktu itu tidak semua keinginan masyarakat bisa dipenuhi, karenanya saya membuat sekolah,” ucapnya.

    Bahkan, menurut Herdi, sejak sekolah yang ia dirikan tingkat 'Drop Out' (DO) di daerahnya bisa dikatakan hampir hilang, karena 100 persen anak-anak sudah bisa bersekolah, terlebih sekolah yang ia dirikan tidak memungut biaya sepeser pun kepada masyarakat alias gratis. 

    “Alhamdulillah sejak saat itu,  tingkat drop out bahkan bisa dikatakan hampir hilang, 100 persen anak-anak sekarang sudah bisa bersekolah karena jaraknya sangat dekat. Sekolah juga gratis,  sehingga ada beberapa daerah terisolasi di pinggiran Bayongbong dan Cigedug ini pada akhirnya menemukan solusi. Anak-anaknya bisa sekolah tanpa harus menempuh jarak yang cukup jauh,” ungkapnya.

    Ia mengungkapkan, menjadi suatu kebanggan tersendiri tatkala melihat alumni-alumni di sekolahnya mampu menunjukkan dirinya dan memiliki pekerjaan yang bergengsi. 

    “Bagi saya luar biasa, alumni dari sekolah kami sebagian di antaranya sudah mampu menunjukan dirinya sebagai orang-orang yang bertalenta, orang-orang yang sangat kompeten di dalamnya. Bahkan kami memiliki alumni-alumni yang memiliki pekerjaan yang sangat bergengsi,” ungkapnya.

    Herdi menjelaskan, ada salah satu alumninya yang menjadi seorang entrepreneurship yang mendapatakan penghargaan tingkat ASEAN. 

    “Salah satunya saya punya alumni dari lulusan sekolah kami namanya ini Yusep Maulana, salah satu founder Mobidu di Garut. Dia salah seorang entrepreneurship yang namanya tidak hanya berskaliber nasional di dunia IT, tapi dia juga pernah mendapat penghargaan sebagai entrepreneurship muda tingkat ASEAN, itu salah satunya,” jelas Herdi.

    Herdi memaparkan, hal ini menjadi salah satu alasan ia tertarik untuk mendaftarkan diri sebagai pendamping Guru Penggerak di Kabupaten Garut. 

    “Tapi yang paling membanggakan tentu saja ketika mereka bisa mendapatkan ilmu, lalu mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Tentu bagi kami sangat membanggakan sebagai seorang guru, itu juga yang membuat saya akhirnya tertarik untuk mendaftarkan diri sebagai pendamping. Saya ingin mencoba berbagi pengalaman, berbagi pengetahuan dengan guru-guru muda, dengan guru-guru terbaik di Kabupaten Garut,” paparnya.

    Sementara itu, salah satu alumni yang disebutkan oleh Herdi yakni Yusep Maulana (26), mengungkapkan, sosok Herdi, sang kepala SMP Persada, merupakan salah satu panutannya. 

    “Pak Herdi itu adalah salah satu panutan saya sewaktu pertumbuhan saya menuju dewasa. Waktu itu kan di SMP Persada, beliau adalah kepala sekolahnya. Saya siswanya angkatan kedua. Waktu itu Persada penuh dengan keterbatasan. Sekolahnya hanya dua rombel (rombongan belajar),saya kebagian kelas siang sampai sore," ujar Yusep melalui pesan singkat, Minggu (2/5/21).

    Ia menuturkan, bahwa panutannya selalu menanamkan kepada para siswanya untuk terus bermimpi.  Walaupun di kampung harus tetap berprestasi.

     "Di sana banyak hal yang saya dapatkan, terutama mempelajari tentang kesederhanaan, kita diajak untuk bermimpi. Itu kalimat yang selalu Pak Herdi tanamkan. Meskipun di kampung, kita mampu untuk berprestasi. Kemudian ketika ada keinginan dari siswa untuk meningkatkan kreativitas seperti musik, seni, bahkan ke dunia teknologi beliau selalu mendukung, bahkan dia beli komputer pentium 3 dulu itu, pake uang dia sendiri dan dipakai oleh siswa, salah satunya oleh saya," ucapnya.

    Yusep berharap sang panutannya bisa terus mengembangkan dunia pendidikan di Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut. 

    “Sampai detik ini saya masih dengan beliau di Yayasan Persada. Mudah-mudahan bisa berkembang, dalam perkembangan dunia pendidikan di Desa Pamalayan, umumnya di Kabupaten Garut untuk selalu berkolaborasi dengan dinas juga untuk mengembangkan pendidikan," harap Yusep.

    Terjun Menjadi Pendamping Guru Penggerak

    Guru Penggerak merupakan bagian program merdeka belajar yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, dengan tujuan esensialnya yakni untuk mendorong para guru di Indonesia meningkatkan kompetensinya sebagai guru profesional. 

    “Jadi di tahun 2020 itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai bagian dari program merdeka belajar, mewujudkan atau meluncurkan program Guru Penggerak. Salah satu tujuan esensial dari program ini adalah mendorong para guru di Indonesia agar lebih meningkatkan kompetensinya sebagai guru profesional, sesuai dengan amanat Undang-Undang Pendidikan Nasional, dan Undang-Undang Guru dan Dosen,” ucap Herdi.

    Ia menuturkan ada banyak elemen dalam Guru Penggerak ini. Namun ia mengikuti tes sebagai seorang Pendamping Guru Penggerak.

    “Ada banyak elemen di Guru Penggerak ini, saya mengikuti tes untuk menjadi pendamping, jadi para pendamping itu salah satu tugasnya mendampingi para calon Guru Penggerak, melewati proses pelatihan dan pembelajaran. Tentu saja proses pendampingan ini berlangsung secara berkesinambungan, setiap satu bulan satu kali saya datang ke sekolah, mengamati, berdiskusi, tentang program-program pembelajaran yang sudah dilakukan oleh Guru Penggerak, sekaligus juga kita mengamati rencana-rencana aksi diimplementasikan oleh Guru Penggerak itu di sekolahnya,” tuturnya.

    Pria asal Bayongbong ini menyebutkan bahwa ia menjadi salah seorang yang terpilih menjadi Pendamping Guru Penggerak, dari 44 ribu orang mengikuti tes Pendamping Guru Penggerak ini. 

    “Saya mengikuti tesnya, bersama ribuan bahkan puluhan ribu kalo tidak salah, angkatan pertama itu pendamping yang mendaftarkan diri 44 ribu orang, dan yang dibutuhkan di Garut saja ini hanya 19 orang untuk angkatan pertama ini,  dan saya termasuk salah satunya,” kata Herdi.

    Herdi mengungkapkan bahwa seleksi untuk menjadi Pendamping Guru Penggerak ini sangat ketat, karena panitia melibatkan asesor dari luar Kemendikbud untuk menghasilkan kualifikasi yang diharapkan.

    “Seleksinya tentu saja sangat ketat, portofolio kita disampaikan secara daring, kita juga mengikuti sejumlah tes beberapa tahap dan diakhiri dengan tes wawancara, jadi tesnya sangat ketat. Tesnya juga berlangsung secara independen, karena para panitia ini melibatkan para asesor dari luar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk hasilnya itu benar-benar memilki kualifikasi yang diharapkan,” ungkapnya.

    Selain fokus terhadap Guru Penggerak, Herdi mengatakan, Kabupaten Garut juga memiliki prioritas lain yakni terkait Sekolah Penggerak. Ia mengapresiasi Bupati Garut, Rudy Gunawan, karena menjadi orang terdepan yang mendorong kepala sekolah untuk mengikuti sekolah penggerak. 

    “Di Garut itu sebetulnya sudah jadi prioritas dua program utama dari Kemendikbud, yang pertama adalah program Guru Penggerak, yang diikuti para guru, yang kedua yang sekarang adalah Sekolah Penggerak yang diikuti para kepala sekolah. Saya sangat mengapresiasi Pak Bupati,  Pak Haji Rudy Gunawan, yang justru menjadi orang terdepan untuk mendorong para kepala sekolah di Kabupaten Garut, mengikuti kegiatan ini, dan ini sangat luar biasa. Jadi dukungan dari pemerintah daerah dalam hal ini Pak Bupati, Pak Kepala Dinas beserta jajarannya sangat luar biasa,  sehingga program-program pemerintah yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi guru termasuk didalamnya kepala sekolah, ini bisa berjalan dengan baik,” katanya.

    Potensi Guru di Kabupaten Garut

    Herdi menjelaskan Kabupaten Garut memiliki potensi guru yang sangat luar biasa, meskipun dengan keterbatasan yang ada. 

    “(Potensi guru di Kabupaten Garut) sangat luar biasa, 5 bulan berjalan, para calon guru penggerak ini digembleng dengan berbagai ragam ilmu-ilmu baru, termasuk untuk keterampilan-keterampilan baru, meskipun dengan keterbatasan mereka mampu menaklukannya,” jelas Herdi.

    Ia menuturkan, ada salah seorang guru yang berasal dari pedalaman Kecamatan Cikelet, ia mampu bersaing dengan guru-guru yang ada di kota, bahkan ia terpilih sebagai Calon Guru Penggerak di Kabupaten Garut.

    “Saya ini mendampingi seorang calon Guru Penggerak di pedalaman Kecamatan Cikelet, yang jaraknya itu sangat jauh, bukan hanya dari Garut, tapi dari Pameungpeuk juga cukup jauh.Di sebuah daerah yang berada di pinggiran, tapi dia mampu membuktikan diri bisa bersaing dengan guru-guru lain dari kota, dan dia terpilih menjadi Calon Guru Penggerak. Jadi kalau untuk potensinya,  potensi guru-guru di Kabupaten Garut, untuk menjadi guru penggerak itu sangat luar biasa, tinggal didorong, difasilitasi, dan diberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para Guru untuk berkembang dan menunjukan eksistensinya,” tuturnya.

    Herdi memberikan pesan kepada para guru untuk tetap konsisten dan tetap berjuang dalam mendidik para siswa, karena kebaikan nantinya akan dibalas oleh Allah SWT. 

    “Sesungguhnya ketika pilihan seseorang menjadi guru itu bukan pilihan pekerjaan, tapi adalah panggilan hati, panggilan jiwa. Karenanya saya ingin menitip pesan kepada seluruh guru di Kabupaten Garut, tetap konsisten, tetap berjuang,  dan kita harus selalu meyakini semua kebaikan yang kita torehkan itu akan berbalas pahala dari Allah SWT, tetap semangat semuanya untuk para guru,” papar Herdi.

    Di moment Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini, ia mengajak untuk kembali mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran Ki Hajar. 

    “Jadi saya mewakili rekan-rekan pendamping Guru Penggerak, juga para calon Guru Penggerak di Kabupaten Garut, memohon dukungan dari seluruh stakeholder pendidikan,  mari kita bergerak bersama untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik, baik di Garut dan juga tentunya di tingkat nasional. Selamat Hari Pendidikan Nasional, mari kembali kita akutualisasikan nilai-nilai ajaran Ki Hajar Dewantara, salah satunya kita akan selalu menjadi guru yang menghamba kepada siswa, dan mengutamakan murid sebagai subjek pembelajar.” tuturnya.

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus