Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Tiga Indikator Penentuan Zona COVID-19

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_42808.jpg

    Kab. Garut -- Belakangan ini masyarakat sudah familiar dengan istilah zona merah, oranye, kuning, dan hijau terkait penyebaran COVID-19 di Indonesia, tidak terkecuali di Kabupaten Garut. 

    Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Garut Asep Surahman mengungkapkan, ada tiga indikator dan 14 subindikator dalam penentuan zonasi warna kewaspadaan COVID-19.

    Asep mengatakan zonasi ini sangat penting untuk menetapkan level kewaspadaan suatu daerah. 

    “Zonasi ini sangat penting untuk menetapkan level kewaspadaan suatu daerah, di sini ada zonasi kuning, merah, oranye, (dan) hijau. Kebetulan sampai saat ini Garut tidak ada yang zona hijau, semua kecamatan menyatakan zona kuning, oranye, dan merah,” ujar Asep, di Kantor Dinkes Garut, Jalan Proklamasi, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Selasa (22/6/2021).

    Asep menuturkan, saat penentuan zonasi ini pihaknya bisa mengerjakannya dari pagi dan baru selesai pada malam hari. 

    “Penentuan warna ini tidak semudah untuk menggambarkan, itu ada indikatornya. Ada 3 indikator dan 14 subindikator, jadi kalau saya menghitung dari pagi-pagi itu malam baru selesai, apalagi dengan kasus sekarang per minggu itu banyak sekali,” ucapnya.

    Ia menjelaskan, indikator tersebut diisi dengan data yang diperoleh dari kegiatan surveilans yang meliputi tracing, tracking, dan testing, hingga akhirnya muncul angka-angka zonasi atau zona risiko. 

    “Data ini berasal dari kegiatan surveilans yaitu meliputi tracing, tracking, dan testing.  Ada variabel berapa yang positif satu minggu ini, berapa yang suspek, berapa yang meninggal, berapa yang sembuh, berapa sampel yang diambil dalam seminggu, dan berapa angka laju insiden, ada 14 variabel sehingga ketika di kompositkan merupakan agregat dari 14 subvariabel tadi, sehingga muncul angka-angka zonasi atau zona risiko,” jelas Kabid P2P Dinkes Garut.

    Ketika angka zonasi atau zona risiko sudah ada, lanjut Asep, maka pihaknya bisa menetukan warna atau level kewaspadaan suatu daerah, dengan kategori zona merah saat angkanya kurang dari 1.9, zona oranye saat skornya berada di angka 1.9 sampai 2.4, dan zona kuning saat skornya 2.4 ke atas. 

    Ia memaparkan, saat seseorang sadar berada di posisi zona merah, seharusnya ia lebih wanti-wanti dan waspada ketika melakukan aktivitas keluar rumah. 

    “Semakin sadar orang berada di posisi zona merah, maka dia akan semakin wanti-wanti, semakin waspada terhadap aktivitas yang akan dia lakukan, misalkan dia ke pasar udah hati-hati nih, jangan terlalu lama (atau) misalkan dibatasi saja jangan ke pasar, cukup pakai jasa pengiriman” terang Asep.

    (Editor: Fauziah)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus